Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tiga Kebebasan Dasar Umat Terbaik dalam Al-Qur’an

kebebasan dasar
Sumber: https://medium.com

Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman untuk manusia dalam menjalani kehidupan. Berbagai jawaban atas masalah-masalah yang di alami umat terdapat dalam kitab suci yang diturunkan melalui Nabi Muhammad. Salah satunya permasalahan mengenai bagaimana umat Islam dapat menjadi umat terbaik. Umat yang memiliki kebebasan dasar.

Qur’an Surah Ali Imran ayat 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia; menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Ayat di atas sering dijadikan sebagai acuan agar kita dapat menjadi umat yang terbaik. Menurut Buya Hamka, Umat Islam diperintahkan secara langsung untuk untuk mengajak pada kebaikan (Amar Ma’ruf), mencegah pada keburukan (Nahi Munkar) dan Iman kepada Allah. Ketiga hal tersebut menjadi syarat agar bisa menjadi umat terbaik. Selain itu, Hamka menuliskan mengenai kebebasan atas dasar iman kepada Allah. Menurutnya terdapat tiga kebebasan yang harus dimiliki manusia agar dapat mencapai martabat tertinggi di dunia

Kebebasan Kemauan (karsa)

Kebebasan kemauan atau karsa juga disebut oleh Hamka dengan kebebasan iradat. Ketika seseorang telah memiliki kebebasan kemauan atau karsa, maka ia akan berani untuk melakukan amar ma’ruf. Bentuk amar ma’ruf tidak hanya berupa kalimat persuasif agar seseorang terpengaruh untuk berbuat kebaikan; akan tetapi dapat dimulai dari diri sendiri untuk melaksanakan perbuatan-perbuatan yang ma’ruf. Apabila seseorang telah memiliki amanah sebagai pemimpin. Hendaknya ia memiliki cita-cita agar membawa anggotanya ke dalam keadaan yang lebih baik agar dapat mencapai keadaan yang lebih, yaitu lebih sempurna dan lebih bahagia.

Baca Juga  Peranan Logika dalam Ilmu Hadis

Seperti halnya seorang ayah yang memimpin sebuah keluarga. Dalam menjalani bahtera rumah tangga, seorang ayah akan ditugaskan menjadi nahkoda bagi keluarganya. Oleh karena itu, hendaknya seorang ayah berkemauan yang baik untuk anak dan istinya. Bercita-cita membawa keluarganya agar selalu berjalan dengan ridha dari Allah dengan cara memuliakan istrinya, memberi hak kepada anaknya untuk mendapat kasih sayang dan mengampuh pendidikan; melarang anak dan istrinya berbuat yang dilarang agama dan berbagai kebaikan lainnya yang bertujuan agar kehidupan keluarganya menjadi lebih baik.

Kebebasan Pikiran (priksa)

Kebebasan priksa didapatkan oleh seseorang setelah ia mendapatkan kebebasan karsa. Kebabasan ini merupakan wujud dari keberanian seseorang untuk menyatakan suatu itu ma’ruf atau munkar. Menyatakan sesuatu yang ma’ruf lebih mudah daripada menyatakan sesuatu yang munkar. Hal ini dikarenakan mengatakan sesuatu yang munkar dapat berpotensi membuat orang lain tersinggung hingga marah, terlebih lagi hal yang munkar itu telah menjadi hal yang biasa di tengah masyarakat. Karena bagaimanapun manusia adalah budak kebiasaannya. Tetapi, menormalisasikan sesuatu yang munkar adalah sebuah kesalahan besar. Bagaimanapun hal yang munkar harus ditentang dengan cara yang baik dan yang ma’ruf harus tetap ditegakkan.

Kebebasan jiwa dari keraguan (rasa)

Rasa inilah yang sejatinya paling mendasar. Kebebasan yang dimiliki manusia atas dasar keimanan kepada Allah akan menghilangkan segala keraguan dan ketakutan di hatinya. Beriman kepada Allah akan menumbuhkan rasa tanggung jawab dan berani dalam menghadapi segala yang terjadi di kehidupan karena ketakutannya hanya pada siksa yang terjadi setelah kematian.

Maka dari itu, kebebasan jiwa karena adanya rasa percaya kepada Allah tidak akan memiliki tempat untuk mempersekutukanNya. Kemerdekaan rasa inilah yang dapat menimbulkan kemerdekaan karsa dan priksa hingga tercapainya seorang manusia berperangai amar ma’ruf nahi munkar untuk menjadi sebaik-baik umat.

Baca Juga  Proses Hujan dalam Tafsir Ilmiah: Tantawi Al-Jauhari

Kebebasan Dasar

Dalam tafsinya, Hamka menuliskan bahwa berawal dari kepercayaan kepada Allah dapat mengikat kebebesan seseorang melalui syariat. Kebebasan tanpa adanya ikatan akan menimbulkan kekacauan yang justru musuh utama dari kemerdekaan. Kebebasan diri sendiri akan terhenti jika bertemu dengan kebebasan orang lain. Agar tidak terdapat kekacauan, akhlak menjadi penghubung antar kebebasan yang ada pada diri manusia.

Dalam menafsirkan akhir Q.S Ali-Imran ayat 110, Hamka menuliskan sekiranya para ahli kitab beriman kepada Allah dan diiringi dengan amar ma’ruf nahi munkar maka habislah perpecahan dan perselisihan mengenai kepercayaan yang diyakini serta kembali kepada hakikat agama yang sebenarnya, yiatu penyerahan diri kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, agar dapat menjadi sebaik-baik umat hendaknya umat Islam mengimplementasikan ketiga syarat yang telah tercanttum dalam Q.S Ali-Imran ayat 110 yaitu amar ma’ruf, nahi munkar dan iman kepada Allah. Ketiga syarat tersebut merupakan hasil dati kebebasan atau kemerdekaan karsa, priksa dan raksa. Hal ini dapat dimulai dari meningkatkan keimanan kita kepada Allah agar mencapai kebebasan yang paling mendasar, yaitu kebebasan jiwa dari keragan dan kemudian diikuti dengan dua kebebasan yang lainnya.