Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Maryam Ayat 33: Bolehkah Mengucapkan Selamat Hari Natal?

natal
Sumber: makassar.tribunnews.com

Tepatnya tanggal 25 Desember nanti, akan ada perayaan hari raya Natal. Seperti pada biasanya ketika umat Islam merayakan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, begitu juga yang dirayakan oleh umat Kristen dalam memperingati hari raya Natal yang diperingati di setiap satu kali dalam setahun.

Ketika hendak menjelang hari raya Natal kita akan melihat sedikit kehebohan yang terjadi di Indonesia. Baik dari umat Kristen itu sendiri dalam hal merayakan hari raya mereka, dan tak terkecuali umat islam yang ikut merayakannya. Biasanya kehebohan yang terjadi di umat Islam sendiri adalah mengenai bagaimana hukum mengucapkan kata “selamat hari raya Natal” kepada mereka yang beragama Kristen? Dan bagaimana hukum jika kita ikut dalam ritual perayaan hari raya mereka.

Pada tulisan kali ini, penulis akan membahas hukum mengucapkan selamat Natal yang tertuang dalam tafsir surah Maryam ayat 33 disertai dengan pandangan beberapa ulama-ulama di Indonesia. Sehingga kita tidak salah kaprah dalam menentukan hukum mengenai problem tersebut.

Penafsiran Ulama Terhadap Surah Maryam Ayat 33

Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfiman: “Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku (Isa Alaihissalam), pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (Qs. Maryam: 33). Ayat inilah yang sering digunakan sebagai landasan mereka dalam memperbolehkan mengucapkan selamat Natal.

Ada beberapa ulama dan tokoh besar Islam yang mencoba menafsirkan tentang isi dari surah Maryam ayat 33 ini, adapun ulama dan tokoh tersebut yaitu;

Pertama, Imam Ath-Thabari. Menurut Imam Ath-Thabari maksud ayat ini adalah menjelaskan tentang hari lahirnya Nabi Isa Alaihissalam, meminta agar Allah menjauhkan beliau dari gangguan setan dan bala tentaranya. Juga kesalamatan atas segala cobaan dalam hidupnya dan keselamatan dari rasa sakit menjelang kematian. Serta juga keselamatan ketika menghadapi hari kebangkitan, yang mana manusia akan menyaksikan antara yang satu dengan yang lainnya. (Jami’ul Bayan Fi Ta’wilil Qur’an, 18/193)

Kedua, Imam Al-Qurthubi. Beliau mengatakan bahwa kalimat “Dan keselamatan semoga dilimpahkan kepadaku” artinya adalah kesalamatan dari Allah untuk Nabi Isa. “Pada hari aku dilahirkan” ketika aku hidup di dunia dari gangguan setan berdasarkan beberapa pendapat ulama yang lain. “Pada hari aku meninggal” maksudnya di alam kubur. “Dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” di alam akhirat kelak.

Baca Juga  Perdebatan Teologis Seputar Corona, Kita Ikut yang Mana?

Karena Nabi Isa merasa akan melewati tiga fase kehidupan ini, yaitu hidup di dunia, mati di alam kubur dan dibangkitkan kembali menuju alam akhirat. Dan Allah pun memberikan keselamatan kepada Nabi Isa dalam melewati tiga fase tersebut. (Al-Jami Lil Ahkamil Qur’an 11/159)

Ketiga, M. Quraish Shihab. Sebagai salah satu ulama yang ada di Indonesia, beliau mencoba memperinci permintaan salam Nabi Isa tidak hanya meminta keselamatan saja. Akan tetapi agar terhindar dari segala bencana dan kekurangan pada hari lahir, wafat, dan dibangkitkan kembali. Lahir ke dunia dengan tidak ada kekurangan, mati dalam su’ul khotimah dan diselamatkan dari rasa takut dan mengcekam ketika di Padang Mahsyar. (Tafsiralquran.id 28/7/20).

Beliau mengatakan bahwa mengucapkan dan membaca Natal “selamat Natal” tidak dilarang, dan mengucapkan “selamat” kepada siapa saja tidak keliru tetapi beliau mempertegas bahwa “selamat Natal” yang beliau maksud adalah ucapan selamat Natal yang diucapkan Nabi Isa dan diabadikan dalam al-Qur’an. “Salam sejahtera untukku pada hari kelahiranku, wafatku, dan kebangkitanku kelak” (QS. Maryam: 33).

Bagaimana Seharusnya Sikap Kita Sebagai Muslim?

Menjadi pertanyaan di dalam benak kita masing-masing, bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim terhadap tersebut? Apakah kita berdiam diri atau mengucapkannya, tetapi dengan ketentuan yang dianjurkan oleh syari’at  agama dan bagaimana hukumnya.

Mengucapkan kata “selamat hari raya Natal” tidak menjadi sebuah masalah, asalkan seseorang yang mengucapkannya memahami dan menghayati apa yang diucapkan. Sebagaimana yang telah dianjurkan dalam koridor agama Islam itu sendiri. Dalam hal mengucapkan selamat Natal masih terjadi perselisihan di antara beberapa ulama.

Adapun yang dilarang keras oleh agama dan hampir seluruh ulama adalah mengikuti perayaan ritual Natal. Hukumnya adalah haram bagi muslim yang ikut merayakannya, sehingga sangat perlu menjadi perhatian bersama umat Islam.

Baca Juga  Memperingati Maulid: Meneladan Sifat dan Gaya Kepemimpinan Rasulullah

***

Muslim di era modern saat ini, cenderung kepada kedua-duanya. Selain mengucapkan kata “selamat hari Natal” mereka juga ikut merayakan ritual yang diadakan di hari raya umat Kristen tersebut, terutama dari kalangan umat Islam saat ini. Mereka merayakannya dengan cara mereka masing-masing, yang sudah dirancang sedemikian rupa dalam rangka menyambut hari raya tersebut.

Hal ini perlu kita perhatikan, sehingga mereka tidak terjerumus ke jalan penafsiran yang salah. Yang mana ulama hanya memperbolehkan dalam bentuk ucapan, tetapi tetap dengan koridor al-Qur’an. Tetapi dalam hal ritual perayaan, ulama menetapkan hukumnya haram untuk dilakukan. Yang mana bahwa melakukan perbuatan yang hukumnya haram sangatlah berat dosanya di sisi Allah.

Editor: An-Najmi Fikri R