Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tuhan Bersumpah Demi Al-Qur’an

Bersumpah
Gambar: Tribunnews.com

Surah an-Najm [53]: 1 dimulai dengan sumpah Tuhan: wa an-najm idha hawa? Apakah ada makna yang inheren dalam teks Qur’an ini? Tidak! Itulah jawaban yang jelas. Tidak ada makna yang inheren di dalam teks Quran. Lokus makna berada di luar teks.

la merupakan produk pemikiran dari dan tersimpan dalam komunitas penafsir wahyu (ahl al-ta’wil; ahl al-tafsir). Melihat kutub al-fafsir sebagai a reservoir of meaning, komunitas penafsir memproduksi makna sumpah itu secara beragam dan kontradiktif.

Metode pembaruan Islam dengan proklamasi “kembali pada Al-Qur’an” hanya berujung pada kesia-siaan belaka karena Tuhan tidak mewahyukan makna di dalam teks Qur’an dan teks pun tidak membawa makna orisinal yang dikehendaki oleh Tuhan dalam proses pewahyuan.

Adalah komunitas penafsir wahyu, ketimbang Tuhan dan teks, yang mengambil peran otonom, sentral, dan esensial dalam memproduksi makna sumpah Tuhan itu. Penafsir pula yang memberikan konteks pewahyuan atas teks Quran, yang tidak ditemukan dalam Al-Qur’an.

Mayoritas penafsir memproduksi pembuka surat an-Najm–wa al-najm idha hawa-sebagai rujukan pada makna sumpah Tuhan demi bintang, “demi bintang, ketika terbenam, ketika menghilang.”

Inilah makna yang diterima secara luas sebagai satu-satunya kebenaran makna dalam tradisi penafsiran Qur’an, yang tersimpan dan tertransmisikan dalam mata rantai tradisi Islam. Dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, dan dari geografi ke geografi lain. Makna yang mengalami proses kanonisasi sebagai kebenaran tunggal ini mengembara dan berpindah dalam lintas waktu, zaman, dan lokasi yang berbeda

Risalah ini bukan sekadar mengajukan makna yang berbeda dari penafsiran Qur’an yang ortodoks, tetapi juga menyajikan konteks pewahyuan sumpah Tuhan yang maknanya tidak berada secara inheren di dalam teks Qur’an.

Baca Juga  Kajian Munasabah dan Makiyah Madaniyah Q.S. al-Baqarah Ayat 238

Produksi makna dan konteks pewahyuan teks itu dikerjakan dengan amat sangat brilian oleh Muqatil b. Sulayman, tukang dongeng dan penafsir Qur’an yang heterodoks, dalam karya awal paling lengkap dalam tradisi penafsiran Qur’an dengan judul: Tafsir Muqatil b. Sulayman, ‘Abdallah Mahmüd Shihatah (editor), 5 volume, (Beirut: Cairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al- Ammah li al-Kitäb, 2002).

Muqatil b. Sulayman menafsirkan makna pembuka surat An-Najm wa al-najm idha hawa sebagai rujukan pada sumpah Tuhan demi Quran, sebagaimana diuraikan dalam Tafsir Muqatil b. Sulayman (2002, vol. 4, 159):

Allah bersumpah demi Al-Qur’an, dengan mengatakan: wa al-najm idha hawa, artinya, [turunnya Al-Qur’an] dari surga kepada Muhammad–semoga Tuhan memberkatinya dan memberinya kedamaian-, sebagaimana firman Tuhan: Tidak! Aku bersumpah demi turunnya Al-Qur’an secara bertahap (Surat Al-Waqi’ah (561:75).

Ketika Al-Quran turun, ia diturunkan secara bertahap: tiga atau empat ayat, atau yang serupa, dan satu atau dua surah. Oleh karena itu, Allah bersumpah demi Al-Qur’an, dengan berfirman: Tidak ada sahabatmu yang tersesat, yaitu Muhammad, dan tidak pula dia keliru. Dia juga tidak mengucapkan kebohongan (al-bathil). Dia [Muhammad] tidak mengucapkan Al-Qur’an ini [surat An-Najm], atas keinginannya sendiri, secara spontan.”

Produksi makna ini, Tuhan bersumpah demi pewahyuan Qur’an secara gradual, tentu saja mengandung aspek kebaruan (novelty) yang tidak lazim ditemukan sama sekali dalam tradisi penafsiran Qur’an yang bercorak ortodoks. Bahkan, aspek kebaruan makna ini juga tercermin pada metode pewahyuan Qur’an kepada Muhammad yang berlangsung secara gradual, sedikit demi sedikit, ayat demi ayat, dan surat demi surat

Proses pewahyuan Qur’an secara gradual ini, tentu saja, terkait langsung dengan konteks pewahyuan (sabab al-nuzul). “Kembali pada Qur’an” pasti tidak memberikan jawaban atas konteks pewahyuan. “Kembali kepada tradisi”, khususnya pada tradisi tafsir, jelas memberikan konteks pewahyuan.

Baca Juga  Jacques Derrida: Menghindari Distorsi Pesan Tuhan dalam Penafsiran

Inilah yang tersajikan dalam Tafsir Muqatil b. Sulayman saat Muqâtil b. Sulaymân mengidentifikasikan “sahabatmu” sebagai rujukan pada Nabi Muhammad dan mereka yang menentang kredibilitas Muhammad dan sumber wahyu Qur’an sebagai “orang-orang kafir di Makka” (kuffär Makka). Orang-orang kafir di Makkah diperingatkan bahwa salah satu sahabat mereka, yaitu Muhammad, tidak tersesat, tidak berbuat salah, dan tidak berbicara wahyu sesuai kemauan sendiri dan secara spontan.

Itulah konteks pewahyuan mengapa Muqatil b. Sulaiman berargumen bahwa pembacaan wahyu Al-Qur’an An-Najm [53] terjadi dalam lingkungan polemik, karena wahyu tersebut diturunkan bukan dalam ruang sejarah yang hampa, melainkan sebagai tanggapan polemik terhadap tuduhan yang dilontarkan kepada Muhammad dan status wahyu yang ia bacakan dalam pertemuan dengan orang-orang di Makkah.

Sesuai laporan Muqâtil b. Sulaiman, polemik Qur’an ini dimulai dengan orang-orang kafir di Mekkah yang mengajukan tantangan kritis kepada Muhammad mengenai sumber asli pewahyuan Al-Qur’an. Al-Qur’an An-Najm [53] adalah wahyu pertama yang dibacakan dan diumumkan di depan umum oleh Muhammad di Mekkah, dan setelah mendengar An-Najm dibacakan di depan umum dalam sebuah pertemuan, orang-orang kafir di Mekkah berkata:

“Muhammad berbicara Al- Qur’an ini (hadha Al-Qur’än, yaitu sürat An-Najm sesuai kemauan sendiri, secara spontan, dan di dalamnya, Allah bersumpah demi Al-Qur’am: wa al-najm idha hawa.”

Formulasi laporan awal (dan tipikal) peristiwa turunnya wahyu ini diformulasikan melalui formula: “orang-orang kafir di Mekah berkata…. : dan tanggapan Tuhan: yakni, Tuhan bersumpah demi Al-Qur’an. Jika dibaca berdasarkan peristiwa atau alasan turunnya wahyu, maka surat An-Najm terjadi bukan dalam ruang sejarah yang hampa, melainkan dalam konteks polemik tertentu.

Karena surat ini diturunkan sebagai tanggapan terhadap beberapa tuduhan yang muncul dari suatu peristiwa pertemuan khusus Nabi Muhammad dengan orang-orang kafir di Makkah. Sebagai tanggapan, Tuhan bersumpah demi Al-Qur’an bahwa Muhammad tidak tersesat, tidak berbuat salah, atau tidak berbicara berdasarkan keinginannya sendiri.

Baca Juga  Menghidupkan Spirit Ibrahim dalam Diri Seorang Muslim

Dalam tradisi penafsiran, Muqatil b. Sulayman tampil sebagai produser makna yang baru, “Tuhan bersumpah demi Al-Qur’an,” dan sekaligus sebagai pemberi konteks pewahyuan Qur’an yang terjadi dalam iklim polemik.

Sumber: Suara Muhammadiyah – 22/108 – 2-16 Jumadil Awal 1445

Penyunting: Bukhari

Sukidi
Cendekiawan Muhammadiyah. Doktor Studi Islam Lulusan Harvard University