Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Wajah Islam Berkemajuan

Berkemajuan
Sumber: islamlib.com

Indonesia adalah kode kebangsaan yang salah satunya mengandung realitas yang sangat majemuk, plural, bhineka, serba aneka dan penuh keragaman. Memperhatikan setting historis­­—salah satunya, Sumpah Pemuda yang akan diperingati 28 Oktober nanti—falsafah hidup, ideologi negara, genius nusantara, sistem nilai (salah satunya agama Islam) yang dianut, sesungguhnya kemajemukan yang ada di Indonesia tersebut bukanlah sebuah problematika.

Beberapa tahun terakhir ada suatu paradoks yang menjadi spektrum dinamika kebangsaan. Paradoksal tersebut bukan hanya memiliki relevansinya dengan kebhinekaan di atas. Tetapi termasuk garis relevansi dengan agama saya: Islam, baik menyangkut “harapan” maupun dari dimensi kuantitatif—umat terbesar di Indonesia.

Problem Intoleransi

Paradoksal yang memiliki garis relevansi dengan kebhinekaan adalah intoleransi. Memahami materi orasi Professor Ahmad Najib Burhani (2020) di LIPI, kita bisa menemukan bahwa salah satunya yang mendapat perhatian besarnya adalah “intoleransi”. Meskipun pada akhirnya mengerucutkannya pada efek utama dengan minoritas dan dilema minoritas. Bahkan baginya ada kultur yang menyuburkan hal tersebut.

Begitupun jika mencermati materi Pidato Pengukuhan Guru Besar Abdul Mu’ti (2020). Salah satu poin yang mendapat perhatian utama bagi Mu’ti adalah intoleransi dan terutama intoleransi agama. Meskipun tesis utamanya adalah “Pendidikan Agama Islam yang Pluralistis”, tetapi setting sosial yang melatarinya, yang didukung hasil penelitian dan data ilmiah adalah intoleransi.

Secara pribadi, saya pun menemukan fenomena intoleransi tersebut, terutama melalui media sosial. Mengapa disebut paradoks? Mu’ti dalam materi Pidato Pengukuhannya (2020:1) menegaskan bahwa pluralitas adalah realitas. Mengutip Osman, Mu’ti menjelaskan bahwa pluralitas adalah takdir dan sunnatullah: sesuatu yang terjadi sesuai kehendak dan hukum Allah.

Sebagaimana dikutip oleh Mu’ti dari Qardhawi, Daqaq dan Khalil yang pada intinya menyebutkan bahwa pluralitas adalah sebuah keniscayaan yang disebabkan oleh faktor alamiah, ilmiah dan amaliah. “Allah menciptakan manusia berbeda jenis kelamin, bangsa, suku (Qs. 49, al-Hujurat: 13), bahasa, warna kulit (Qs. Ar-Rum [30]: 22), dan agama (Qs. al-Maidah [5]: 48)”. Merujuk dari ini, maka intoleransi sesungguhnya adalah pengingkaran terhadap takdir dan sunnatullah.

Baca Juga  Kritik Ibnu Bajjah Terhadap Konsep Ma’rifah Al-Ghazali

Mu’ti menegaskan bahwa “…Indonesia masih mengalami intoleransi ekonomi, kebudayaan dan keagamaan” (2020:5). Terkait intoleransi ekonomi yang dimaknai sebagai sebuah kesenjangan ekonomi, yakni adanya sekelompok kecil masyarakat atau individu yang menguasai aset-aset ekonomi secara berlebihan. Dan ternyata yang menjadi korbannya adalah umat Islam.

Berdasarkan data yang pernah disampaikan oleh Mukhaer Pakkanna (Pakar Ekonomi Muhammadiyah & Rektor ITB Ahmad Dahlan), umat Islam Indonesia secara kuantitatif memang sebesar 87,7%. Tetapi jika kita melihat 50 besar orang terkaya Indonesia, hanya ada 10 orang umat Islam. Ini salah satunya yang saya maksudkan di atas paradoksal yang garis relevansinya dengan “harapan”.

Wajah Islam Saat Ini

Belum lagi jika memperhatikan diskursus/wacana yang berkembang. “Wajah” Islam jadi sangat buruk citranya, berada pada titik subordinasi. Islam identik dengan “radikalisme”, “ekstrimisme”, “terorisme” dan “terkesan” seringkali umat Islam mengalami apa yang disebut dengan “diskriminasi”. Padahal “penguasa” negeri ini yang duduk di eksekutif, legislatif dan yudikatif—saya yakin meskipun hanya menggunakan data imajiner—mayoritas adalah umat Islam.

Saya sesungguhnya sedih, melihat “wajah” Islam dan umat Islam (oknum) yang merias wajah yang seperti itu yang idealnya mereka menjadi panutan bagi saya dan kami semua. Jika memahami pandangan Haidar Bagir (2017), mungkin kita tidak akan mampu memahami “Islam Tuhan”, hanya mampu memahami “Islam Manusia”. Namun sesungguhnya dengan itu “sudah lebih dari cukup” untuk menampilkan wajah Islam yang indah, penuh rahmat, menjadi katalisator untuk meretas berbagai paradoks yang dimaksud.

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Islam terbuka akan perbedaan bahkan perbedaan adalah rahmat. Berdasarkan setting historis Islam, Islam adalah agama peradaban yang kejayaannya pernah tercatat dalam sejarah peradaban dunia.

Memenuhi harapan tersirat Mu’ti dari penegasan dan pemantik kesadarannya bahwa “intoleransi ekonomi dan budaya yang—sesungguhnya—memiliki daya rusak yang tinggi dan massif terhadap identitas dan persatuan bangsa tidak ditangani dengan serius”, dan umat Islam—sebagai penduduk mayoritas—memiliki tanggungjawab besar terhadap bangsa ini perlu menawarkan wajah “alternatif” Islam.

Apalagi jika kita memahami pandangan Fajar Riza Ul Haq (2017: xvi) dan tentunya masing-masing pembaca tulisan ini bisa menyadari, hari ini ada “wajah” Islam—selain wajah “buruk” yang disebutkan di atas—yang mengarah pada “…takfirisme politik (menuduh kafir pihak yang berbeda piliihan politik) dan otoritarianisme keagamaan (mengklaim pemahaman keagamaan kelompoknyalah yang paling benar/otoritatif).

Baca Juga  Tafsir At-Tanwir Al-Baqarah Ayat 183: Kewajiban Berpuasa Ramadhan

Fajar Riza Ul Haq, setelah bercermin dari sejarah, sangat menyadari bahwa “persekutuan otoritarianisme pemahaman keagamaan dan takfirisme politik selalu melahirkan arus permusuhan, dan tindakan inkuisisi (mihnah) terhadap kelompok-kelompok lain yang dianggap tidak sejalah.

Wajah Islam Berkemajuan Sebagai Alternatif

Mencermati pandangan Fajar, selain akan memperkeruh kohesivitas sosial dan kebangsaan, termasuk internal umat Islam—pada faktanya berdasarkan data Mu’ti, intoleransi internal keagamaan lebih tinggi—akan membuat kekuatan Islam semakin lemah dan yakin saja akan semakin mengalami khususnya “intoleransi ekonomi”.

Dari sekelumit narasi dan argumentasi di atas maka saya bermaksud ingin menawarkan wajah “alternatif” Islam yaitu “Wajah Islam Berkemajuan”. Meskipun saya menggunakan terma “wajah”, tetapi yang saya maksudkan bukan hanya aspek eksoteriknya semata tetapi termasuk esoterik Islam Berkemajuan.

Saya berharap bahwa wajah Islam Berkemajuan, bukan hanya menjadi wajah simpatisan, kader dan para pimpinan Muhammadiyah, tetapi umat Islam dan bangsa Indonesia secara umum. Meskipun Islam Berkemajuan identik dengan Muhammadiyah dan bahkan menjadi konsepsi dan paradigma gerakannya sejak abad pertama, periodisasi KH. Ahmad Dahlan mendapatkan penegasan yang lebih kuat dan progresif sebagai paradigma ketika muktamar satu abad Muhammadiyah.

Islam Berkemajuan sebagai sebuah konsepsi bahkan sebagai sebuah paradigma gerakan baik berdasarkan rumusan resmi Muhammadiyah maupun dari para pemikir Muhammadiyah secara personal, memiliki cakupan yang sangat luas. Untuk kepentingan tulisan ini, saya memilih beberapa hal saja yang dalam pandangan saya lebih relevan dan urgen dengan kondisi bangsa hari ini.

Islam Berkemajuan dalam memahami agama memadukan pendekatan bayani, burhani dan irfani. Sehingga Islam Berkemajuan tidak terjebak pada tradisi teks semata. Karena hal itu, jika menggunakan pandangan Fajar Riza Ul Haq (2017:3)—dapat “..menyebabkan absurditas dan distorsi terhadap pesan-pesan moral-kemanusiaan Islam”.

Baca Juga  Dimensi Kemanusiaan dalam Sedekah

Islam Berkemajuan yang identik dengan tajdid akan mampu menjadi solusi atas kecenderungan pemikiran yang mengarah pada konservatif. Amin Abdullah menemukan sebuah fakta tentang model dakwah sekarang ini yang cenderung mengarah pada fanatisme, takfiri, menolak eksistensi golongan lain, membenci golongan lain.

Spirit Islam Berkemajuan

Islam Berkemajuan—jika meminjam pandangan Amin Abdullah—mampu menyelematkan ummat untuk tidak jatuh dalam lower order of thinking (kemampuan berpikir dangkal). Islam Berkemajuan—berdasarkan rumusan checklist Amin Abdullah—mampu memadukan antara nalar teologis, nalar filosofis dan nalar etis. Bagi Amin Abdullah jika hanya menggunakan nalar teologis semata, akan menjadi partikularistik-sektarian. Sehingga dalam pandangan saya ini juga berbahaya bagi banganan ke-Indonesia-an yang plural.

Adanya polarisasi cebong kampret (sebagai salah satu contoh)—dalam pandangan Amin Abdullah—adalah karena nalar teologis tidak bisa kawin dengan nalar filosofis dan akrab dengan nalar etis. Islam Berkemajuan memiliki visi peradaban, terbuka dan mampu membangun dialog dengan berbagai pemikiran lain. Kemampuan membangun dialogis relevan dan memiliki korelasi positif dengan genius nusantara yang secara substansial bersifat “menyerap”, dan “menumbuhkan”.

Islam Berkemajuan dengan spirit teologi al-Ma’un-nya, akan menjadikan umatnya tidak hanya berkutat pada urusan akhirat semata. Namun ajaran-ajaran normatif yang ada mampu diterjemahkan secara operasional untuk menjadi spirit pergerakan bahkan sebagai basis teologis pelembagaan amal usaha. Teologi al-Ma’un memiliki pandangan bahwa ukuran kesalehan individual barometernya adalah kepedulian sosial.

Islam Berkemajuan dengan teologi al-Ashr-nya memiliki spirit keterbukaan dan optimisme senafas dengan paradigma appreciative inquiry. Berdasarkan teologi ini, umat akan senantiasa terbuka terhadap realitas yang ada. Apa pun realitas yang dipandang sebagai sebuah peluang termasuk keragaman yang ada adalah kekuatan.

Islam Berkemajuan relevan dengan apa yang dikenal dengan istilah Islam Progresif. Keterbatasan ruang (bukan keterbatasan konsep dan waktu) sehingga masih banyak hal untuk lebih dikerucutkan. Butuh pendalaman dan semoga beberapa hari ke depan bisa melanjutkannya dalam tulisan “Wajah Islam Berkemajuan (bagian kedua)”.

Editor: M. Bukhari Muslim

Agusliadi Massere
Eks Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Bantaeng. Sekarang menjabat sebagai Komisioner KPU Kabupaten Bantaeng Periode 2018-2023