Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 4

sesat
sumber: unsplash.com

“Yang menguasai Hari Pembalasan.” (ayat 4)’

Klta artikan yang menguasai, apabila maliki kita baca dengan memanjangkan ma pada maliki. Dan kita artikan “Yang Empunya Hari Pembalasan”, kalau kita baca hanya maliki saja dengan tidak memanjangkan ma.

Di sini dapatlah kita memahamkan betapa arti ad-din. Kita hanya biasa memberi arti ad-din dengan agama. Padahal dia pun berarti pembalasan. Memang menurut Islam segala gerak-gerik hidup kita yang kita laksanakan
tidaklah lepas dari lingkungan agama, dan tidak lepas dari salah satu hukum yang lima: wajib, sunnat, haram, makruh dan jaiz. Dan semuanya kelak akan diperhitungkan di hadapan hadirat Tuhan di akhirat; baik akan diberi pembalasan yang baik, buruk akan diberi pembalasan yang buruk. Dan yang memberikan itu adalah Tuhan sendiri, dengan jalan yang seadil-adilnya.

Apabila kita telah membaca sampai di sini, timbullah perimbangan perasaan dalam kalbu kita. Jika tadi seluruh jiwa kita telah diliputi oleh rasa rahmat, pancaran rahman dan rahim Tuhan, maka dia harus dibatasi dengan
keinsafan, bahwa betapapun rahman dan rahim-Nya, namun Dia adil jua.

Rahman dan rahim tidakiah lengkap kalau tidak disempurnakan dengan adil’. Memang ada manusia yang karena amat mendalam rasa rahmat dalam dirinya dan meresap ke dalam jiwanya kasih-sayang yang balas berbalas, memberi dan menerima dengan Tuhan, lalu dia beribadat kepada Tuhan dan berbuat bakti.

Tetapi ada juga manusia yang tidak menghargai dan tidak memperdulikan rahman dan rahim Tuhan; jiwanya diselimuti oleh rasa benci, dengki, khizit dan khianat. Tidak ada rasa syukur, tidak ada terima kasih. Jahatnya lebih banyak dari baiknya. Kadang-kadang pandai dia menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Sampai dia mati keadaan tetap demikian. Tentu ini pasti mendapat pembalasan.

Di dunia ini yang ada hanya penilaian, tetapi tidak ada pembalasan manusia. Banyak manusia tercengang melihat orang yang zalim dan curang, tetapi oleh karena “pandainya” main, tidak berkesan meskipun orang tahu juga. Dan banyak pula orang yang jujur, berbuat baik, namun penghargaan tidak ada. Atau sengaja tidak dihargai karena pertarungan-pertarungan politik. Di dunia ini tidak ada pembalasan yang sebenarnya dan di sini tidak ada perhitungan yang adil.

Dan mata keridhaan gelap tidak melihat cacat
sebogai juga mata kebencian hanya melihat yang buruk saja.

Maka apabila ar-Rahman dan ar-Rahim telah disambungkan dengan maliki yaumiddin, barulah seimbang pengabdian dan pemujaan kita kepada Tuhan. Hidup tidak berhenti hingga kini saja, akan ada sambungannya lagi, yaitu hari pembalasan, hari agama yang sebenarnya.

Kita memuji Allah pemelihara seluruh alam dan pendidiknya. Kita memuji-Nya karena rahman dan rahim-Nya dan kita pun memuji-Nya karena buruk dan baik yang kita kerjakan di dunia ini tidak terbuang percuma, melainkan akan diperhitungkan dan dibalas dengan adil di akhirat.

Kalau sudah kita rasai dan kita percaya bahwa Dia Maha Murah dan Penyayang, tetapi juga dapat berlaku keras kepada yang melanggar. Sebab Dia menguasai penuh akan hari pembalasan, bagaimana sikap manusia lagi? Dan ke mana kita hendak membelok lagi? Masih adakah Tuhan lain yang seperti itu? Tidak ada! Kita mengharapkan kasih-sayang dan kemurahan-Nya, dan kita pun takut akan pembalasan-Nya. Jiwa kita terombang di antara khauf, artinya takut, dan roja‘, artinya harap.

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.