Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Menjadi Mukmin Sejati Sesuai QS. Al-Anfal Ayat 2-4

mukmin sejati
Sumber: https://www.tehreekdawatefaqr.com

Iman secara bahasa berarti “percaya”. Ketika dikaitkan dengan Islam, iman biasanya didefinisikan dengan; “Mempercayai dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan melakukan dengan perbuatan.” Orang yang beriman disebut mukmin sejati.

Di dalam Al-Qur’an, Allah menyebutkan sifat-sifat dari orang mukmin sejati, tepatnya pada QS. Al-Anfal ayat 2-4 yang berbunyi:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُه زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ (٢) الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۗ (٣) اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّاۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌۚ (٤)

Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinnya. dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal. (2) (yaitu) orang-orang yang melaksanakan salat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.(3) Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat (tinggi) di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (4)

***

Ayat tersebut menyebutkan secara gamblang sifat-sifat seorang mukmin sejati. Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menyebutkan ada 5 sifat mukmin sejati; yang terdapat pada ayat tersebut yaitu:

  1. ​Rasa takut yang sempurna terhadap Allah. Orang-orang yang apabila mereka mengingat Allah dengan hati mereka; merasakan keagungan, dan kebesaran- Nya serta ingat atas pahala dan siksaan-Nya mereka akan merasa takut kepada-Nya.
  2. ​Bertambahnya keimanan dengan membaca Al-Qur’an. Orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Al-Qur’an; keimanan dan keyakinan mereka akan bertambah dan mereka akan semakin bersemangat mengerjakan amal saleh karena banyaknya dalil. Dan seringnya dalil itu dibacakan akan membuat keyakinan bertambah dan kuat.
  3. ​Bertawakal kepada Allah, artinya berpegang dan percaya serta menyerahkan se- gala sesuatu hanya pada-Nya. Orang-orang yang hanya bertawakal dan mengadu kepada Tuhannya, tidak berharap kepada selain-Nya, tidak meminta berbagai ke- butuhan kecuali kepada-Nya.
  4. ​Mengerjakan shalat, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat. Artinya mengerjakannya dengan rukun dan syarat yang sempurna seperti berdiri, rukuk, sujud, membaca ayat dan zikir-zikir di waktu-waktu yang telah ditentukan oleh syari’at diserta hati yang khusuk, munajat kepada Allah.
  5. ​Berinfak di jalan Allah, yaitu orang-orang yang menginfakkan sebagian harta mereka di jalan-jalan kebaikan baik yang bersifat wajib maupun sunnah, Semua. itu mesti dilakukan karena harta hanyalah pinjaman dan titipan dari Allah.
Baca Juga  Tafsir Tematik (9): Bahaya Zina

Amal-amal ini sudah mencakup seluruh bentuk kebaikan. Oleh karena itu, setelah menjelaskan hal tersebut, Allah SWT berfirman “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman…”, Wahbah Az-Zuhaili menerangkan bahwa dalam ayat tersebut digunakan dhamir أُو۟لَـٰۤىِٕكَ yang pada dasarnya digunakan untuk menunjuk yang jauh sebagai isyarat terhadap kesempurnaan iman mereka dan tingginya derajat mereka.

Pakar tafsir Abu Hayyan menerangkan bahwa telah disebutkan amal-amal baik orang-orang mukmin yang terdiri dari tiga hal pokok. Pertama, amal kalbu, berupa hati yang gemetar, pertambahan iman, dan penyerahan diri kepada Allah. Kedua, amal badaniyah berupa shalat. Ketiga, amal harta berupa infaq dan zakat.

***

Maka sebagai imbalannya disebut pula tiga hal, untuk amal kalbu imbalannya adalah ketinggian derajat, untuk amal badan adalah maghfirah/pengampunan Ilahi, dan untuk amal harta adalah karim, yakni pelimpahan kemurahan Ilahi.

Ayat Ini berarti pula apabila salah satu dari kelima sifat tersebut tidak disandang, maka yang bersangkutan tidak dapat dinamai mukmin sejati. Namun perlu digarisbawahi, bahwa hal tersebut bukan berarti yang tidak memenuhinya otomatis tidak beriman, atau tidak mencapai salah satu dari peringkat iman yang memadai. Hanya saja dia bukan mukmin yang haq.

Disebut pula dalam satu riwayat bahwa al-Hasan al-Bashri pernah ditanya: “Apakah anda mukmin?” Beliau menjawab: “Iman terdiri dari dua tingkat, jika Anda bertanya tentang iman kepada Allah, malaikat, kitab, dan rasul-Nya, surga, neraka, kebangkitan dan hisab/perhitungan, maka saya adalah seorang mukmin, tetapi apabila anda bertanya berkaitan dengan firman Allah menyangkut ayat 2 surah al-Anfal, maka demi Allah saya tidak tahu apakah saya termasuk mereka atau tidak”.

Menjadi seorang yang beriman tidak begitu susah karena cukup dengan meyakini rukun iman, tetapi menjadi seorang mukmin sejati membutuhkan komitmen yang kuat. Semoga kita tidak hanya menjadi seorang yang beriman tapi mampu menjadi seorang mukmin sejati sebagaimana terkandung dalam QS. Al-Anfal ayat 2-4.

Baca Juga  Pemaknaan Ayat Cahaya (1): Pentingnya Melibatkan Nalar Irfani