Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tiga Pesan untuk Para Penghafal Alquran

para penghafal alquran
sumber: unsplash.com

Dewasa ini marak program-program untuk meningkatkan hafalan Alquran. Halaqoh, pesantren, kajian, komunitas, bahkan acara di Televisi dibuat untuk berlomba-lomba menghafalkan Alquran. Kampanye untuk menghafalkan Alquran bisa dibilang cukup sukses, melihat banyaknya orang tua yang menginginkan anaknya agar bisa menjadi penghafal Alquran.

Program Hafidz Cilik di Televisi bisa disebut sebagai kampanye yang cukup sukses dan paling mampu menjangkau banyak kalangan. Banyak orang tua yang menyaksikan tayangan ini sampai meneteskan air mata. Entah karena terharu menyaksikan anak kecil yang begitu luar biasa, atau menangis karena sedih anak mereka tidak bisa menjadi seperti yang mereka lihat di layar kaca.

Jejaring lembaga pendidikan juga memiliki andil yang besar. Sekolah-sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Perguruan Tinggi yang menawarkan program tahfidz menjadi sekolah yang cukup banyak dilirik oleh masyarakat. Ada sekolah-sekolah kelas menengah ke atas yang menawarkan program ini. Sekolah ini banyak diisi oleh masyarakat kelas menengah muslim.

Di sisi lain, gelontoran dana untuk Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan program Tahfidz juga luar biasa besar, sehingga banyak dari lembaga pendidikan ini memberikan beasiswa pendidikan secara penuh. Lengkap dengan asrama dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Faktor-faktor di atas saling berkait kelindan untuk mendukung suksesnya kampanye menghafalkan Alquran. Menghafalkan Alquran dianggap sebagai gawang moralitas di tengah dunia yang gersang akan nilai-nilai spiritual. Di tengah masyarakat yang begitu rusak, menghafalkan Alquran seolah menjadi solusi yang menawan.

Menguasai IPTEK

Tentu hal ini adalah sesuatu yang harus disyukuri. Namun, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama, sebagaimana agama-agama lain, Islam juga mengaku sebagai agama yang benar, dan umatnya adalah umat yang terbaik (khoiru ummah). Janji Allah bahwa umat Islam adalah umat terbaik sudah pasti benar. Dan tugas kita adalah membuktikan janji tersebut.

Baca Juga  Konsep Ahlul Quran, Siapakah Keluarga Allah?

Untuk mencapai peradaban utama, umat Islam perlu menguasai ilmu pengetahuan. Sedangkan ilmu pengetahuan tidak selalu berasal dari penghafalan terhadap Alquran. Penguasaan IPTEK seperti fisika, kimia, kedokteran, matematika, filsafat, teknik, komputer, dan disiplin ilmu yang lain menjadi salah satu syarat utama agar peradaban manusia menjadi maju. Beberapa orang berpendapat bahwa semua ilmu sudah ada dalam Alquran. Tapi yang perlu diingat adalah bahwa ada di dalam Alquran, tidak berarti harus menghafalkan Alquran.

Maka, tugas mulia sejatinya tidak hanya diemban oleh para penghafal Alquran sendirian. Namun juga oleh para saintis, programmer, filosof, dan elemen masyarakat yang lain. Sehingga sejatinya tidak tepat jika orang tua melihat keberhasilan anak hanya dari hafalan terhadap Alquran saja. Orang tua juga pantas untuk menangis ketika anaknya tidak mendapatkan akses bacaan yang luas misalnya.

Hafalan Bukan Parameter Kesalehan

Kedua, hafal Alquran juga tidak elok jika menjadi satu-satunya alat ukur kesalehan. Bahwa alat ukur kesalehan yang paling universal adalah moralitas kemanusiaan. Dan hafal akan ayat-ayat Alquran juga tidak selalu berbanding lurus dengan kesalehan. Meskipun tentu sangat banyak penghafal Alquran yang bermoral baik.

Artinya, tidak semua orang harus menjadi penghafal Alquran. Banyak jalan untuk menjadi manusia yang baik dan bermanfaat. Maka, pandangan negatif terhadap orang-orang yang tidak hafal dan tidak menghafalkan Alquran, sembari merasa suci ketika menghafalkan Alquran, pantas untuk dipertanyakan. Jangan-jangan kita tidak menyembah Tuhan, namun menyembah hafalan kita?

Manusia hadir di muka bumi adalah untuk menjadi khalifah. Artinya untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain, memajukan peradaban, dan menghapus nilai-nilai keburukan. Jika itu dibarengi dengan penghafalan terhadap ayat-ayat suci Alquran, tentu itu sangat baik. Namun jika tidak, tentu tidak mengapa.

Baca Juga  Teologi Pembebasan Menurut Ali Syari'ati

Hafalan untuk Hafalan

Ketiga, hafalan Alquran tidak boleh hanya untuk hafalan itu sendiri. Artinya, pasca seseorang menghafalkan Alquran, dia harus melakukan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat, berangkat dari pemahaman terhadap Alquran. Yang sering terjadi adalah bahwa orang menghafalkan Alquran untuk mengulangnya sepanjang hayat, dan berhenti pada titik itu saja.

Sejatinya, orang yang hafal Alquran adalah orang yang paham terhadap substansi pesan Alquran. Sementara salah satu pesan Alquran adalah agar manusia menjadi bermanfaat dan memberikan sumbangsih untuk masyarakat. Maka, ia harus berada di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan perbaikan. Tidak boleh mengurung diri di tembok megah pesantren, dan terlepas dari realitas masyarakat.

Ada analogi yang sangat masyhur yang dikutip oleh Kuntowijoyo dari Muhammad Iqbal. Ada seorang sufi berkata bahwa jika ia menjadi Nabi Muhammad, ia tidak akan kembali ke muka bumi ketika ia berada di hadapan Tuhan. Yaitu pada peristiwa mi’raj, ketika Nabi Muhammad mendapatkan perintah salat.

Hal tersebut karena Nabi Muhammad sudah mencapai maqam yang sangat tinggi, sehingga tidak perlu lagi turun ke bumi dan menjauh dari Tuhan. Namun Nabi Muhammad tidak seperti itu. Ia tetap turun ke bumi untuk menyerukan kebaikan di tengah umatnya. Inilah yang kemudian disebut sebagai etika profetik oleh Kuntowijoyo.

Maka, para penghafal Alquran juga jangan sampai berdiam diri dalam kenyamanan di tengah dinding-dinding pesantren. Mereka harus turun ke realitas masyarakat dan menyerukan pesan-pesan kebaikan. Jangan sampai kenyamanan muroja’ah membuat lalai dari urusan umat.

Dalam hal ini, Kuntowijoyo menulis sebait puisi yang cukup indah. Ia menulis:

“Sebagai hadiah, malaikat menanyakan apakah aku ingin berjalan di atas mega

Baca Juga  Pandangan Theodore Noldeke Tentang Wahyu Al-Quran

Dan aku menolak

Karena kakiku masih di bumi

Sampai kejahatan terakhir dimusnahkan

Sampai dhu’afa dan mustadh’afin diangkat Tuhan dari penderitaan”