Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surat Az-Zumar ayat 53: Inilah Ayat yang Penuh Harapan

Sumber: https://www.istockphoto.com/id/vektor/

Keimanan kita selalu mengalami pasang dan surut. Musibah dan nikmat penjadi faktor naik turunnya keimanan kita. Apabila kita mampu menghadapi musibah dan nikmat dengan baik, iman kita akan meningkat. Jika tidak, tanpa harapan, maka iman kita akan merosot ke bawah.

Oleh karena itu, ketakwaan dan kewaspadaan kita perlu terus dirawat. Mengingat, berbagai ujian besar menimpa kita belakangan terakhir. Perlu kita sadari, bahwa kita juga manusia yang lemah. Akan tetapi, dengan motivasi dan ikhtiar yang kuat kita bisa terus bertahan dan meningkatkan kualitas iman kita.

Satu dari sekian motivasi itu berasal dari ayat-ayat Al-Qur’an. Ayat Al-Qur’an hadir juga sebagai “motivator” kita dalam menjalani kehidupan yang kompleks ini. Motivasi yang paling utama dan mendasar dari ayat Al-Qur’an adalah harapan. Secara psikologis, harapan adalah serupa energi mendalam yang membuat seseorang terus hidup dan melakukanyang terbaik dalam hidup.

Dari ratusan ayat yang memberikan harapan, ada satu ayat yang memberikan harapan dalam kualitas yang besar. Harapan ini coba dihembuskan kepada siapapun yang sedang merasa lelah, ingin menyerah dan putus asa. Untuk itu, mari kita lihat redaksi ayatnya serta hikmah yang dikandungnya.

Surat Az-Zumar Ayat 53

Berikut redaksi beserta terjemahan ayatnya:

قُلْ يا عِبادِيَ الَّذينَ أَسْرَفُوا عَلى‏ أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللهِ إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَميعاً إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحيمُ

Artinya: Katakanlah, “Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Mari kita baca, kemudian hayati sejenak terjemahan dari ayat ini. Pembacaan sekilas terhadap ayat ini saja sudah memberikan semangat untuk tidak pernah berputus asa. Membangkitkan semangat untuk lebih baik dan berharap hanya pada Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Baca Juga  Tafsir Tematik (8): Menjadi Umat yang Berpikir

Membaca ayat ini secara berulang dapat menambah imun dan iman kita dalam menjalani hidup. Di tengah situasi yang sedemikian sulitnya, kemudian kondisi diri yang tidak terkendali, ayat ini menjadi pengibur bagi hati dan pikiran kita.

Untuk lebih melihat betapa dahsyatnya kandungan ayat ini, mari kita coba ambil beberapa pelajaran. Melalui redaksi, susunan dan bahasa yang digunakan Allah dalam ayat ini, kita akan menemukan ketenangan dan kenyataan bahwa betapa luas dan dalamnya kasih saying-Nya.

Seruan Sebagai Hamba-Nya

Apabila seseorang melakukan perbuatan buruk atau menyakiti kita, masihkah kita memanggil mereka dengan penuh kasih? Jawaban dari pertanyaan ini bisa beragam, namun jawaban yang penuh kasih adalah jawaban paling “mesra”. Karena, pada kondisi apapun, seruan kasih akan mengambil jalan yang tepat untuk menarik hati seseorang yang bersalah.

Metode dan cara komunikasi inilah yang digunakan oleh Allah Yang Maha Kasih. Mari perhatikan redaksi seruan di permulaan ayat ini. “Hai hamba-hamba-Ku”, ini adalah panggilan terkasih. Betapapun berbicara kepada mereka yang telah melanggar batas dengan dosa-dosa, Allah masih menyeru dengan panggilan “hamba-Ku”.

Artinya, dengan panggilan ini, Allah tidak pernah melupakan mereka sebagai hamba, betapapun penghambaan mereka tidak sempurna. Bahkan, Allah selalu berharap agar hamba itu Kembali kepada-Nya. Seruan ini adalah seruang paling “mesra” antara Allah dan para hamba-Nya yang melampau batas.

Hamba yang Melampaui Batas

Selanjutnya, yang menarik adalah perihal sebutan hamba. Ayat ini tidak menyeru mereka sebagai pendosa, durjana dan sejenisnya. Akan tetapi, Allah dengan segala kelembutan dan “kemesraan”-Nya memanggil mereka dengan sebutan “yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri”.

Sebutan dengan yang melampau batas ini adalah sebutan yang halus. Predikat ini, apabila kita perhatikan, memberikan “nuansa” kasih yang mendalam. Bahasa dan pemilihan kata menjadi penting dalam segala bentuk komunikasi. Ini adalah pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini.

Baca Juga  Mengenal Tafsir Hada'iq Ar-Rauh war Raihan: Keunikan dan Keistimewaan

Melalui ayat ini, selanjutnya, penggunaan kata dan bahasa seruan harus menyentuh pihak lawan bicara. Dengan begitu, komunikasi yang empatik dan efektif dapat kita lakukan. Sehingga, tujuan dari upaya komunikasi dapat tercapai sesuai keinginan.

Janganlah Berputus Asa

Setelah menyeru dengan panggilan paling “mesra”, Allah ingin meyakinkan pada hamba-Nya untuk tidak pernah sekalipun untuk berputus asa, “janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah!”

Ada dua poin yang dapat dipahami dari redaksi ini. Pertama, dengan kalimat ini, Allah seakan ingin berkata, dosa apapun yang pernah kalian perbuat dan sebanyak apapun, jangan pernah putus asa untuk mendapat ampunan-Ku.

Adapun yang kedua, putus asa adalah kondisi paling terendah bagi seorang hamba. Dengan kata lain, betapapun melampaui batasnya seorang hamba, maka jangan pernah berputus asa. Karena putus asa adalah kondisi paling rendah, hina dan tidak punya harapan sama sekali.

Allah Maha Pengampun dan Penyayang

Setelah melarang untuk berputus asa dari rahmat Allah, Ia masih menekankan kembali, bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka jika mereka kembali kepada-Nya. “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya.”

Untuk lebih menegaskan, di akhir Allah menyebutkan “semuanya”. Bukan hanya sebagian dosa, melainkan semua dosa yang pernah diperbuat. Penggunaan kata “semuanya” menggambarkan betapa pengasih dan pengampunnya Allah terhadap hamba-Nya yang penuh dosa.

Setelah itu, Allah masih menambahkan dengan redaksi, “Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Seakan, penekanan-penekanan sebelumnya belum sempurna. Sehingga, perlu ditegaskan berkali-kali bahwa Allah Maha Pengampun Yang Pengasih.

Segala kalimat di ayat ini juga menunjukkan betapa bahayanya orang yang berputus asa. Dengan memahami kondisi ini, Allah dengan ayat ini ingin memberi harapan dan motivasi. Dengan begitu, dalam level putus asa sedemikian apapun, seorang hamba masih ingin kembali kepada Allah sebagai Tuhan Yang Penuh Ampun dan Kasih.

Baca Juga  Surah An-Nisa Ayat 59: Larangan Mengudeta Pemerintah Sah

Semoga, dengan menghayati ayat ini kita lebih memiliki harapan yang penuh terhadap Allah. Sekaligus, ayat ini menjadi pengingat terbaik kita pada saat kita ingin berputus asa. Kemudian, kita menjadi termotivasi dan memiliki harapan Kembali sebagai semangat untuk melanjutkan hidup. Wallahu’alam bishawab.