Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Yunahar Ilyas: Mubalig Sekaligus Pakar Tafsir Keadilan Gender

yunahar

Muhammadiyah tak henti-hentinya melahirkan banyak ulama yang berasal dari ranah minang (tanah Minang, Sumatera Barat).  Alih-alih bukan karena aspek keturunan kesukuan, orang Minang bagi yang saya kental akan budaya sastra yang tinggi. Mungkin karena adat-budaya komunikasinya yang sering berbalas pantun, orang asli Minang memiliki keunikan tersendiri dalam kesastraan. Tak terkecuali dalam menulis dan berbicara.

Ulama-ulama dari Minang Sumatera Barat kerap disapa Buya, yang asal bahasanya dari bahasa Arab; abuya yang berarti bapakku. Panggilan ini memang disandangkan di daerah Sumatera Barat kepada seseorang laki-laki yang menguasai ilmu agama, misalnya paling yang kita kenal orang Muhammadiyah dari Sumatera Barat adalah Buya Hamka dan Buya Syafi’I Ma’arif. Meskipun panggilan ini akhirnya mulai akrab di seluruh Nusantara dan tak hanya di Sumatera Barat.

Selain itu ulama Muhammadiyah yang asalnya di Sumatera Barat yaitu Buya Prof.Dr. Yunahar Ilyas, M.A atau jamak orang-orang sering memanggilnya dengan singkat Buya Yun. Bagi Dien Syamsuddin, Buya Yun adalah seorang yang memiliki wawasan pengetahuan keislaman yang luas dan memiliki kemampuan bahasa Arab yang memungkinkannya mampu mendalami al-Qur’an dan Hadits. Kefokusan ilmunya dalam bidang tafsir al-Qur’an menjadikannya seorang pakar tafsir yang mumpuni dalam Muhammadiyah.

Mubaligh Moderat yang Piawai dalam Dakwah

Putra asli Bukit Tinggi ini adalah mantan ketua PP Muhammadiyah dan wakil ketua umum Majelis Uiama Indonesia (MUI). Jelas karena menguasai ilmu agama yang mendalam, sosok keulamaan sangat lekat pada diri Buya Yun. Sebagai perwakilan ulama dari kalangan Muhammadiyah di MUI, menurut Anwar Abbas beliau mampu kosisten dalam memandu umat yang beragam dari perbedaan pendapat kepada nilai-nilai moderat serta bertoleransi.

Moderat menurut Buya Yunahar, Allah menjadikan umat Islam sebagai umat wasathan/wasathiyah (tengahan) yang dalam arti memiliki 3 dimensi: tawasuth (di tengah-tengah lurus atau shiratal mustaqim), tawazun (keseimbangan), dan ta’adul (sikap adil). Maka apabila seseorang yang dapat menjaga sikap lurus yaitu mengikuti ajaran Nabi dan seimbang maupun adil antara tidak berlebih kanan (radikal) dan kiri (liberal), menurut buya yun orang tersebut bisa dikatakan wasathiyah.

Buya Yunahar dalam bertabligh dikenal dengan ceramah-ceramahnya dalam bahasa yang sederhana dan mengena. Oleh karena itu banyak para jama’ah yang senang ketika mendengar ceramahnya Buya yunahar. Selain retorika yang bagus, isi ceramah yang disampaikan Buya serius tapi santai kepada jama’ah dan tidak terlalu menggebu-gebu menyampaikan pesan dakwah. Sosok keulamaan yang moderat ini jarang dimiliki oleh mubalig lainnya yang sekelas Buya Yun.

Baca Juga  Oman Fathurahman dan Enam Alur Penelitian Filologi

Pakar Tafsir Keadilan Gender

Jenjang pendidikan Prof Yunahar selama hidupnya dihabiskan untuk memperdalam ilmu agama. Sehingga tak heran wawasan pengetahuan dalam ilmu agamanya sangat teruji di antara kalangan para ulama. Namun satu bidang ilmu agama yang paling ia kuasai adalah tafsir al-Qur’an, merupakan bidang keilmuan dalam Islam yang sarat dengan perbedaan dan memerlukan pendekatan dari berbagai perspektif untuk menguasainya.

Jabatan sebagai guru besarnya diraih dalam bidang ulumul qur’an di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta karena ketekunannya dalam kajian ilmu al-Qur’an dan tafsir. Beberapa karyanya dalam kajian al-Qur’an antara lain: Tipologi Manusia Menurut Al-Qur’an, Cakrawala Al-Qur’an: Tafsir Tematis tentang Berbagai Aspek Kehidupan, Pendidikan dalam Perspektif Al-Qur’an, Kuliah Ulumul Qur’an dan dalam bidang penafsiran al-Qur’an yang Buya yun pakar terhadapnya adalah tafsir keadilan gender.Tesis dan Desertasi yang Buya Yun selesaikan dua-duanya membahas tentang keadilan gender. Tak pelak Buya Yun menguasai keadilan gender dalam al-Qur’an.

Menurutnya cara berpikir tentang doktrin al-Qur’an tentang kesetaraan gender terletak pada pengertian tentang kesetaraan. Orang-orang sering memberi pengertian bahwa kesetaraan itu segalanya harus sama, maka tentu saja dalam beberapa ayat yang ditafsirkan terlihat sikap diskriminatif terhadap prempuan. Maka Buya Yunahar menawarkan kesetaraan tersebut diartikan secara proposional, maka perbedaan status, hukum, hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan tidak dapat dinilai sebagai diskriminatif terhadap perempuan, karena disebabkan oleh fitrah masing-masing dan yang lain bersifat teknis fungsional.

Prof Yunahar juga menekankan perlunya penafsiran yang jernih agar penafsiran yang dilakukan tidak diskriminatif, tidak apologis, dan patriakis. Di samping itu perlunya penafsiran yang seimbang antara teks dan konteks, baik konteks saat ayat-ayat diturunkan, maupun konteks ayat-ayat itu ditafsirkan.

Baca Juga  Sederhana dalam Hidup Perspektif Buya Hamka

Uswah Buya Yun Untuk Muhammadiyah

Sebagai kader yang tumbuh dari rahim Muhammadiyah, Buya Yun secara langsung maupun tidak, memberikan banyak uswah atau tauladan kepada kader-kader Muhammadiyah sekarang. Kiprahnya yang cukup lama di Muhammadiyah, memberikan banyak peninggalan berharga untuk kita yang akan meneruskan perjuangan di Muhammadiyah.

Pertama, Buya Yun mengajarkan kepada kita untuk menjadi seorang mubalig yang moderat dan santun dalam berdakwah. Keadaan umat Islam yang terpecah, salah satunya karena banyak para ulama atau ustadz yang berceramah saling mencaci maki yang menurutnya tidak sepaham olehnya. Karena itu Buya Yun juga mencontohkan dalam berdakwahnya yang penuh mau’izhah (keteladanan), namun tidak meninggalkan prinsip amar ma’ruf nahi munkar.

Kedua, Buya Yun secara tidak langsung meberikan contoh pentingnya sosok ulama yang mendalami tafsir al-Qur’an. Karena ke depan hal ini secara tidak langsung amat dibutuhkan dan sangat mendesak untuk organisasi  keagamaan sekelas Muhammadiyah. Apalagi Muhammadiyah yang memegang prinsip ar-ruju’ kepada al-Qur’an dan Sunnah, hendaknya tidak hanya dijadikan jargon dan simbol semata.

Buya Yun adalah sosok ulama yang ideal. Selain pandai dalam bertutur dalam berdakwah, beliau juga aktif menulis sampai menerbitkan beberapa karya dalam bidang al-Qur’an. Sebagaimana saya ungkapkan di atas, ulama-ulama dari Minang mempunyai ciri khas tersendiri di antara cendekiawan-cendikiawan muslim lainnya. Mubaligh sekaligus pakar tafsir ini meninggal tanggal 2 Januari 2020, di tanggal dan hari penulis berulang tahun.

An-Najmi Fikri R
Alumni Ilmu Al-Qur'an Tafsir UMS dan Alumni Pondok Hajjah Nuriyah Shabran