Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tolak Kampanye Poligami! Beginilah Tafsir HAMKA Mengenai Poligami

HAMKA dan poligami
Gambar: voi.id

Belakangan poligami kembali menjadi polemik di Indonesia. Hal itu disebabkan oleh maraknya propaganda dan kampanye mengenai poligami, baik melalui poster di media sosial ataupun spanduk di dunia nyata. Di antara yang paling viral akhir-akhir ini adalah mentoring poligami berbayar yang diadakan oleh Hafidin.

Bagi beberapa orang, mendengar kalimat mentoring poligami barang kali adalah sesuatu yang konyol dan lucu. Namun jangan salah sangka, kegiatan ini justru memiliki banyak peminat. Bukan hanya laki-laki, namun juga perempuan. Ini tentu menjadi alarm bahaya bagi kita. Sebab poligami yang sesungguhnya pilihan terakhir dan mendesak dalam Islam, kini malah dipromosikan, dijualbelikan dan diperdagangkan.

Atas hal itu, penulis terdorong untuk membuat tulisan ini. Sebab penulis merasa ada beberapa cacat logika yang perlu diperbaiki dan dikoreksi dari para praktisi dan pengkampanye poligami tersebut. Di antaranya pandangan bahwa poligami adalah syariat Islam yang boleh dilakukan kapan pun dan tanpa melihat konteks dan hal-hal yang melatarbelakangi kapan poligami boleh dilakukan.

Untuk memperjelas duduk perkara masalah poligami dalam Islam, penulis akan mengutip pandangan ahli tafsir Indonesia terkemuka, yakni Prof. Dr. HAMKA (Haji Abdul Malik Karim Amrullah). Ada beberapa alasan mengapa HAMKA dipilih. Pertama, HAMKA adalah salah sedikit di antara ulama tafsir Indonesia yang mempunyai karya tafsir lengkap tiga puluh juz. Kedua, ulama asal Minang tersebut adalah sosok ulama yang moderat. Karenanya pandangan-pandangan atau tafsir-tafsirnya mengenai agama diyakini seimbang, tidak ekstrem kanan atau ekstrem kiri.

Ketiga, hal yang menjadi alasan mengapa penulis memilih HAMKA adalah karena sejauh penelusuran penulis, tafsir atau perspektifnya tentang poligami sangat adil. Yakni tidak semata mengandalkan nafsu sebagaimana yang diterapkan oleh para praktisi dan pengkampanye poligami dan juga tidak semata mengandalkan perubahan zaman, lalu lantas ingin menghapus poligami.      

Baca Juga  Sumbangsi Besar Al-Quran Terhadap Perkembangan Sains Modern

Antara Poligami dan Anak Yatim

Ketika berbicara mengenai poligami, maka sudah pasti titik pangkal pembahasannya berakar dari pemahaman seseorang terhadap surah an-Nisa ayat 3. Ayat itu berbunyi:

“Bila kalian khawatir tidak dapat berlaku adil terhadap anak-anak yatim perempuan, maka nikahilah dari perempuan-perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat. Lalu bila kalian khawatir tidak adil (dalam memberi nafkah dan membagi hari di antara mereka), maka nikahilah satu orang perempuan saja atau nikahilah budak perempuan yang kalian miliki. Yang demikian itu lebih dekat pada tidak berbuat aniaya.”

Dalam menafsirkan ayat ini, HAMKA menjelaskan bahwa ayat ini erat kaitannya dengan ayat sebelumnya. Yakni tentang anak-anak yatim. Ayat ketiga dari surah an-Nisa ini merupakan kelanjutan dari ayat kedua yang berbicara mengenai anak-anak yatim yang diperlakukan secara tidak adil oleh walinya.

Di antara perilaku tidak adil yang dilakukan oleh wali terhadap anak-anak yatim itu adalah ia tidak memberikan hak-haknya, terutama dalam soal harta. Menurut cerita HAMKA, dahulu ketika ada seorang anak yang kehilangan orang tuanya, maka harta peninggalan orang tuanya diserahkan kepada pihak wali. Di sinilah letak masalahnya. Para wali tersebut sering kali tidak memberikan harta itu kepada anak-anak yatim yang diasuhnya.

Bahkan, mereka sampai ada keinginan untuk menikahi anak-anak yatim itu. Namun dengan maksud agar ia dapat memiliki hak untuk menikmati harta anak yatim itu. Karena itu, sebagaimana dijelaskan HAMKA, ayat ini turun sebagai alternatif bagi para wali yang hendak berlaku aniaya tersebut. Yakni dengan menganjurkannya menikahi wanita lain saja. “Maka daripada melangsungkan segala fikiran jahat ini, lebih baiklah menikah saja dengan perempuan lain, biar sampai empat. Sebab sikap-sikap yang salah dan laku yang tidak jujur kepada anak yatim perempuan itu adalah dosa besar.”, jelas HAMKA.

Baca Juga  Beberapa Karakteristik Paradigma Tafsir Kontemporer (2)

HAMKA dan Peringatan Membaca Ayat Poligami 

Akan tetapi menariknya, HAMKA mengingatkan bahwa ayat poligami itu jangan dibaca hanya sampai penggalan kalimat, “nikahilah perempuan yang kalian sukai, dua, tiga atau empat.” HAMKA meminta para pembaca untuk melanjutkan sampai ayat berikutnya. Sebab pada ayat selanjutnya, kita dingatkan tentang satu kesulitan yang tidak kalah beratnya, “jika kalian tidak dapat berlaku adil, maka nikahilah satu orang perempuan saja.”

Kebiasaan membaca sepenggal-sepenggal ini mendapat kecaman yang keras dari HAMKA. Ia mengingatkan, “Janganlah kita potongi pangkal dan ujung ayat, karena keinginan-keinginan hawa nafsu belaka, karena melihat perempuan cantik atau muda”. Ia mencontohkan dengan ayat yang berbunyi, “Janganlah kamu mendekati shalat dalam keadaan mabuk.” Orang yang malas shalat bisa saja memotong ayat ini dan menghapus diksi “dalam keadaan mabuk.” Sehingga jadilah ayat itu bersifat larangan untuk shalat.

Dan yang tidak boleh kita lewatkan dari pemahaman HAMKA tentang poligami adalah penekanannya bahwa pernikahan ideal dalam Islam ialah monogami. Ia bahkan menolak penafsiran Qotadah yang memulai penjelasan ayat poligami dengan menagatakan laki-laki boleh beristri empat.

Penafsiran HAMKA tentang Poligami

Ia menulis dalam tafsirnya:  “Pernikahan yang bahagia dan dicita-citakan (ideal) adalah beristeri satu. Pernikahan seorang laki-laki dengan seorang perempuan. Mendirikan rumah tangga bahagia: li taskunu ilaiha (supaya kamu merasa tenteram dengan dia). Sakinah: ketenteraman tidak akan dirasai kalau hanya sibuk menyelesaikan urusan isteri banyak. Moga-moga jangan sampai bercerai kalau bukan maut yang memisahkan.”

Dalam titik ini, HAMKA sangat sejalan dengan pandangan feminis-feminis muslim yang berulang kali menekankan bahwa pernikahan yang ideal dalam Islam atau pernikahan yang lebih dekat kepada sakinah adalah sistem pernikahan monogami, bukan poligami. Selanjutnya, untuk menguatkan pendapatnya tentang lebih baiknya memilih sistem pernikahan monogami, HAMKA mengutip nasehat gurunya. Gurunya adalah seorang pengamal poligami, akan tetapi kepada HAMKA, ia mengajurkan agar beristri satu saja:

Baca Juga  Memahami Konsep Kemandulan di dalam Al-Qur'an

“Cukuplah isterimu satu itu saja wahai Abdul Malik! Aku telah beristeri dua. Kesukarannya baru aku rasai setelah terjadi. Aku tidak bisa mundur lagi. Resiko ini akan aku pikul terus sampai salah seorang dari kami bertiga meninggal dunia. Aku tidak akan menceraikan salah seorang antara mereka berdua, karena kesalahan mereka tidak ada.

Anakku dengan mereka berdua banyak. Tetapi aku siang-malam menderita batin, karena ada satu hal yang tidak dapat aku pelihara, yaitu keadilan hati. Bagi orang lain hal ini mudah saja. Kalau tidak senang kepada salah satu, cari saja sebab yang kecil, lalu lepaskan, maka terlepaslah diri dari beban berat. Kalau kejadian demikian, kita telah meremuk-redamkan hati seorang ibu yang ditelantarkan.

Janganlah beristeri lebih dari satu hanya dijadikan semacam percobaan, sebab kita berhadapan dengan seorang manusia, jenis perempuan. Hal ini menjadi sulit bagiku, karena aku adalah aku, karena aku adalah gurumu dan guru orang banyak. Aku lemah dalam hal ini, wahai Abdul Malik, aku ingin engkau bahagia! Aku ingin engkau jangan membuat kesulitan bagidirimu. Peganglah ayat Tuhan: ذَلِكَ أَدْنَى أَلَّا تَعُولُوا (yang demikian itu lebih dekat pada tidak berbuat aniaya).

Penutup

Demikianlah penjelasan HAMKA mengenai poligami. Ia sangat mewanti-wanti orang-orang yang sepotong-potong dalam membaca ayat poligami karena mengikuti hawa nafsunya. Semoga penjelasan dari HAMKA tersebut dibaca dan memberikan pencerahan kepada para praktisi dan pengkampanye poligami. Agar cacat nalar mereka mengenai poligami dapat segera terobati.