Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tugas Perempuan Dalam Ranah Domestik Kepemerintahan

Sumber: istockphoto.com

Rasulullah SAW sebagai role model dalam kehidupan pernah mengingatkan seorang ibu yang merenggut anaknya secara kasar dari pangkuan Rasulullah SAW. Dikarenakan sang anak pipis yang  membasahi pakaian beliau. Selain mengasuh serta mendidik anak-anaknya sedari kecil seorang perempuan juga mempunyai tugas untuk menegakkan agama. Seperti halnya amar ma’ruf nahi munkar (menyuruh pada kebaikan dan mencegah kemunkaran).         

Tugas Keadilan

Perempuan mesti menjunjung kebenaran serta keadilan dan berperangai dengan akhlak yang tinggi dalam masyarakat. Perempuan juga mempunyai tugas kewajiban menjaga rumah sewaktu suaminya tidak berada didalam rumah. Dalam hal kepemimpinan sendiri kaitanya dengan surah An-Nissa  [4]: 34 HAMKA membahas sekelumit kalimat didalamnya yaitu qawwamuna. Berikut uraian ayat suci secara lengkap:

ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعۡضَهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖ وَبِمَآ أَنفَقُواْ مِنۡ أَمۡوَٰلِهِمۡۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٞ لِّلۡغَيۡبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُۚ وَٱلَّٰتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهۡجُرُوهُنَّ فِي ٱلۡمَضَاجِعِ وَٱضۡرِبُوهُنَّۖ فَإِنۡ أَطَعۡنَكُمۡ فَلَا تَبۡغُواْ عَلَيۡهِنَّ سَبِيلًاۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيّٗا كَبِيرٗا 

 Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalehah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. QS. An-Nissa [4]: 34)

Dalam ayat di atas HAMKA memaparkan bahwasanya seorang laki-laki bertugas memimpin perempuan. Namun dalam perspektif HAMKA pangkal ayat di atas bukan hanya bersifat perintah. Namun hanya tugas pemberian khabar semata serta memberikan pernyataan hal yang sewajarnya saja.

Baca Juga  Mewujudkan Konsep Masyarakat Madani Sesuai Al-Qur'an

Perempuan juga Bertugas Memimpin

Kaum laki-laki mempunyai kelebihan dari segi fisik secara umumnya. Nah, ini bukan berarti laki-laki wajib memimpin perempuan dan jika tidak dipimpin berarti berdosa. Untuk lebih memperjelas kaitanya dengan ayat di atas yang menyangkut beberapa permasalahan justru bukan hanya laki-laki yang memimpin perempuan. Namun perempuan juga diperbolehkan memimpin laki-laki.

Dalam hemat penulis sosok HAMKA merupakan sosok yang non-patriarki. Dalam hal ini, HAMKA mengutip sebuah kisah berupa anekdot yang mengisahkan seorang Ratu yang bernama Ratu Victoria dari inggris dengan suaminya bernama pangeran Albert.

Dikisahkan bahwasanya pernah suatu waktu Ratu Victoria lupa akan kedudukanya sebagai seorang istri tatkala berada didalam rumah bersama suaminya. Hal tersebut dikarenakan terbawa suasana  bertugas menjadi raja di luar rumah Sontak suaminya pun mengingatkan seraya berucap ‘’Di luar rumah memang engkau seorang raja. Namun dalam Ruangan ini, aku adalah suamimu’’.

Semenjak itulah seorang Ratu Victoria membedakan antara tugas resmi dirinya sebagai seorang raja sesaat memimpin dan sebagai seorang istri yang patuh tatkala berada di rumah bersama suaminya. Surah An-Nissa ayat (4): 34 sendiri dari sisi sejarah historis turunya ayat serta bentuk kalimat bahwasanya dapat dipahami secara gamblang menyangkut ayat tersebut yang membahas perihal kepemimpinanan laki-laki di ranah rumah tangga.

***

Secara historis juga ayat tersebut turun perihal penyelesaian nusyuz (pembangkangan)yang dilakukan istri atas suami. Kemudian dari konteks kalimat sendiri terdapat dua indikasi kuat yang memperlihatkan bahwasanya ayat tersebut berbicara perihal kepemimpinan dalam konteks ranah rumah tangga.

Dalam hal ini kewajiban suami terhadap istri menyangkut pemberian nafkah serta sikap istri yang nusyuz (membangkang). Pun juga ketidaktaatan istri terhadap perintah suami dalam hal kebaikan perihal urusan rumah tangga.

Beberapa indikator tersebut memperlihatkan yang berindikasi bahwasana kalimat arrijal dan an-nissa pada ayat tesebut adalah suami dan istri. Kalimat qawwam sendiri diartikan oleh seorang Ibn Manzur dengan makna al-muhafadzah yang berarti menjaga dan al-islah yang berarti memperbaiki.

Baca Juga  Kedudukan Perempuan dalam Waris: Perspektif Fazlur Rahman dan An-Na’im

***

Di sisi lain Jalalain menafsirkanya dengan makna musallitun(menguasai). Di sisi lain dalam kitab suci al-Qur’an terdapat sebuah kisah tentang seorang Ratu dinegeri Saba’ yang bernama Ratu Bilqis.

Yang mana kisah Ratu Balqies diulas  dalam surah An-Naml yang mengisahkan percaturan politiknya dengan Nabi Sulaiman. Dalam sebagian ayat yang singkat di jelaskan juga bagaimana wibawa perempuan yang agung itu memerintah sehingga para pembesar kerajaanya  tunduk serta setia menunggu perintahnya.

Sementara itu, diantara kalimat  bersayap yang  ditinggalkan serta tetap terlukis didalam kitab suci Al-Qur’an Surah An-Naml ayat 34 yang sangat mencengangkan yaitu:

قَالَتۡ إِنَّ ٱلۡمُلُوكَ إِذَا دَخَلُواْ قَرۡ يَف يَةً أَفۡسَدُوهَا وَجَعَلُوٓاْ أَعِزَّةَ أَهۡلِهَآ أَذِلَّةٗۚ وَكَذَٰلِكَ ۡعَلُونَ 

 Dia berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat. Wallahua’lam.

Penyunting: An-Najmi