Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Tematik (10): Keragaman adalah Niscaya

Keragaman
Sumber: idntimes.com

Dalam kenyataan hidup kita akan selalu menemukan dan berhadapan dengan keragaman, termasuk perbedaan keyakinan. Hanya saja, apakah keyakinan kita yang berbeda itu membuat kita terusik, atau memaksa orang lain untuk meyakini agama yang kita anggap benar atau justru membiarkan saja? Jika hal seperti ini mengusik benak kita, maka kita akan mendapatkan jawabannya pada QS Yunus [10]: 99 sebagai berikut:

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang di bumi seluruhnya. Tetapi apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman? (QS Yunus [10]: 99).

Ayat ini menegaskan bahwa ajaran Islam tak menghendaki untuk memaksa apalagi mengancam seseorang untuk meyakini agama tertentu agar menjadi komunitas dan kelompok yang sama. Tapi ayat ini, justru meyakinkan manusia bahwa perbedaan keyakinan dalam kehidupan adalah kehendak Tuhan sendiri, meskipun bagi-Nya sangat mudah untuk menyamakannya. Maka, menerima disertai menghargai perbedaan adalah cara meyakini dan menjalankan takdir Tuhan atas perbedaan.

Menurut Imam ar-Razi, perintah untuk beriman, patuh serta menjauhi larangan adalah pernyataan tegas dan lugas di dalam al-Qur’an. Karena adanya penegasan tersebut, manusia diberi ruang dan kesempatan untuk memilih dan menentukan, bahkan yang menolak kebebasan memilih dianggap sebagai sikap yang menyalahi nilai ajaran al-Qur’an.

Keragaman Sebagai Kehendak Tuhan

Sebab itu, keragaman adalah sesuatu yang tak bisa ditawar. Ia adalah hukum alam yang tak bisa digugat hingga Tuhan menegaskan bahwa Dia mampu untuk menyeragamkan keyakinan dalam kehidupan. Allah tegaskan walauw shaa rabbuka (jika Tuhanmu menghendaki) kehendak yang dinafikan dan tidak akan dilakukan oleh Tuhan sendiri untuk menyamakan keyakinan manusia.

Itu sebabnya, Allah tegaskan, “Apakah kamu hendak memaksa manusia agar mereka menjadi orang-orang yang beriman”. Penegasan tersebut adalah pesan Allah kepada Nabi Saw. bahwa kebebasan memilih keyakinan agama bukan sebuah paksaan dan tak seorang pun yang diperbolehkan untuk memaksa.

Menurut al-Khazin, kala itu Nabi saw menginginkan agar orang-orang Arab pada masa itu memiliki keyakinan yang sama dan menghilangkan keragaman. Keinginan Nabi tersebut diingatkan oleh Allah bahwa orang-orang yang percaya denganmu (Nabi) tak akan memiliki keyakinan yang sama untuk mengikutinya kecuali atas kehendak-Ku (dengan hidayah-Ku) untuk beriman dan percaya kepadamu

Dasar itulah yang menjadi kesimpulan bahwa urusan keyakinan adalah hak kebebasan manusia. Maka Allah mempertegas kembali (apakah kamu hendak memaksa manusia) ini pertanda keyakinan mutlak kebebasan manusia. Sebab keyakinan menyangkut diri masing-masing dengan Tuhan bahkan Nabi sendiri pun tugas dan misi utamanya adalah menyampaikan risalah bukan untuk memaksa (seperti QS as-Shura 48 dan QS Qaf 45).

Tidak Boleh Ada Paksaan

Atas alasan itu, Muhammad Abduh berpendapat bahwa sebuah keyakinan akan dianggap batal jika didasarkan paksaan bukan sebuah ketulusan. Pandangan yang senada juga dikeluarkan oleh Thabathaba’i, bahwa ajaran Islam tak membolehkan sikap pemaksaan agar meyakini ajaran Islam. Sebab pilihan seseorang untuk memeluk agama adalah ekspresi atas keyakinan dan pengetahuan manusia. Akibatnya ia akan menjalankan ajaran agama bukan dasar ketulusan.

Problemnya, dalam Islam bagaimana memandang kebebasan, apakah semua kebebasan dapat dianggap benar ataukah kebebasan dibatasi oleh sebuah nilai? Pertanyaan ini dijawab dalam sekilas potongan QS al Baqarah 256, “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat”.

Ayat ini bagi Wahbah Zuhaili dianggap sebagai apresiasi terhadap kebebasan untuk memeluk agama Islam tanpa ada paksaan. Namun, atas dasar ayat ini juga, bukan berarti semua kebebasan itu dianggap benar. Atas pilihannya saja kebebasannya harus dihormati sebagai sesuatu yang alamiah/bawaan manusia yang diberikan oleh Tuhan. Sehingga manusia dilahirkan dalam keadaan merdeka.

Kebebasan memeluk sebuah bagi Wahbah bukanlah meyakini itu sebagai sebuah kebenaran. Melainkan memeluk agama dinilai sebuah petunjuk dan otoritasnya ada pada Tuhan. Untuk itu, Islam sebagai sebuah petunjuk hidup telah dibangun dan diberikan jalan hak dan bathil kepada manusia. Maka hak kebebasan memilih inilah al-Qur’an memberikan komitmen kepada manusia untuk menentukan

Karena Tuhan sudah memberi jalan yang benar dan yang sesat, berarti ada akibat dari pilihan keyakinan yang harus diterima. Tentu yang yang diharapkan oleh Tuhan adalah ikhtiar manusia untuk berjalan pada kebenaran bukan jalan yang sesat. Untuk berjalan pada kebenaran, lagi lagi Tuhan sudah memberi manusia dua potensi besar yaitu akal dan hati untuk digunakan.

Editor: M. Bukhari Muslim