Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Teologi Kiri: Menelisik Pemikiran Abdul Munir Mulkhan

mulkhan
Sumber: https://panjimasyarakat.com/

Islam sejak kedatangannya yang diwahyukan kepada para Nabi sudah membawa misi rahmatan lil alamin. Misi ini tentunya mempunyai konsekuensi tersendiri, di mana keharusan umat manusia untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya. Bukan hanya itu, ajaran Islam kemudian bukan hanya untuk dijadikan ritual semata. Karena Islam hadir di tengah umat untuk merubah tatanan masyarakat yang jahiliyah menjadi Islamiyah. Kisah Nabi Luth, Musa, Yusuf, Ibrahim, Muhammad dan yang lainnya merupakan tugas murni yang dilakukan untuk membebaskan kaum yang tertindas (termarjinalkan) akibat dari status sosial di masyarakat. Sehingga para Nabi mengajarkan, bukan status sosial yang menjadikan umat manusia mendapatkan kedudukan dari Allah Swt melainkan kadar ketaqwaan dari umatnya. Dalam menjawab keresahan itu muncul seorang cendekiawan muslim bernama Abdul Munir Mulkhan yang menawarkan pemikirannya tentang teologi kiri.

Abdul Munir Mulkhan mencoba meretas pemahaman umat muslim yang ditulis dalam bukunya yang berjudul “teologi kiri: landasan gerakan membela kaum mustadl’afin” yang mengaku beragama namun hanya dijadikan sebagai ritus semata. Dalam buku ini, teologi yang dimaksud bagaimana konsep tentang Tuhan ini, dijadikan sebagai orientasi kemanusiaan. Sekilas buku yang ditulis oleh pak Munir ini sama dengan gerakan yang dilakukan oleh Ahamad Dahlan yang mencoba menginterpretasikan surah Al-Maun menjadi gerakan sosial saat itu. Namun yang membedakan ialah buku ini mengkritik sifat keagamaan yang dilakukan itu lebih condong kepada bagaimana mendapatkan pahala dari Allah, sementara itu Tuhan tidak membutuhkan bagaimana manusia menyembahnya, melainkan bagaimana agama hadir membawa nilai-nilai tuhan untuk kesejahteraan manusia.

Ritus ke Aksi

Teologi kiri yang dimaksud oleh Abdul Munir Mulkhan ialah teologi yang  yang bersumber dari ajaran-ajaran sosial Islam yang dijadikan sebagai asas gerakan. Kiri yang dimaksud pula di sini bukan gerakan revolusioner sosialis maupun komunisme dalam melawan kapitalisme. Melainkan gerakan teologi kiri ini, menjadikan nilai-nilai Tuhan menjadi basis gerakan umat Islam dalam membela kaum yang termarjinalkan. Dalam hal ini, umat Islam sebagai mayoritas dari penduduk Indonesia menjadikan Islam sebagai gerakan sosial yang besar terhadap perubahan situasi sosail di masyarakat. Sehingga Islam bukan hanya berada pada tataran konsep yang selalu di gembar-gemborkan kehebatannya, namun bagaimana bisa menjadi gerakan nyata di kalangan umat manusia.

Baca Juga  Buya H. Zainuddin Hamidy; Mufasir dengan Gelar "Angku Mudo"

Abdul Munir Mulkhan mencoba mensiasati konsep tersebut agar jangan hanya berada pada tataran ritus. Banyak orang mengerjakan sholat, puasa naik Haji, zakat dan sebagainya. Tapi itu belum mampu berpengaruh terhadap realitas sosial yang ada. Bahkan Abdul Munir Mulkhan mengkritik memudarnya solidaritas idiologi. Di mana ajaran agama Islam dikatakan jika satu muslim mengalami kesusahan ataupun dilukai, maka muslim yang lainnya merasakan pula. Namun realitas yang terjadi bahkan sesama seakidah saling mengeksploitasi mengambil keuntungan terhadap suadaranya yang lain. Teologi kiri bagaimana Abdul Munir Mulkhan mengharapkan agar hadir dalam seluruh sendi kehidupan umat manusia, teologi kiri ini hadir, secara normative pembebasan seseorang atau sekelompok orang dari derita kemiskinan, dari kebodohan dan ancaman ketertindasan, serta perlakuan tidak adil merupakan tujuan sehingga Islam diwahyukan kepada Nabi sebagai pokok dari ajaran yang diwahyukan (tulis Pak Munir).

Jika meminjam bahasa Karl Marx dikatakan bahwa agama adalah candu, itu bukan maksud yang mengatakan bahwa agama dalam konotasi negatif. Melainkan yang dimaksud ialah bagaimana pemeluk agama ketika mendapatkan masalah, hanya mampu pasrah dan tidak berbuat apa-apa sehingga membuat keadaan umat manusia semakin buruk. Sementara itu misi utama ajaran Islam ialah  menjadikan ahklak, zakat Haji, sedekah menjadi ritus yang berkesinambungan.

Fokus Mencari Tuhan

Terkadang manusia tidak mampu memahami apa esensi ia beragama. Dalam Islam dikatakan bahwa Tuhan itu lebih dekat dibandingkan urat nadimu. Ada juga yang mengatakan jika ingin mengenal Tuhan maka kenallah dirimu. Akhirnya pencarian jati diri, menjadikan tugas utama manusia diciptakan dimuka bumi ini terabaikan. Bahkan kata Abdul Munir Mulkhan konflik yang selama ini terjadi sudah memasuki ranah keagamaan. Kata Abdul Munir Mulkhan ritual keagamaan cenderung lebih formalistik dan elitis, sehingga praktek agama kurang etika sesuai dengan etika publik kurang apresiatif terhadap HAM dan demokratisasi. Ia juga menjelaskan dalam memahami agama, kaum tertindas sesungguhnya tidak tidak terlalu memikirkan tafsir baru agama. Namun yang menjadi harapan dari mereka ialah kehadiran agama yang mampu memberikan solusi terhadap persoalan kemanusiaan secara obyektif. Sehingga Abdul Munir Mulkhan merumuskan konsep teologi yang selalu di perbincangkan untuk menjadi solusi atas permasalahan kemanusiaan di atas oleh mereka yang mengaku bertuhan.

Baca Juga  Oman Fathurahman dan Enam Alur Penelitian Filologi

Jadi kesalehan yang dimaksud oleh Abdul Munir Mulkhan adalah kepeduliaan atas kemanusiaan dan pembebasan kaum tertindas. Ini merupaka tugas suci, yang harus benar-benar di kerjakan apalagi melihat keadaan zaman saat ini. Dengan ketidakpastian dalam hidup, sistem kapitalis menggorogoti aspek kehidupan menjadikan yang kaya semakin kaya, dan yang miskin semakin miskin. Islam sebagai agama mayoritas seharusnya mampu mengimplementasikan nilai-nilai tauhid dalam mencari jalan untuk mengeluarkan umat manusia yang mengalami ketertindasan. Jika dulu Umar Bin Khatab berkeliling ke rumah warga di tengah malam, mendengarkan umatnmya jika masih ada yang tidur dalam keadaan lapar, maka ia akan langsung memberikannya kebutuhan untuk makan. Namun di negara kita banyak anak-anak terlantar. Menjadi pengemis, tidur di kolong jembatan dan sebagainya. Tidak mampu membuat kita menjadi ibah dan untuk membantu. Apakah memang Islam saat ini hanya mampu dalam konsep dan teori.? Ataukah bisa kita contoh para ulama-ulama terdahulu.? Walahu a’lam

Editor: An-Najmi Fikri R

Asman
Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta