Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Memahami Cara Kerja Hemerneutika Wilhelm Dilthey

Sumber: kompasiana.com

Dalam hidup bisa dipastikan bahwa manusia akan selalu menemui hal hal baru yang memerlukan pemahaman dari setiap hal yang dia temukan. Oleh sebab itu munculah berbagai teori-teori maupun metode untuk menjelaskan maknanya, salah satunya adalah Hermeneutika. Hermeneutika adalah sebuah ilmu yang digunakan untuk mengungkap suatu makna dibalik syimbol yang menjadi objeknya. Salah satu tokoh hermeneutika adalah Wilhelm Dilthey dengan pembagian 3 pengalaman

Wilhelm Dilthey yang lahir pada tanggal 18 November 1833 di Beibrich yang berada ditepi sungai Rainz dekat dengan kota Mainz. Ayahnya adalah seorang pendeta protestan sedangkan ibunya adalah seorang putri dirigen. Ayahnya berharap dithey bisa menjadi pendeta namun dilthey terpengaruh oleh dua sejarawan ulung yaitu Jacob Grimm dan leopold van Ranke yang mengalihkan mintanya kedalam bidang sejarah dan filsafat.

Latar Belakang Hermeneutika Dilthey

Dilthey terkenal dengan filsafat hidupnya bahwa manusia adalah serangkaian pengalaman yang menjadi sejarah bagidirinya sendiri dan dipahami secara menyeluruh. Dilthey mengungkapkan bahwa filsafat merupakan ilmu yang harus ada dalam memahami sejarah. Ia membagi ilmu pengetahuan menjadi dua bagian yaitu natur secience (Naturwissenschaften); atau ilmu pasti yang penerapanya menggunakan metode sains yang  sangat ketat dengan adanya hasil yang harus dibuktikan menggunkan laboratorium. Kedua human secience (Geisteswissenschaften) yaitu ilmu yang berkaitan dengan hal batin pada diri manusia ciri dari ilmu ini yaitu menggunakan pemahaman (verstehen) sebagai alatnya.

Hermeneutika dilthey dibagi menjadi 3 pertama yaitu Erlebins atau pengalaman. Yang dimaksud pengalaman disini bukanlah pengalaman masa lalu atau kenangan masa lalu. Tapi pengalaman yang dialamai oleh seseorang secara langsung baik itu pengamatan secara langsung atau pengalaman dari orang lain yang kita transposisikan kedalam diri kita.

Baca Juga  Hermeneutika Derrida: Tidak Boleh Ada Tafsir yang Dominan

Kedua Ausdruck atau eskpresi, yang dimaksud ekspresi disini bukanlah teori ekspresi seni karena konsep ekspresi disini memggunakan objek subjek yang lebih luas jadi maksud ekspresi disini adalah ekspresi hidup yang mencerminkan produk kehidupan manusia secara menyeluruh. Ketiga Verstehen atau pemahaman. Yang dimaksud disini tidak hanya pengalaman yang melibatkan pikiran tapi juga pemahaman ekspresi dan pengalaman hidup yang berbeda makna.dan perbedaan antara eklaren dan verstehen terkadang juga mempengaruhi dua hal diatas.

Cara Penerapan Hermeneutika Dilthey

1. Interpretasi Data. Dalam dalam memahami suatu objek para ilmuwan menggunakan pendekatan fisik, namun cara ini tidak bisa di terapkan pada manusia, karena pikiran manusia bersifat batin dan tidak bisa dilihat secara fisik. Hermenutika sebagai sebuah metode interpretasi manusia memerlulan sebuah aturan untuk memahami, menyederhanakan dan memper singkat proses. Namun hal ini tidak mejamin keberhasilan karena hermeneitika terbentuk dari adanya ketidak puasan pada aturan atau  metode sebelumnya.

2.   Riset sejarah. Dalam riset sejara dilthey meletakan 3 komponen pokok yakni memahami gagasan pelaku asli. Memahami gagasan penulis yang terhubung langsung dengan peristiwa sejarah. Dan menilai peristiwa tersebut dengan nilai-nilai yang berlaku semasa sejarawan hidup.

Dilthey memiliki 3 cara untuk memahami perilaku sejarah namun cara ini tidak berlaku untuk metode ilimiah karena memerlukan ilmu psikologi dan antropologi. Pemahaman manusia terbentuk dari sebuah pola tertentu. Namun adakalanya pola tersebut keluar dari batasan-batasan yang ditentukan karena kebebasan berpikir,parsangaka atau penggunaan bahasa. Tidak ada pelaku sejarah yang bebas pengandaian, karena semua terikat oleh ruang, waktu, dan ideologi. Oleh karena itu penting untuk menyusun kerangka kembali yang dibuat oleh penulis dan menjadi bagian dari peristiwa sejarah itu sendiri ketika kita membaca sejarah.

Baca Juga  Mengenal Muhammad Syahrur dan Teori Hermeneutikanya

Editor: An-Najmi