Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Tematik (3): Mencintai Allah dengan Mengikuti Nabi

Allah
Sumber: Unsplas.com

Kehadiran Nabi SAW di tengah ruang kehidupan manusia menjadi lentera yang memberi sinar pada setiap gelapnya titah laku manusia. Lentera itu berwujud dalam laku dan katanya sebagai sumber keteladanan umat manusia kapan dan di mana-pun meskipun ia sudah tiada. Pantaslah Ahmad Dahlan berpetuah ketika menyadari bahwa Nabi SAW sudah tiada, maka kewajiban kita adalah menghidupkan keteladanannya. 

Itu sebabnya, keyword  utama agar mendapatkan lentera Islam adalah menjadikan Nabi Muhammad sebagai figur dan teladan. Hal ini sudah disetir Allah dalam firman-Nya pada QS Ali Imran [3] 31: Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang  (terjemahan Quraish Shihab).

Ayat ini menjelaskan dua hal yaitu cara mencintai Allah dan akibat dari cinta kepada-Nya. Lantas bagaimana cara mencintai-Nya? Tak lain temali yang menghubungkan cinta itu adalah mengikuti Nabi SAW (fattabi’uunii). Menurut Quraish Shihab bentuk mengikuti Nabi adalah melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah dengan cara; menumbuhkan keyakinan pada-Nya dan meningkatkan kualitas ketakwaan. Jika itu sudah dilakukan, maka seseorang akan masuk pintu gerbang meraih cinta Allah.

Mencintai Allah dengan Mengikuti Nabi

Karena itu, cinta kepada Allah mengandaikan untuk cinta pada Nabi SAW dengan mengikuti ajarannya, sebagai gerbang utama untuk mendapatkan cinta-Nya. Kalau begitu, seperti apa bentuk cinta kepada Nabi SAW yang menghubungkan cinta kepada Allah? Imam al-Qurthubi mengutip riwayat Sahl Ibn Abdillah bahwa tanda cinta manusia kepada Allah adalah cinta pada al-Qur’an (hubbu al Qur’an); dan tanda cinta pada al-Qur’an adalah cinta pada Nabi SAW (hubbu al nabiyyi); lalu cinta pada Nabi Saw ditandai dengan mencintai dan menjalankan sunnahnya.

Baca Juga  Wirid sebagai Amalan dalam Mengingat Allah

Pandangan Imam al-Qurthubi di atas mengantar kita pada sebuah kesimpulan bahwa tak lain dari kunci utama berislam adalah mengikuti ajaran al-Qur’an dan sunnah Nabi. Tapi, cara mengikuti al-Qur’an dan Sunnah Nabi tak sekedar taklid buta, melainkan al-Qur’an dan sunnah Nabi selalu dihadirkan dalam kondisi dan situasi kebutuhan kita beragama.  Seolah kita hidup bersama dengan Nabi walaupun rentang ribuan tahun silam yang selalu membimbing dan menunjuki jalan yang benar.  Mengutip ungkapan Imam Ali ra,

Al-Qur’an sejatinya adalah seorang penasihat yang tak pernah menipu, penunjuk jalan yang tak pernah tersesat dan pembicara yang tak pernah berbohong.

Jika al-Qur’an dan ajaran Nabi diikuti, Allah memberikan dua jaminan.

Pertama, Tuhan akan mengasihi (yuhbibkumullah). 

Menurut Wahbah Zuhaili bentuk kasih sayang itu dengan memberikan balasan berupa ampunan-Nya; tapi menurut al Maraghi cara itulah yang mendatangkan kasih sayang dan mendekat kepada-Nya. Satu hal yang mesti diyakini, ibadah manusia tak akan pernah sebanding dengan kemurahan Tuhan atas nikmat-Nya. Sama sekali tak sebanding. Karena itu, kasih sayang Allah-lah menyelamatkan manusia, dan cara itu dibuka oleh Tuhan dengan mengikuti Nabi SAW.

Kedua, Tuhan akan mengampuni segala dosa (wa yagfirlakum dzunuubakum). 

Menurut Imam al Maraghi ada tiga hal yaitu diampuni segala dosa; segala aib atau kejelekan diri ditutup oleh Tuhan dan dibebaskan dari siksaan-Nya. Oleh karena itu, jalan terbaik dan sangat mudah untuk mendatangkan ampunan Tuhan bahkan aib pun akan ditutupi atas segala kejahatan, ketidak beresan diri atau kepicikan diri dengan mengikuti ajaran Nabi.

Hal ini semakin mempertegas bahwa sosok Nabi Saw itu adalah mutiara kasih yang dihadirkan Tuhan pada alam semesta. Sebab, dengan komitmen mengikutinya ampunan Tuhan-pun hadir.  Sungguh benar sabdanya aku adalah pembawa kasih yang diberikan petunjuk (wa innamaa ana rahmatu al muhdaa).

Baca Juga  Kontekstualisasi Makna Syahid: Benarkah Hanya dengan Perang?

Editor: Ananul Nahari Hayunah