Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Ustadz Fathurrahman Kamal: Rasisme adalah Bangkai!

ustadz fathur alquran sebagai jalan kehidupan

Rasisme meletakkan ukuran ras dan warna kulit sebagai sesuatu yang penting dalam mengenali orang lain. Pandangan ini meletakkan strata sosial, suku, bangsa, dan adat istiadat sebagai alat ukur untuk mengenali siapa yang mulia dan siapa yang hina.

Definisi di atas disampaikan oleh Ustadz Fathurrahman Kamal dalam kajian di Imania TV. Islam, sebagai agama yang bersumber kepada Allah, merujuk ke

Dalam Alquran, Allah menegaskan dalam surat Al-Isra ayat 70 yang berbunyi:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Artinya: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.”

Ketika Alquran menggunakan kata “anak Adam”, berarti berlaku secara universal. Siapapun umat manusia di muka bumi yang dilahirkan dari Adam dan Hawa, maka ia adalah ciptaan yang dimuliakan. Islam mengajarkan karamatul insan (kemuliaan insan).

“Maka, tidak boleh melakukan tindakan yang tidak manusiawi kepada orang lain hanya karena perbedaan agama, ras, kulit, dan bangsa,” jelas Ustadz Fathur.

Ia memberi contoh Nabi SAW, sebagai seorang pemimpin yang berwibawa, mengatakan: “barangsiapa yang menzhalimi orang-orang non muslim, yang secara konstitusional memiliki hak untuk tinggal di Madinah, atau merendahkan kehormatannya, atau memberikan pekerjaan yang melampaui kemampuan fisiknya, atau mengambil haknya tanpa kerelaan hatinya, maka aku menjadi musuhnya di hadapan Allah Ta’ala.”

Pada hadits lain Nabi mengatakan: “barangsiapa yang membunuh non muslim, maka dia tidak akan pernah mencium wanginya surga. Padahal wanginya surga itu tercium dari jarak tujuh puluh tahun perjalanan.”

Baca Juga  Mahir Fikih Ibadah, Ingkar Fikih Lingkungan

Pada saat Rasulullah merebut kembali Kota Makkah dengan kekuatan yang luar biasa besar, dengan gagah ia berdiri di Masjidil Haram, dan bertanya kepada masyarakat Quraisy. “Hai orang-orang Quraisy! Menurut kalian, apa yang harus aku lakukan terhadap kalian saat ini?”.

Dengan penuh ketakutan mereka menjawab, “wahai Muhammad, engkau adalah saudara kami yang baik. Putra dari saudara kami yang baik pula, dan tidak mungkin engkau melakukan sesuatu kecuali yang baik.” Lalu beliau berkata, “aku mengatakan kepada kalian sebagaimana Nabi Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya, bahwa tidak ada cela kepada kalian hari ini. Pergilah kalian sebagai orang-orang yang bebas.”

Pada saat itu Nabi membacakan ayat yang 13 pada surat Al-Hujurat yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Dalam suasana kehidupan Arab yang penuh dengan kebanggaan kesukuan, Alquran datang memproklamasikan suatu hak kemanusiaan yang sangat dahsyat. Dimana manusia pada saat itu tidak mengenal apa yang dimaksud dengan hak asasi manusia.

Menurut Ustadz Fathur, sejak awal kelahiran Islam, dia sudah mengajarkan suatu pandangan yang kosmopolitan. Pandangan yang bermartabat dalam memandangan realitas kemanusiaan.

Begitu pula ketika Nabi berkhotbah pada Haji Wada’. Ia mengatakan: “Sesungguhnya darah, harta, kehormatan kalian adalah suci dan tidak boleh dinistakan oleh siapapun. Seperti sucinya hari di mana kalian berada pada saat ini, pada bulan ini (bulan-bulan yang disucikan), dan pada negeri ini (Makkah).”

Baca Juga  Hanya Umat Terbelakang yang Membelenggu Perempuan

Harta, nyawa, kekayaan, dan kemuliaan manusia adalah sesuatu yang suci dan tidak boleh dinistakan. Beliau kemudian menyatakan, “Ya Allah, aku telah menyampaikan ajaranmu ini”. Kemudian beliau menunjukkan telunjuknya ke atas langit sambil mengatakan “Ya Allah, saksikanlah!” sebanyak tiga kali.

Rasulullah telah mendeklarasikan kehormatan umat manusia secara universal yang dijunjung tinggi di dalam ajaran Islam. Rasulullah mengatakan bahwa perilaku rasisme adalah bangkai. Bangkai adalah sesuatu yang menjijikkan, yang tidak ingin dilihat oleh seseorang, yang berbau busuk. Dalam Islam, tidak ada tempat bagi rasisme.

Yusuf R Yanuri
Mahasiswa Ilmu Alquran & Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta