Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surat Al-An’am Ayat 44: Mengungkap Makna Istidraj

Sumber: kalamsindo.news

Bilamana seseorang jauh dari ketaatan namun selalu diberikan nikmat, hati-hatilah karena boleh jadi itu sebagai istidraj. Istidraj adalah jebakan, sebab ia pada hakikatnya azab namun berbalut keberuntungan dan nikmat.

Perhatikan firman Allah surat Al-An’am ayat 44:

 فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ

Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-An’am: 44)

Tafsir Ayat

Dalam tafsir Ibnu Katsir, Allah membukakan bagi mereka semua pintu rezeki. Semua keinginan mereka terpenuhi sebagai bentuk istidraj dari Allah. Rezeki itu bisa berupa harta yang berlimpah, anak yang banyak, dan rezeki yang berlimpah ruah. Dan di saat mereka lalai, Allah menyiksanya hingga mereka terdiam putus asa.

Ibnu Katsir rahimahullah juga mengutip hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam:

Dari Ubah bin Amir radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ تَعَالى يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا مَا يُحِبُّ وَهُوَ مُقِيمٌ عَلَى مَعَاصِيهِ فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِنْهُ اسْتِدْرَاجٌ

Apabila Anda melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba, sementara dia masih bergelimang dengan maksiat, maka itu hakikatnya adalah istidraj dari Allah.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca firman Allah surat Al-An’am ayat 44 di atas. (H.R. Ahmad)

Menurut Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah, sebenarnya Allah memberi kesempatan untuk seorang yang zhalim sehingga tidak menyegerakan siksanya. (Syarh Riyadhus Shalihin, 1/933-934)

Baca Juga  Faqir atau Miskin sebagai Penerima Zakat: Mana yang Lebih Utama Diberikan?

Bahaya Istidraj

Dari kelanjutan penjelasan beliau, istidraj ini sangatlah mengerikan. Bila seseorang disegerakan siksanya dan menyadari kezhalimannya, itu tentu lebih baik.Tapi istidraj membuat seseorang tidak menyadari bahwa karunia Allah itu hakikatnya adalah musibah.

Hingga ia terperdaya dengan segala karunia itu, dan malah semakin menambah dosa dan kezhaliman. Ia tidak menyadari Allah sedang menunda untuk menyiksanya. Hingga pada puncaknya, Allah mengazabnya dengan sangat berat sesuai tumpukan dosanya. Na’udzubillah tsumma na’udzubillah.

Syaikh Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan perbedaan antara nikmat dan fitnah. Nikmat yaitu kenikmatan yang Allah anugerahkan berupa kebaikan dan kasih-sayang-Nya, yang dengannya ia bisa meraih kebahagiaan abadi.

Adapun fitnah (ujian) adalah kenikmatan yang merupakan istidraj dari Allah. Betapa banyak orang yang terfitnah dengan diberi kenikmatan, sedangkan ia tidak menyadari hal itu. Mereka terfitnah dengan pujian orang-orang bodoh, tertipu dengan kebutuhannya yang selalu terpenuhi dan aibnya yang selalu ditutup oleh Allah. (Madarijus Salikjn, 1/189)

Cara Menghindari Istidraj

Begitupun nikmat yang diperoleh orang kafir, hakikatnya kenikmatan itu adalah istidraj. Lantas bagaimana dengan seorang mukmin, adakah upaya agar terhindar dari istidraj?

Cara agar seorang mukmin terhindar dari istidraj adalah bijak menyikapi setiap apa yang menimpanya. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Matan Qawa’idul Arba’ mengatakan: “Jika diberi kenikmatan maka ia bersyukur, jika ditimpa musibah ia bersabar dan jika melakukan dosa ia beristigfar (bertaubat). Tiga hal ini adalah tanda kebahagiaan.”

Sudah semestinya kita berbahagia dengan tiga kunci di atas yang bisa menjadi ikhtiar kita meraih kasih sayangNya. Jangan sempai terlena dengan kenikmatan dunia yang semu. Maka upayakanlah diri kita untuk selalu bersyukur, bersabar, dan beristighfar, sebab kita hanya seorang hamba yang butuh dan mengharapkan kasih sayang dan maghfirah Allah.

Baca Juga  Memahami Konsep Berpoligami yang Benar dalam Islam

Akhir kata, Semoga Allah menjauhkan kita dari hukuman yang sangat mengerikan, saat kita merasa dibahagiakan dengan nikmat, dan saat kita hakikatnya sedang dihukum sedangkan kita tidak menyadari bahwa itu adalah hukuman.

Wallahu a’lam.

Penyunting: An-Najmi