Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Tematik (4): Kunci Kebahagiaan dalam Hidup

Kebahagiaan
Sumber: seruni.id

Secara naluri manusia pasti mengharapkan kebahagiaan dalam hidup. Pantaslah doa setiap hari yang dipanjatkan berilah kebahagiaan di dunia terlebih di akhirat. Hanya saja, cara manusia untuk ingin bahagia kerap diisyaratkan dengan jabatan dan kekayaan. Dan itu cukup keliru. Kekayaan dan jabatan bukan jaminan manusia akan kebahagiaan. Tapi jaminan akan merasakan kesenangan itu pasti. Orang yang punya banyak harta, ia bisa menikmati apa saja dan mau berlibur ke mana pun. Tapi apakah batinnya akan mengalami kebahagiaan?

Menjawab pertanyaan di atas, bisa kita renungkan firman Allah Q.S. Thaha 124:

“Siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka sesungguhnya, baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

Pada ayat ini Allah secara tegas menyatakan bahwa manusia yang abai akan mengingat-Nya, maka ia akan menjalani kehidupan ini terasa sempit. Ini sebagai sinyal bahwa ibadah dan mengingat Allah itu mempengaruhi tingkat kebahagiaan dalam hidup.

Kunci Kebahagiaan

Menurut Imam al-Qurthubi yang dianggap lalai dari mengingat-Nya adalah berpaling dari ajaran agama, tak membaca dan memahami al-Qur’an serta tak mengamalkan ajaran Islam. Artinya sekedar beribadah dan mengingat Allah itu tak cukup untuk meningkatkan kebahagiaan dalam hidup. Melainkan juga harus memahami ajaran agama dan berbagai risalah kenabian Muhammad. Sebab mengingat dan sujud kepadanya membutuhkan pengetahuan atas ibadah itu sendiri. Nabi sedurkan pada kita kalau Allah tak senang pada hamba yang ahli dalam urusan dunia (‘aalimun bi al dunyaa) tapi tak paham urusan yang menyangkut agama (jaahilun bi al akhirah).

Dalam ayat ini pun Allah mempertegas dua ganjaran bagi hamba yang lalai untuk menjalankan ajaran agama. Pertama, orang yang menyibukkan pikiran dan hatinya pada urusan duniawi dan menyebabkan ia lalai, maka kehidupannya akan terasa sempit ( ma’isyatan dhankaa) dan jauh dari kebahagiaan. Imam al-Razi menafsirkan kehidupan sempit itu sebagai tempat yang sempit atau kehidupan yang sempit. Maka yang dimaksud dengan dijanjikan Allah kehidupan yang sempit bisa jadi hidupnya tak lapang di dunia. Atau Allah menjadikan kuburannya terasa sempit hingga menyangkut kehidupan akhirat.

Baca Juga  Al-Quran untuk Semua

Janji Allah ini adalah nasehat bagi manusia, bahwa ada yang abai pada diri manusia, ia mencari kebahagiaan dengan susah payah tapi justru lari dan menjauhi sumber kebahagiaan itu sendiri yaitu Allah. Pada akhirnya yang ia temukan adalah batin yang mencemaskan dan tak tenang di dunia terlebih di akhirat kelak. Abdul Qadir Isa dalam Haqaiq Tasawwuf katakan kunci kebahagiaan dan kesenangan dalam hidup adalah mengingat Allah sebagaimana sumber dan kunci dari kesedihan dan kesengsaraan adalah lalai mengingat-Nya. Lebih lanjut, beliau mengutip riwayat Abu Musa al Asy’ari, perumpamaan orang yang mengingat Tuhannya dengan mereka yang lalai, seperti orang yang hidup dan mati.

Penyebab Sengsara

Kedua, balasan sifatnya di akhirat kelak yaitu ia datang kepada Allah dalam keadaan buta (a’maa). Wahbah Zuhaili memaknainya bagi orang yang ingkar dan lalai kepada-Nya ia akan dibangkitkan dalam kondisi tak bisa memandang atau buta akan jalan ke surga. Sebab ia buta tak ada jalan lain yang bisa ia lewati kecuali jalan ke neraka.

Tentu, kehidupan akhirat dan di dunia sangat berbeda. Seseorang yang tak punya kemampuan melihat di dunia, maka ia punya keterbatasan bergerak dan beraktivitas seperti umumnya yang punya penglihatan. Terlebih jika semua manusia menghadap Allah, tak ada kebahagiaan paling besar sebagai puncak perjalanan agama manusia selain melihat Allah.

Tapi bagi orang yang lalai, jauh dari kebaikan, hanya sibuk pada urusan duniawinya ia tak akan mungkin bertemu dengan Tuhan. Menurut Ibn Ajibah orang yang buta di hari kelak nanti adalah mereka yang buta penglihatan dan mata batinnya sehingga ia tak mampu bertemu dengan Allah.

Dari penegasan ayat dan penjelasan mufassir di atas, kita semua diajak untuk merenungi tujuan dan keberadaan diri kita sebagai manusia. Tuhan sudah membuka jalan untuk hidup penuh kebahagiaan ataupun kesengsaraan. Kata kuncinya ada pada piihan hidup dan cara kita beragama. Ada nasihat agama yang mengatakan, “Beramallah untuk kehidupan duniamu selama engkau tinggal di dalamnya dan beramallah untuk ahkiratmu sebanyak masa tinggalmu, dan beramallah bagi Allah sekedar kebutuhan pada-Nya, dan beramallah bagi neraka sekedar kesabaranmu menghadapinya.”

Baca Juga  Hijab Tanpa Agama

Editor: Muhamad Bukhari Muslim