Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Teologi Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Mu’tazilah

muktazilah
Sumber: https://pecihitam.org/

Istilah amar ma’ruf nahi munkar cukup familiar di Indonesia. Sebenarnya istilah itu sendiri dari dua pengertian penting, yakni ma’ruf dan munkar. Tetapi, sebagai kata yang berdiri sendiri, dua kata itu kurang dikenal. Kecuali istilah munkar yang kadang-kadang dipakai. Biasanya kata itu didahului dengan kata “perubahan,” sehingga menjadi “perbuatan munkar”.

Amr Ma’ruf Nahi Munkar dalam Teologi

Kelaziman itu nyata karena umpamanya, ulama-pemikir terkenal, Syaykh-u ‘l-Islam Taqiy Al-Din Abu al-Abbas yang lebih dikenal dengan nama Ibn Taymiyah itu menulis sebuah buku khusus dengan judul al-Amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahi ‘an-i’l-Munkar (sudah diterjemahkan menjadi buku kecil berjudul Etika Beramar Ma’ruf Nahi Munkar, Gema Insani Press, 1992. Selain itu, dua penerbit lain juga menerbitkan terjemahannya).

Dalam tradisi pemikiran islam, dua kata itu memang telah menjadi satu Mu’tazilah, sebuah aliran teologi islam abad pertengahan. Ternyata telah memasukkan amr ma’ruf nahi munkar tersebut sebagai rukun Iman yang keenam, sebagaimana kaum Syi’ah telah memasukkan jihad sebagai rukun islam yang keenam pula.

Agaknya, ada kesejajaran pemikiran antara kaum Mu’tazilah dan Syi’ah, berkaitan kedekatan makna amr ma’ruf nahi munkar dengan jihad. Kaum Mu’tazilah ternyata sedemikian keras memegang doktrin ini sebagai bagian dari keimanan mereka, sehingga mereka berpendapat bahwa amr ma’ruf nahi munkar itu harus di tegakkan secara konsekuen.

Bahkan, kalau perlu dengan kekerasan, walaupun menurut rumusan Zamakhsyari, tindakan kekerasan ini hanya dilakukan sebagai langkah terakhir, sesudah peringatan yang lemah lembut dilakukan. Mu’tazilah ialah sebuah aliran teologi abad ke-8M/2H, yang di pelopori oleh Washil ibn Atha’ (700-780) yang menentang dan memisahkan diri dari gurunya, Imam Hasan al-Bashri, pada suatu hari di Masjid Raya Bashrah.

Baca Juga  Kemajuan Umat Islam Artificial Intelligence, Nyata Atau Wacana?

Untuk memahami doktrin kaum Mu’tazilah ini, bisa diketemukan kasus perbedaan pendirian dan sikap tiga aliran teologi Islam tentang iman dan dosa. Menurut Washil ibn Atha’, yang menentang pendapat Imam Hasan al-Bashri, seorang mukmin yang telah melakukan dosa besar (berzinah, korupsi, membunuh), jika tidak bertobat, maka statusnya tidak mukmin (beriman) lagi.

Tetapi jatuh kedalam kategori fasiq, namun belum jatuh kedalam kategori kafir. Mengenai hal ini, Imam Hasan al-Bashri berpendapat, bahwa orang tersebut, jika tidak dinyatakan dirinya kafir, ia masih berhak status mukmin. Pendapat yang diametral datang dari kaum Khawarij. Mereka berpendapat, orang seperti Muawiyah, yang telah melakukan kecurangan dalam berperang dan berebut kekuasaan kekhalifahan dengan Ali, telah melakukan dosa besar, dan karena itu hanya berhak dengan status kafir.

Di antara kedua pendapat yang beroposisi itu, kaum Mu’tazilah berada di tengah-tengah. Orang mukmin yang melakukan dosa besar berada pada suatu posisi di antara dua status (al-manzilah bayn-a ‘l-manzilatayn). Kesimpulan ini diambil berdasarkan argumen rasional. Pendapat-pendapat ini sebenarnya mempunyai implikasi pada sikap yang perlu diambil terhadap seorang pendosa atau pelaku suatu kejahatan. Kaum Khawarij akan menghukum pendosa atau pelaku suatu kejahatan.

Kaum khawarij akan menghukum pendosa besar, sebagaimana sikap mereka terhadap Mu’awiyah dan pengikutnya.Tetapi kaum Mu’tazilah akan berjuang amr ma’ruf nahi munkar, dengan cara mencegah perbuatan dosa, dan mendorong para pendosa supaya sadar, memohon ampunan kepada Allah dan tentu saja. Dihukum jika ternyata bersalah melanggar hukum.

Amar Ma’ruf dalam Tafsir Mu’tazilah

Untuk paham itu, kaum Mu’tazilah merumuskan lima ajaran dasar: (1) tauhid atau mengesakan Allah, (2) percaya kepada keadilan Allah, atau berpendapat bahwa sifat Allah yang paling hakiki ialah keadilan, (3) menempatkan diri di antara dua posisi, yang dapat ditafsirkan sebagai pengambilan sikap moderat, (4) janji baik dan ancaman Allah (Bashira wa nazhiran), dan (5) amr ma’ruf nahi munkar.

Sekalipun dalam teologi, mu’tazilah mengambil sikap moderat, namun ketika mereka berada dalam posisi berkuasa pada masa Khalifah al-Ma’mun dari Dinasti Abbasiyah, ternyata mereka memaksakan pendirian mereka kepada golongan lain. Ini karena mereka bersikap keras dalam menegakkan keadilan dan menjalankan amr ma’ruf nahi munkar secara konsekuen kalau perlu dengan kekerasan.

Baca Juga  Penyebab Terbelakangnya Perkembangan Pendidikan Islam

Akibatnya, kaum Mu’tazilah banyak ditentang oleh kelompok pendukung Ahl al-Sunnah Wa al-jama’ah, dan ketika Khalifah Mutawakkil berpihak kepada golongan Ahl al-Sunnah Wa al-jama’ah, maka berakhirlah kekuasaan mereka hingga 846 M/234 H saja. Bahkan ketika berada di luar kekuasaan, kaum Mu’tazilah menjadi golongan yang dikejar-kejar penguasa, sehingga aliran ini menjadi lemah. Namun, mereka berhasil melakukan kebangkitan kembali di Irak dan Persia. Golongan Syi’ah mengambil oper teologi Mu’tazilah dan melahirkan ulama’ terkemuka Qadli al-Qudlaf Abdu’l Jabbar (w. 1025 M/415 H).

Ulama’ besar ahli tafsir Al-Zamakhsyari (w. 114 M/538 H) ini, adalah salah seorang Penganut teologi Mu’tazilah. Dewasa ini, aliran Mu’tazilah ini masih hidup dan dipelihara dikalangan Syi’ah, karena agaknya kaum Syi’ah merasa cocok dengan doktrin-doktrin dasar teori Mu’tazilah. Dalam Syi’ah, Rukun Islam ke-6 ialah jihad. Dan ini mengingatkan kita pada doktrin amr ma’ruf nahi munkar. Keduanya mengandung nada maknawi yang sama.

Selama berabad-abad, kaum syi’ah ialah golongan yang berada di luar kekuasaan. Mereka kaum Syi’ah tidak hanya ber-oposisi, tetapi dimusuhi juga oleh golongan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Sementara itu, semenjak al-Mutawakkil, kaum Mu’tazilah ialah mereka yang di kucilkan. Posisi oposisi inilah agaknya yang mendorong kaum Syi’ah sejak zaman Mu’awiyah mengambil doktrin jihad yang lebih tegas, dan lebih memberi semangat daripada doktrin amr ma’ruf nahi munkar yang dirumuskan oleh kaum Mu’tazilah.

Editor: An-Najmi Fikri R