Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Teori Penggambaran Buah Khuldi Menurut Al Qu’ran dan Tafsir

Buah khuldi
Gambar: gurubagi.com

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, buah khuldi sering kali diartikan sebagai buah larangan yang dimakan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa selama di surga. Buah khuldi berasal dari kata “khuld” yang berarti kekal. Tentu saja masyarakat selama ini banyak beranggapan bahwa buah khuldi yang dimakan oleh Nabi Adam dan siti Hawa ialah buah seperti halnya apel atau semacamnya.

Namun, menurut definisi yang dikemukakan para ahli tafsir, buah khuldi banyak didefinisikan menjadi berbagai macam teori di dalam kajian penafsiran. Ada yang beranggapan bahwa buah khuldi merupakan sebuah metafora dan filosofi sejarah terbentuknya populasi umat manusia di muka bumi. Lantas digunakan sebagai pelajaran bagi umat manusia agar tidak mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam dan siti Hawa.

Dari kisah itu pula, dijelaskan bahwa manusia merupakan mahluk yang penuh dengan kekurangan dan kesalahan. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi:

وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ

Artinya: Dan Kami berfirman: “Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim (QS. Al-Baqarah: 35).

Ayat di atas, dijelaskan wahai Adam! Tinggallah kamu bersama istrimu (Hawa) di dalam surga. Makanlah apa yang ada di dalamnya dengan senang hati dan leluasa, tanpa merasa terganggu. Di mana saja di dalam surga. Tetapi jangan sekali-kali kalian berdua makan dari pohon ini yang terlarang ini, karena (jika memakannya) kalian berdua akan termasuk ke dalam golongan orang-orang yang zalim akibat membangkang perintah-Ku.

Baca Juga  Adab Berkendara di Jalan: Bagaimana Tinjauan Islam?

Perihal Buah Khuldi yang Diperbincangkan

Khuldi adalah nama tumbuhan yang menyebabkan Nabi Adam dan Siti Hawa diturunkan di muka bumi. Dalam ranah sains, buah khuldi hanya dianggap sebagai teori penggambaran terbentuknya populasi umat manusia. Bagaimana pun juga, tentu dijadikan sebagai penyempurna terbentuknya ekosistem dan rantai makanan selain berkembangnya hewan dan tumbuhan.

Banyak teori lain beranggapan bahwa buah khuldi hanyalah khayalan karena tidak diketahui bagaimana bentuknya. Akan tetapi buah inilah yang melatarbelakangi berdirinya sejarah peradaban manusia di muka bumi. Teori selanjutnya mengambarkan bahwa buah khuldi bukanlah buah, tetapi buah khuldi merupakan penggambaran puncak dari surga. Karena dengan buah tersebut, Adam dan Hawa melupakan surga.

Allah telah melarang mereka berdua agar tidak mendekatinya. Karena belum waktunya bagi mereka untuk mengetahui tentang puncak yang dapat diartikan sebagai kekekalan dalam surga serta menikmati segala yang di dalamnya. Dengan kesalahan tersebut, Allah menghukum Nabi Adam dan Siti Hawa dengan menurunkannya ke muka bumi. Allah mengatakan bahwa kelak mereka pasti akan dibangkitkan dan kembali ke surga serta kekal di akhirat nanti.

Refleksi yang terkandung dalam buah khuldi ini menjelaskan tentang perintah dan larangan Allah yang sudah tercipta sebelum adanya manusia. Bahkan, muasal perkembangan populasi manusia di muka bumi. Tentu diartikan sebagai teori buah khuldi adalah pembuahan manusia yang berarti Allah melarang Nabi Adam membuahi Siti Hawa di surga yang akan menyebabkan kehamilan. Sehingga Nabi Adam dan Siti Hawa beranak cucu di surga.

Turunnya Adam ke Bumi adalah Bagian dari Skenario Allah

Karena sesungguhnya tujuan Allah menciptakan Nabi Adam ialah menjadikannya khalifah di muka bumi. Dapat kita bayangkan jika Allah tidak menurunkan Nabi Adam dan Siti Hawa ke muka bumi. Tentu membiarkannya beranak cucu di surga. Maka tujuan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi akan hilang.

Baca Juga  Nisyan dan Sebab-Sebab Lupa dalam Al-Quran

Jika kita berfikir lagi tentang hasutan iblis, iblis hanya mengatasnamakan khuldi dengan arti keabadian hanyalah diksi iblis agar Nabi Adam dan Siti Hawa tertarik dalam memakannya. Ada pula yang beranggapan bahwa dengan memakan buah khuldi, maka bisa membangkitkan hawa nafsu ragawi yang melekat dengan unsur tanah

Ada pula yang beranggapan bahwa buah khuldi adalah ujian bagi Nabi Adam dan Siti Hawa sebab ketaatan kepada Allah ialah harga mati. Meski sudah menggaris takdirkan tentang Adam dan anak cucunya sebagai khalifah. Adanya kehidupan di muka bumi merupakan bagian sekenario yang telah diciptakan oleh Allah sebelum alam semesta di ciptakan.

Setelah Allah menciptakan Adam di surga banyak protes yang diajukan oleh malaikat dan iblis kepada Allah. Malaikat mengemukakan bahwa, “Apakah malaikat kurang bektakwa dan taat kepada Allah, sehingga menciptakan manusia yang hanya akan menyebabkan kerusakan dan pertumpahan darah di bumi?” Allah menjawab, “Aku lebih mengetahui dari engkau”.

Allah juga telah menciptakan iblis sebagai pemeran antagonis dari sekenario tersebut. Iblis menyadari bahwa Adam dan Hawa diciptakan sebagai khalifah di muka bumi bukan khalifah di surga. Jika tercipta populasi di surga, maka hilanglah sekenario yang dibuat oleh Allah. Dengan begitu, iblis menghasut Nabi Adam dan siti Hawa agar melanggar ketentuan yang dibuat oleh Allah dengan memakan buah khuldi.

Kesimpulan

Maka dari itu, Allah menurunkan Nabi Adam dan siti Hawa di muka bumi sebagai hukuman atas kesalahan yang mereka perbuat di surga. Secara tidak langsung peristiwa inilah yang melatarbelakangi terciptanya populasi manusia di muka bumi dan terlaksananya sekenario Allah yang menakdirkan manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Baca Juga  Pesan Moral Q.S. Al-Mumtahanah (60): 8 Perihal Sumbangan Non-Muslim

Penyunting: Bukhari