Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tahap Penelitian dengan Kajian Semantik Toshihiko Izutsu

izutsu

Bagi pengkaji al-Qur’an, tentu tidak asing terkait istilah semantik.  Kajian ini banyak dikaji kalangan cendekiawan, salahsatunya Toshihiko Izutsu. Izutsu memulai analisa data yang bersumber dari kitab suci, al-Qur’an. Titik keistimewaan pendekatannya terletak munculnya pendekatan baru, yakni pengungkapan khazanah Arab klasik bahkan mulai masa pra-Islam atau yang disebut dengan pra-Qur’anik hingga pasca-Qur’anik.

Semantik Ala Izutsu

Izutsu berusaha menelisik bagaimana kata yang diteliti pada masa jahiliyah atau sebelum adanya ajaran Islam, bagiamana kata tersebut pada masa Islam, berubah atau tidak dengan datangnya konsep ajaran agama Islam, hingga pasca-Islam bagaimana kata yang diteliti mengalami perubahan. Setiap masanya dijelaskan faktor dari adanya perubahan yang ada. Hal demikian menunjukkan bagaimana dalam bahasa memiliki tingkatan yang berbeda, melihat objek, konteks sosial-budaya, dan aspek sosial-politik. kosa kata bukan hanya sekedar menyampaikan makna, namun menunjukkan budaya manusia. Ambil saja budaya jawa terdapat sebutan “kamu” dengan sebutan berbeda-beda sampean, jenengan.

Menganalisa konsep dalam al-Qur’an sebagai langkah yang ditempuh setelah pengumpulan data, hingga ditemukan pengertian dari pandangan dunia (weltanschauung) dari data yang ditelisik. Secara sederhana dapat dimengerti bahwa semantik merupakan kajian tentang sifat dan pandangan dunia sekarang ataupun pada masanya yang signifikan terhadap metodologis yang digunakan dengan adanya konsep-konsep pokok yang sudah dihasilkan.

Dalam konteks al-Qur’an, kajian semantik memulai kajian dengan menemukan seluruh kosa kata yang berkaitan antara satu sama lain, mencakup semua kata yang dirasa mewakili konsep-konsep penting kemudian menelaah makna kata dari masing-masing kata yang termasuk dalam cakupan al-Qur’an. Hal demikian bukan hanya meliputi konteks terkait asbab an-Nuzul, namun secara keseluruhan, hal demikian dikarenakan terpisahnya konsep-konsep dalam al-Qur’an yang jika dikorelasikan akan mampu menghasilkan makna signifikan.

Baca Juga  Tafsir Al-Ibriz: Tafsir Fenomenal Berbahasa Jawa Karya Bisri Musthofa

Tidak jarang semantik dianggap sebagai ilmu budaya, dengan argumen bahwa semantik menganalisa unsur dasar dan relasional yang mampu memngungkapkan secara jelas budaya yang berkaitan atau pengalaman budaya. Analisis budaya disebut dengan weltanschauung.

Dari uraian diatas ungkapan semantik al-Qur’an  secara sederhana mampu dipahami sebagai pandanagan dunia al-Qur’an atau menganalisis kata kunci dalam al-Qur’an oleh peneliti bahasa dan pandangan dunia. Di mana analisa semantik yang ditujukan kepada al-Qur’an akan mampu membentuk ontologi konkrit. Dalam hal ini Izutsu berusaha mnguraikan konsep pokok dalam pandangan semantik Izutsu dengan tahapan sebagai berikut:

Tahapan Penelitian Semantik Toshihiko Izutsu

Pertama, mencari dan menentukan kata dalam al-Qur’an untuk digunakan sebagai objek penelitian dan kata fokus baru kemudian dikelilingi dengan kata kunci. Susunan sistem Kosakata yang digunakan objek kajian serta dikelilingi dengan kata kunci atau keyword disebut dengan istilah medan semantik. Dapat dipahami bahwa medan semantik merupakan suatu sistem yang terbangun dari kata-kata, kosa kata objek kajian dan kata kunci. Guna memahami, penulis mencoba memberikan contoh kata kafara yang dikelilingi dengan kata kunci syakara dan amana. Kata syirath dikelilingi kata kunci dalal, huda, mustaqim, ihtida.

Kedua, beranjak mengungkapkan makna dasar dan makna relasi yang ada, makna dasar kata kafara adalah tidak berterimakasih, berbeda dengan makna yang timbul dari pandangan al-Qur’an yang bermakan keengganan bersyukur pada Tuhan dengan antonym kata amana.

Langkah ketiga yang diambil adalah berusaha untuk mengungkapkan sisi kesejarahan makna kata. Dalam hal ini tedapat istilah diakronik dan sinkronik. Diakronik  merupakan  analisis dengan menggunakan pengamatan bagaimana kata tersebut di kalangan masyarakat Arab, baik sebelum al-Qur’an diturunkan, masa kenabian, pasca-kenabian, hingga kontemporer, hal tersebut digunakan sebagai tolak ukur seberapa penting kata yang dikaji dalam mewujudkan visi qur’ani.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Nuzuli: Mengangkat Sisi Sosio-Historis al-Qur’an

Sedangkan istilah yang kedua, sinkronik menitikberatkan terhadap analisa yang berkaitan dengan perubahan bahasa beserta makna dari tiap masa, tujuannya tidak jauh berbeda dengan diakronik, dimana tujuan dari sinkronik sebagai pendekatan yang bertujuan untuk mengetahui pemaknaan kata sejak awal hingga menjadi sebuah konsep dalam al-Qur’an yang penting dalam visi Qur’ani.

Hingga sampai pada langkah akhir, langkah keempat mengungkapkan semua konsep yang ditawarkan al-Qur’an kepada pembaca sehingga pembaca mampu untuk mempraktekkan pada kehidupan sehari-hari penuh dengan pemahaman baik yang berhubungan dengan alam semesta, sesama, agar sesuai dengan visi Qur’ani.

Editor: An-Najmi Fikri R