Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Tematik (9): Bahaya Zina

zina
sumber: unsplash.com

Kedatangan Islam atas jasa perjuangan Nabi Saw tak lain kecuali untuk memberi perlindungan, mengayomi, dan mengangkat harkat-martabat manusia. Upaya itu dilakukan dengan adanya hukum/syariat, ada larangan, perintah hingga yang sifatnya anjuran. Menurut al Shatibi, selain Islam datang menjadi pedoman manusia, ia juga memberi hak dan perlindungan dalam kehidupannya.

Salah satu bentuk perlindungan harkat dan martabat manusia yaitu Islam telah menutup rapat zina, karena dianggap menodai dan mengotori kesucian manusia. Lalu membuka solusinya dengan ajaran pernikahan. Allah tegaskan pada QS al Isra 32 : “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Betapa dilarangnya zina, Allah tegaskan dengan larangan mendekatinya. Menurut Wahbah Zuhaili, tidak dibenarkan melakukan sesuatu yang dapat menyebabkan ada peluang untuk melakukan perzinahan. Sebab itu, seolah ingin mempertegas jangan sama sekali melakukan perzinahan, dengan menjauhi segala sesuatu yang berpeluang akan terjadinya perzinahan. Larangan inilah yang menjadikan Nabi Saw melarang berduaan dengan orang yang bukan mahram sebagai cara Nabi untuk mencegah terjadinya perzinahan.

Dengan dilarangnya perzinahan, Islam memberi satu solusi dengan syariat nikah. Mengapa dengan pernikahan? Sebab Islam tak menghendaki untuk memenuhi kebutuhan biologis tersebut dengan cara yang tak benar. Dan jalur pernikahanlah sebagai bentuk kemuliaan manusia untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya.

Jika melihat perkembangan anak millenial dengan tren istilah pacaran yang tidak dibatasi dengan norma dan melewati batas, bisa jadi trend ini membuka “kesempatan” terjadinya perzinahan. Lalu apa alasan Allah melarang perzinahan? Sebab ia adalah tindakan yang sangat keji (kaana fahisyatan).

Menurut Ibn Katsir, perzinahan adalah perbuatan keji karena bagian dari dosa besar.  Sedangkan al Khazin mengungkapkan kejinya zina tak sekedar karena ia maksiat, tapi bagian dari cara merendahkan nilai dan harkat manusia karena perzinahan menjadikan adanya percampuran nasab yang tak jelas. Tak hanya dianggap keji, perzinahan adalah saa sabiilaa (jalan yang buruk). Menurut al Thabari, berzina adalah jalan bagi para pelaku maksiat sebab menyalahi larangan Allah.

Baca Juga  Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat 1

Maka, larangan perzinahan itu disebabkan dua hal. Yaitu tindakan yang sangat keji (faahisyah). Dalam bahasa Indonesia keji adalah perbuatan melanggar susila, hina dan tidak sopan. Alasan yang lain karena ia adalah jalan yang buruk (wa saa sabiilaa). Larangan Allah ini sangat diterima akal sehat dan rasa nurani kemanusiaan bahwa perzinahan adalah tindakan bagi orang yang tak punya rasa malu, tak punya harga diri, dan tak berbudaya.

Coba kita merenung sejenak. Islam membolehkan hubungan seksual atas dasar ikatan pernikahan.  Sedangkan untuk menikah butuh materi atau biaya. Mendapatkan biaya tentu dengan usaha, kerja kantoran, jadi tukang ojek hingga menjadi kuli bangunan yang menguras tenaga dan pikiran. Ia akan disibukkan mengurus acara pernikahannya, sibuk mengurus undangan, gedung dan segala kebutuhan lain.

Tidak hanya itu, menikah adalah jalinan komunikasi dan emosional antara kedua orang tua (besan). Mereka jadi saksi dan wali, dihadiri keluarga, sahabat, kolega dan orang-orang sekitar. Dari situlah doa terus mengalir semoga sakinah mawaddah wa rahmah. Betapa mulia, suci dan terhormatnya pernikahan. Saat itu pula status pasangan adalah “sawah bagimu” (hartsun lakum) datangilah semaumu (kata kiasan Qur’an bahwa keduanya sudah halal).

Betapa kejinya, ia tidak punya harga diri dan tak berbudaya hanya karena merasa dekat atau ia menjalin asmara (pacaran) karena ungkapan i love you pada perempuan, lalu (perempuan) membalas i love you too. Lantas keduanya menganggap boleh untuk melakukan hubungan intim dibandingkan mereka yang bersusah payah, menguras biaya, emosi dan pikiran untuk menghalalkan dirinya berhubungan suami-istri.

Editor: Ananul