Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ziauddin Sardar dan Penafsirannya Terhadap Al-Qur’an

Sumber: https://en.qantara.de

Penafsiran terhadap Al-Qur’an terus dilakukan, seiring dengan perkembangan zaman dan problematika baru yang menyertainya. Metode dan pendekatan dalam penafsiranpun terus berkembang. Pada periode klasik, para ulama menggunakan metode tahlili dengan pendekatan tekstual dalam menafsirkan Al-Qur’an. Seiring berkembangnya zaman, metode itu dirasa tidak mampu menghasilkan penafsiran yang mampu berdialog dengan zaman. Maka dari itu, ulama kontemporer menggunakan metode tematik dengan pendekatan kontekstual. Salah satu ulama yang menggunakan metode itu adalah Ziauddin Sardar.

Biografi Singkat Ziauddin Sardar

Ziauddin Sardar lahir di Pakistan pada tanggal 31 Oktober 1951. Di umurnya yang ke- sembilan tahun, ia pindah ke Inggris bersama keluarganya. Sardar tumbuh di lingkungan keluarga yang cinta terhadap Al-Qur’an. Hubungannya dengan Al-Qur’an terjalin sejak kecil. Adalah ibunya yang mula-mula mengenalkan Sardar dengan Al-Qur’an. Di masa remajanya, ia banyak menghabiskan waktu untuk menelaah ayat-ayat Al-Qur’an.

Kemudian, di bangku kuliah, ia terlibat aktif di beberapa organisasi mahasiswa Islam. Di dalam organisasi-organisasi itu ia belajar Al-Qur’an secara sistematis menggunakan beberapa kitab tafsir klasik dan modern di bawah bimbingan seirang ulama. Ia juga pernah bergabung dengan Federation of Student Islamic Societis serta terlibat dalam penerbitan majalah The Muslim.

Reading The Qur’an

Buku yang berjudul Reading The Qur’an: The Contemporary Relevance of The Sacred Text of Islam, merupakan satu-satunya karya Ziauddin di bidang Al-Qur’an.

Meskipun Sardar telah melakukan penafsiran terhadap Al-Qur’an yang telah dituangkannya ke dalam buku tersebut, tapi beberapa orang enggan menyebutnya sebagai mufasir. Pasalnya, ketika Sardar mengkaji Al-Qur’an, ia selalu menggunakan terjemahan. Karena menurut pengakuannya, ia tidak mahir dalam berbahasa Arab. Dengan kata lain, Sardar hanya melakukan penafsiran terhadap terjemahan Al-Qur’an (tafsir), bukan menafsirkan Al-Qur’an.

Baca Juga  Tafsir Qur’an Al-Huda: Tafsir Bahasa Jawa Karya Bakri Syahid (2)

Terlepas dari itu, menurut Sardar terjemahan bisa membuka pemahaman pembaca mengenai makna dasar Al-Qur’an. Oleh karena itu, ia sangat selektif dalam memilih terjemahan, ini dimaksudkan agar pemahamannya terhadap makna dasar Al-Qur’an tidak keliru. Ia hanya menggunakan enam terjemahan Al-Qur’an yang menurutnya rasional dan nonsektarian.

Enam terjemahan itu adalah:  1. Terjemahan Al-Qur’an karya Muhammad Asad, 2. Terjemahan Al-Qur’an karya Abdel Haleem. 3. Terjrmahan Al-Qur’an karya Thariq Khalidi. 4. Terjemahan Al-Qur’an karya Yusuf Ali. 5. Terjemahan Al-Qur’an karya Pickthall. 6. Terjemahan Al-Qur’an karya Arberry.

Syarat Sebelum Menafsirkan Al-Qur’an

Para ulama berbeda pendapat mengenai syarat-syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum melakukan penafsiran terhadap Al-Qur’an. Ada ulama yang sangat ketat dalam mengemukakan syarat-syarat tersebut, seperti As-Suyuthi. Ia menyebut setidaknya ada lima belas syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang sebelum menafsirkan Al-Qur’an.

Mulai dari Ilmu bahasa Arab, nahwu, sharaf, pengetahuan tentang isytiqaq (akar kata), ilmu ma’ani, ilmu bayan, ilmu badi’, ilmu qira’at, ilmu ushuluddin, ilmu ushul fiqh, pengetahuan tentang azbabun nuzul, pengetahuan tentang nasikh dan mansukh, ilmu fiqih, pengetahuan tentang hadits, dan ilmu mauhibah. Syarat-syarat tersebut terlihat sangat ketat, sehingga menyebabkan banyak orang merasa tidak percaya diri dan enggan untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Selain itu ada pula ulama yang mengemukakan beberapa hal yang harus dihindari dalam penafsiran, sebagai ganti dari syarat-syarat mufassir. Adalah M. Qurais Shihab, yang menyebut ada enam hal yang harus dihindari dalam penafsiran. Jika hal itu dilanggar, maka penafsirannya akan keliru.

Enam hal yang harus dihindari itu adalah; subjektivitas mufassir, tidak memahami konteks ayat, tidak mengetahui siapa pembicara, siapa yang diajak bicara, dan siapa yang dibicarakan, pemahaman yang tidak mendalam terhadap ilmu alat (diantaranya bahasa), keliru dalam menerapkan metode dan kaidah, serta kedangkalan pemahaman tentang materi uraian ayat.

Baca Juga  Hijab Tanpa Agama

Syarat Menurut Ziauddin Sardar

Berbeda dengan dua pendapat di atas, menurut Ziauddin, seseorang tidak membutuhkan syarat tertentu untuk mengkaji dan menafsirkan Al-Qur’an. Menurutnya, persyaratan-persyaratan yang dikemukakan oleh para ulama telah menghambat kebebasan berfikir dan kreatifitas umat Islam. Sardar juga mengungkapkan bahwa umat Islam tidak membutuhkan izin dari seorang ulama, atau pemegang otoritas, untuk menafsirkan Al-Qur’an.

Bagi Ziauddin Sardar, ketika peluang untuk mengkaji Al-Qur’an dibuka lebar-lebar tanpa persyaratan yang ketat, maka akan terbuka peluang terungkapnya potensi alternatif dan demokratis yang dimiliki suatu komunitas. Karena pada dasrnya, Al-Qur’an adalah teks yang bersifat terbuka bagi semua kalangan.

Maka ulama tidak boleh menjadikan Al-Qur’an sebagai kitab yang tertutup yang hanya bisa diakses oleh orang memiliki keilmuan tertentu (B.Arab, Qiraat, dll) saja. Karena penguasaan terhadap ilmu-ilmu tersebut (Bahasa Arab, Qiraat, dll), tidak menghalangi ulama untuk melakukan kesalahan.

Sebut saja misalnya, Syaikh bin Baz yang dikenal sangat mahir dalam ilmu-ilmu keislaman klasik, tapi ilmu yang ia miliki sama sekali tidak bisa mengahalanginya untuk menyatakan bahwa manusia mustahil mendarat di bulan, sepak bola adalah kejahatan, larangan menyetir untuk perempuan dan sebagainya. Hal yang sama juga terjadi pada ulama-ulama lain (Sardar:2011). Inilah yang membuat Ziauddin Sardar berani menafsirkan Al-Qur’an meskipun ia mengakui bahwa ia tidak menguasai bahasa Arab juga ilmu-ilmu klasik yang lain.

Mengenal Penafsiran Ziauddin Sardar

Seperti penulis sebut diawal, satu-satunya karya Ziauddin Sardar di bidang Al-Qur’an adalah buku dengan judul Reading The Qur’an: The Contemporary Relevance of The Sacred Text of Islam. Menurut Taufan Anggoro, penafsiran Sardar dapat dikategorikan sebagai penafsiran tematik-kontekstual. Di dalam bukunya, Sardar menggabungkan dua model tafsir tematik sekaligus, yaitu tematik surat dan penafsiran berdasarkan tema-tema tertentu.

Baca Juga  Membaca Ayat Al-Qur’an dengan Prinsip Sustainability

Tafsir tematik surat diaplikasikan oleh Sardar pada dua surat pertama, yaitu sural Al-Fatihah dan surat Al-Baqarah. Surat Al-Fatihah ditafsirkan oleh Sardar menjadi dua tema pokok. Tema yang pertama adalah tentang ‘sifat-sifat Allah’ dan tema yang kedua adalah tentang ‘jalan yang lurus’. Sama halnya dengan surat Al-Fatihah, Sardar juga menafsirkan surat Al-Baqarah dengan mengelompokannya menjadi beberapa tema. Surat Al-Baqarah dikelompokan oleh Sardar menjadi sembilan belas tema.

Model tematik kedua yang digunakan oleh Sardar adalah dengan menyusun ayat-ayat Al-Qur’an berdasarkan tema-tema tertentu. Ada 22 tema yang disajikan oleh Sardar dalam bukunya.

Dalam melakukan penafsiran, Sardar menggunakan prinsip-prinsip penafsiran kontekstual. Yaitu, suatu penafsiran yang memperhatikan konteks sosio-historis Al-Qur’an. Kemudian melihat situasi masa kini, sehingga diperoleh makna substantif. Setelah diperoleh makna substantif, langkah selanjutnya adalah mencari relevansi Al-Qur’an di masa kini. Ketika menafsirkan Al-Qur’an, Sardar terus berpatokan kepada prinsip tersebut. Sehingga penafsiran Sardar, terlihat segar dan mampu berdialog dengan zaman.

Penyunting: Ahmed Zaranggi Ar Ridho