Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Teori Relativitas Waktu Ditinjau dari Perspektif al-Qur’an

Relativitas waktu
Gambar: tribunnews.com

Penulis merasa tidak ada henti-hentinya merasa kagum akan kemukjizatan al-Qur’an sebagai bentuk respon yang didatangkan atas banyaknya pemikiran rumit yang dilahirkan oleh manusia. Salah satunya teori relativitas waktu yang dicetuskan oleh Albert Einstein, seorang ahli fisika pada tahun 1905. Jauh setelah al-Qur’an menyebutnya terlebih dahulu.

Dalam al-Qur’an termaktub teori relativitas waktu. Al-Qur’an yang diturunkan 15 abad yang lalu ternyata telah menjelaskan gejala alam yang dapat kita sebut dengan dilatasi waktu, perpanjangan waktu atau relativitas waktu yang terjadi pada sejumlah pemuda yang bersembunyi dalam sebuah gua. Sebagaimana yang termaktub dalam surah al-Kahf.

Apa Itu Relativitas Waktu?

Sebelum kita masuk kepada penjelasan Einsten yang cukup rumit. Di sini penulis akan membuat permisalan sederhana tentang relativitas waktu. Untuk memahami relativitas waktu atau dilatasi waktu, dapat diumpamakan seperti kita sedang dihadapkan dengan apa dan siapa. Dalam kondisi yang berbeda, waktu akan berjalan berbeda pula. Dalam arti lain, dalam kondisi yang berbeda pula, waktu juga dapat berjalan dengan lambat maupun dengan cepat dalam permisalan ini terjadi dari perkiraan kita.

Misalnya, ketika anda pergi liburan bersama keluarga dimulai dari pagi hari. Waktu akan terasa menyenangkan sehingga waktu berjalan begitu sangat cepat. Bahkan sering terlontar di mulut kita “gak kerasa udah sore aja”. Berbeda dengan ketika anda bersama guru anda, kemudian disuruh mengerjakan tugas matematika yang begitu rumit dalam ruang kelas. Detik-detik waktu terasa begitu menegangkan dan berjalan begitu lambat. Belajar matematika satu menit sudah terasa seperti satu jam. Inilah bentuk ilustrasi dalam mendefinisikan relativitas waktu atau dilatasi waktu tersebut.

Sekarang kita masuk kepada defenisi ilmiah yang disampaikan oleh Albert Einsten. Einsten memiliki rumus bahwa waktu, lintasan, ataupun massa benda yang biasa kita ukur dan timbang, nilainya tidak tetap tetapi berubah-ubah. Bisa lebih besar dan kecil. Menurut Einsten, tidak ada nilai mutlak untuk besaran-besaran di dunia ini. Tidak ada yang nilainya tetap pada besaran seperti massa (berat), panjang, volume, dan sebagainya.

Baca Juga  Malik Fadjar dan Tafsir “Atsaris Sujūd”

Contoh seperti massa benda, sebuah benda dibumi tentu berbeda jika ditimbang di luar angkasa. Kecuali kecepatan cahaya. Kenapa ada pengecualian terhadap kecepatan cahaya? Di sini Einsten menjelaskan bahwa kecepatan cahaya adalah besaran yang nilainya mutlak. Tidak di bumi, luar angkasa, maupun ruang hampa atau kerapatan udara yang ekstrem, besaran kecepatan cahaya adalah mutlak.

Kecepatan Cahaya Selalu Tetap

Kecepatan cahaya tidak bergantung pada kecepatan sumbernya maupun pengamatnya. Sifat dari kecepatan cahaya tetap walau bagaimanapun sumber dan pengamatnya. Misalnya ada dua benda yang bergerak satu sama lain dengan kecepatan berbeda, maka pengamat yang bergerak dengan kecepatan lebih kecil akan mengalami waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pengamat kedua yang lebih cepat. Inilah relativitas waktu dan Einsten memiliki formulasi atau rumus matematika untuk dilatasi waktu.

Dalam kehidupan sehari-hari, ternyata gejala dilatasi waktu tidak bisa kita amati. Hal tersebut karena kita bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih kecil dibandingkan kecepatan cahaya. Seperti pesawat supersonik saja hanya 3 atau 4 kali kecepatan suara, yaitu 1km/detik.

Dalam pengertian sederhana, satu tahun bagi astronot yang berada di antariksa berarti sama dengan 9 tahun kita di bumi. Jika astronot telah menempuh perjalanan selama 10 tahun di antariksa, kita di bumi telah lebih tua 90 tahun. Hal tersebut karena perbedaan kecepatan acuan tersebut.

Adanya relativitas suatu besaran dan kemutlakan ukuran kecepatan cahaya menjadikan waktu bisa lambat dan bisa cepat. Meskipun dalam perhitungan kita, sama. Contoh-contoh tadi membuktikan bahwa dalam waktu (perhitungan kita) sama, bisa terjadi perbedaan usia seperti 10 tahun: 90 tahun. 1 Hari:300 tahun.

Melihat Perspektif Al-Qur’an

“Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?”. Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.”Berkata (yang lain),“Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini)” (QS Al-Kahf [18]: 19).

Dan mereka tinggal di dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.(QS Al-Kahf [18]: 25)

Al-Qur’an lebih dahulu mengukir ilmu ini di dalam surah al-Kahfi. Dalam surah tersebut dikisahkan tiga pemuda saleh yang menghindari kemusyrikan umatnya waktu itu. Mereka bersembunyi dalam gua, berdoa dan bermunajat kepada Rabb-nya.

Baca Juga  Literatur Tafsir Muhammadiyah: Dari Carakan Hingga Website

“Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (QS Al-Kahf [18]: 10)

Lalu Allah memberikan rahmat-Nya. Para pemuda tersebut tinggal di dalam gua selama 300 tahun dalam hitungan kalender matahari (Syamsiah), 300 ditambah dengan 9 tahun (309) dalam tahun Qamariah (perhitungan tahun berdasarkan peredaran bulan). Di sini penulis dapat berspekulasi bahwa ada kemungkinan bahwa Allah mempercepat ashabul kahfi dalam gua hingga mencapai sepersekian kali kecepatan cahaya sehingga terjadinya gejala relativitas waktu.

Satu hari, dalam perhitungan mereka, sama dengan 300 tahun perhitungan manusia selain mereka. Itulah kebesaran Allah. Padahal jika secara logika saja, dalam hal teori, kondisi percepatan yang dialami oleh ashabul kahfi adalah sesuatu yang terbilang mustahil bagi tubuh manusia. Karena dengan percepatan waktu tersebut tubuh manusia akan berwujud gas atau lebih ringan lagi.

Ini dapat dikatakan sebagai gejala relativitas. Sebuah ketentuan yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang ada didunia ini adalah relatif, kecuali kecepatan cahaya. Sebuah teori atau hukum alam yang telah ditemukan pada abad ke-20. Namun jauh dari sebelum itu semua, teori tersebut sudah termaktub dalam al-Qur’an yang diturunkan berabad-abad lampau (Maghfirah: 2015, h. 111)

Penyunting: M. Bukhari Muslim