Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tangisan Terbaik Menurut Al-Qur’an: Tafsir QS. Al-Isra Ayat 109

Sumber: https://www.pinterest.com/

Manusia memperankan sosok khalifah yang diciptakan untuk beribadah. Menyandarkan hidup sepenuhnya kepada Allah tak peduli susah atau senang, berat ataupun ringan, tertawa atau tangisan, semuanya kita kembalikan kepada Allah. Semangkin hari hati banyak lupa untuk selalu memupuk rindu pada sang pencipta terlalu bergembira seakan lupa menyadari bahwa semua yang dilakukan telah masuk kedalam kubangan perbuatan yang dilarang oleh Al-Qur’an dan sunnah. Begitu terlena akan keindahan sandiwara dunia yang bersifat fana, bersikap berlebihan bahkan sampai menangisi dunia yang sudah jelas bersifat sementara.

Menangis adalah Fitrah

Bukan menangis karena terharu melihat atau mendengar kejadian yang menyedihkan atau terharu ketika mendapatkan kebahagiaan. Bukan ini yang dimaksud menangis karena orang kafir dan munafik juga menangis atau karena memang pembawaannya gampang menangis. Menangis seperti ini adalah fitrah manusia. Bahkan ketika ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan dan ketika membaca perjuangan nabi dan sahabat dalam membela islam kita justru sulit untuk menangis.

Bagaimana dapat dikatakan sebagai seorang muslim yang beriman, sedangkan rasa takut kepada Allah tak pernah ada hinggap di hati. Air mata seakan kering seolah-olah merasa aman akan diri yang selalu gemar melakukan maksiat, menangisi untuk hal-hal yang tidak berharga di dalam kesempatan terkadang para perempuan menangisi lelaki yang bukan Mahromnya, begitupun sebaliknya, meratab menangisi alur cerita film yang mereka tonton, bahkan menangisi secara berlebihan artis idola yang mereka gemari.

Tangisan Terbaik

Lantas Pernahkan kita luangkan sejenak di dalam seumur hidup kita menagis karena Allah? Menangis karena kita terlalu banyak berbuat dosa? Atau menangis bahwa diri ini adalah makhluk lemah dihadapan Allah? Menangis ketika dibacakannya ayat-ayat Allah? Allah berfirman dalam Qs, Al-Isra ayat 109:

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 31-33: Adam Sebagai Khalifah

وَيَخِرُّوۡنَ لِلۡاَذۡقَانِ يَبۡكُوۡنَ وَيَزِيۡدُهُمۡ خُشُوۡعًا

Artinya : Dan mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.

Dalam tafsir Fathul Qadir Imam Asy-Syaukani menjelaskan Allah menyebutkan bahwa mereka bersungkur sujud dalam keadaan menangis karena perbedaan sebab, yang pertama untuk mengagungkan dan menyucikan Allah SWT, sedangkan yang kedua untuk menangis karena dampak wejangan Al-Qur’an kedalam hati mereka dan bertambahnya kekhusukan mereka. Oleh karena itu Allah mengatakan وَيَزِيۡدُهُم (dan mereka bertambah ) karena mereka mendengarkan Al-Qur’an dan خُشُوۡعًا(khusu’), yakni lembutnya hati dan sejuknya mata. (Imam Asy-Syaukani, Tafsir Fathul Qadir)

Salah satu iman yang tidak dapat direkayasa adalah ketika menangis karena Allah. Karena tangisan ini akan timbul ketika muncul perasaan takut kepada Allah, bergetar hatinya ketika dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut nama Allah mengunjang jiwanya ketika mulai terlintas maksiat dan dosa yang dilakukan. Tangisan ini dikatan sebagai tangisan keimanan.

Editor: An-Najmi