Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Tematik (5): Tiga Cara Menjadi Hamba

hamba
sumber: unsplash.com

Dalam al-Qur’an kata iman kerap beriringan dengan amal shaleh. Iman sebagai suara hati tentang keyakinan (tashdiiq bi al qalb) yang tak bisa disaksikan dengan indrawi tapi butuh bentuk nyata, ibadah nyata atau kesalehan sosial (amalun bi al arkaan). Singkatnya, iman tak sempurna tanpa amalan, begitupun amalan tak cukup jika tak didasari dengan iman.

Misalnya, Allah tegaskan pada QS al-‘Ashr ayat 1-3: “demi masa, manusia sungguh berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman dan beramal shaleh.” Ayat ini terdengar sangat serius, Allah sendiri yang bersumpah bukan dengan manusia (disebut dengan qasam). Mengapa saksi dipengadilan disuruh bersumpah? agar ia sungguh-sungguh tak bohong dengan kesaksiannya, atau setiap pejabat yang dilantik mereka sumpah jabatan. Mengapa? agar ia serius dan benar menjalankan tugasnya.

Nah, ada sesuatu yang sangat serius disampaikan Allah pada manusia tentang waktu. Artinya pada setiap detik kehidupan, napak tilas sejarah manusia pasti merugi dan merugi (lafii khusr). Menurut Imam Zamakhsyari manusia merugi karena ia mengutamakan urusan duniawinya ketimbang kewajibannya pada Allah. Sedangkan al Maraghi menyatakan ia merugi karena menyibukkan dirinya pada hal-hal yang membinasakan. Itu sebabnya, iman dan amal shaleh mengantarkan diri kepada Tuhan dan menjadikan orang yang beriman menjadi bahagia dan beruntung.

Lantas bagaimana bentuk amalan itu? Menurut Abu Hayyan ada tiga bentuk amalan bagi manusia untuk menyatakan diri sebagai hamba. Yaitu, amalun al qalbi (amalan hati), amalun al-badani (amalam raga/ tubuh) dan al amal al mal (amalan berupa harta). Ketiga bentuk amalan ini saling berkaitan satu sama lain.

Pertama, kesalehan/ibadah hati (amalun al qalbi) yaitu suasana hati yang dekat dengan kebaikan dan Tuhan. Orang yang beriman dengan amalan hati, jika mereka dinasihati, hatinya akan mudah menerima kebenaran karena ciri orang yang tak merugi adalah saling menasihati pada kebenaran (wa tawashaw bi al haq), lapang untuk menjalankan kewajiban agama, karena ia sadar dirinya adalah hamba untuk menyembah (li ya’buduun).

Baca Juga  Menyoal Tren Hijrah: Menilik Hakikat Hijrah dalam Al-Qur'an

Mengapa pada kondisi bahagia, kehidupan makmur tak dekat dengan Tuhan? hidup lebih banyak berfoya foya?  karena hatinya sedang tak butuh Tuhan yang ditutupi oleh kebahagiaan semu duniawi. Beda halnya di saat sempit, susah dan penuh dengan keguncangan batin ia seolah dekat dengan Tuhannya, karena ia sedang membutuhkan. Itu sebabnya, dalam gerakan awal shalat kerap kita baca “Tuhanku, engkaulah tujuan hidupku, dan cintamu-lah yang aku cari” (ilaahi anta maqshudii wa ridhaaka mathluubii).

Kedua, amalan pada anggota tubuh (amal al-badaniyyah). Bentuk ibadah yang dilakukan pada gerakan tubuh misalnya mendirikan sholat. Abu Hayyan mengambil contoh pada QS al Anfal ayat 2-3 bahwa diantara tanda orang yang tawakkal (memasrahkan dan mengantungkan kepada Allah) adalah mereka yang mendirikan shalat sebagai kewajiban pada Tuhannya.

Mengapa orang yang mendirikan shalat dikategorikan sebagai orang yang bertawakkal? jawabnya ada dalam renungan gerakan shalat. Misalnya saat melafalkan do’a iftitah (pembuka) “inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamaatii lillaahi rabbil aalamiin” (sesungguhnya shalatku, pengabdianku, hidup dan matiku hanyalah kepada Allah Tuhan semesta alam). Sikap kepasrahan ini begitu kuat dan khusyu didengungkan dalam shalat.

Maka, merenungi setiap ibadah shalat berarti mengajarkan pada diri untuk memaknai hidup bahwa tak perlu dibawa rumit dan sulit. Sekian banyak kesulitan yang dijalani seorang hamba dalam hidup berbanding lurus dengan lebih kemudahan yang disediakan. Inna ma’a al usri yusra  bahwa kesulitan atau ujian hidup sudah bersamaan disedikan Allah dengan kemudahan ( ma’a bukan ba’da).

Ketiga, amalan berupa materi (amalu al-mal). Dalam Islam, kewajiban dan tuntunan yang mengikat pada hamba adalah kewajiban pada hartanya untuk dikeluarkan dan dimanfaatkan pada sesama. Maka muncullah konsep zakat, sedekah dan infaq. Mengapa ini diatur oleh Islam? karena Islam jauh dari sifat rakus, egois dan ingin senang sendiri. Zakat dan sedekah adalah cara Islam untuk menggerakkan dan mendekatkan manusia antara si kaya dengan miskin sehingga tak ada ketimpangan.

Baca Juga  Perdebatan Teologis Seputar Corona, Kita Ikut yang Mana?

Betapa menggaungkannya Islam pada kemanusiaan, kerap pesan al-Qur’an perintah mendirikan shalat selaras dengan menunaikan zakat atau sedekah (alladziina yuqiimuuna al shalat wa mimma razaqnaahum yunfiquun). Dari situlah kita menemukan bahwa iman harus diterjemahkan ke dalam aksi dan gerakan sosial-kemanusiaan. Tak ada artinya ibadah shalat sampai jidat-pun hitam, sujud dan memohon di depan Ka’bah jika ciptaan-Nya diabaikan.

Editor: Rubyanto