Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Ma’idah Ayat 32: Kewajiban Merawat Bumi

bumi
Sumber: www.freepik.com

Manusia diciptakan oleh Allah sebagai makhluk yang paling sempurna dibandingkan makhluk cipataan yang lainnya. Sebut saja hewan dan tumbuhan yang terlihat oleh panca indera manusia, salah satunya dalam segi pikiran (akal). Suatu kenikmatan yang sangat luar biasa diterima oleh makhluk bernama manusia. Selain diberikan kelebihan dan kesempurnaan, manusia juga diberikan kewajiban dan amanat yang harus mereka laksanakan.

Di mana di hari akhir nanti kewajiban dan amanat itu akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Sehinngga manusia perlu kehati-hatian serta keseriusan dalam menjalankan kedua perintah tersebut. Betapa banyak kewajiban dan amanah yang diberikan oleh Allah kepada umat manusia, salah satunya adalah menjadi seorang pemimpin di muka bumi dan senantiasa memilihara segala sesuatu yang ada di dalamnya. Termasuk merawat hubungan antara manusia dengan manusia yang lain dan melestarikan bumi.

Berangkat dari berbagai permasalahan yang ada saat ini, terutama di Indonesia. Maka penulis berinisiatif untuk menulis tulisan ini, berdasarkan salah satu ayat al-Qur’an yang terdapat pada surah al-Ma’idah ayat 32.

Pandangan Menurut Para Mufasir

Selain menjadi seorang wakil Allah di muka bumi, manusia juga memiliki kewajiban untuk menjaga dan merawat bumi serta segala yang ada di dalamnya. Sebagaimana Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ أَنَّهُۥ مَن قَتَلَ نَفْسًۢا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى ٱلْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ ٱلنَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَآ أَحْيَا ٱلنَّاسَ جَمِيعًا ۚ وَلَقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِٱلْبَيِّنَٰتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِى ٱلْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya: “Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.” (Q.S. al-Mai’dah: 32)

Baca Juga  Tafsir Tematik (3): Mencintai Allah dengan Mengikuti Nabi

Berangkat dari ayat diatas, maka perlu sekali untuk memaparkan penjelasan para mufasir;

Pertama, Prof. Dr Wahbah Az-Zuhaili. Beliau menjelaskan bahwa manusia yang tanpa sebab melakukan kerusakan di muka bumi berupa tindakan pengacau keamanan dan ketentraman seperti para pencuri berarti ia telah melakukan pembunuhan terhadap seseorang tanpa sebab dan dosa, seakan-akan ia telah membunuh manusia semuanya. Di sisi Allah SWT, tidak ada perbedaan antara jiwa yang satu dengan jiwa yang lain. (Prof. Dr Wahbah Az-Zuhaili; Tafsir Al-Munir Vol. 3 Hal. 487)

Beliau mengatakan bahwa barangsiapa yang memelihara kehidupan seseorang, melarang pembunuhan, seakan-akan ia memelihara kehidupan manusia semuanya, dengan menciptakan keamanan, ketentraman bagi mereka, serta menghilangkan kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran dari diri mereka. (Prof. Dr Wahbah Az-Zuhaili; Tafsir Al-Munir Vol. 3 Hal. 488)

Kedua, Imam Ath-Thabari. Beliau menjelaskan bahwa barangsiapa membunuh seorang Nabi dan Imam yang adil, maka seakan-akan ia membunuh manusia seluruhnya. Barangsiapa menguatkan tangan seseorang Nabi atau Imam yang adil, maka seakan-akan ia menjaga kehidupan manusia seluruhnya. (Tafsir Ath-Thabari; Vol. 8 Hal. 763)

Abu Ja’far juga berpendapat bahwa mereka yang membuat kerusakan di muka bumi, mereka membunuh orang yang tidak membunuh seseorang, dan bukan karena itu ia membuat kerusakan di muka bumi. Itu sebuah kemungkaran yang harus di hukum dengan dibunuh, disalib, dan dipotong tangan dan kakinya. (Tafsir At-Thabari; Vol. 8 Hal. 765).

Manusia Sebagai Pemimpin dan Pemilihara Bumi

Di dalam menjadi seorang pemimpin, bukan hanya soal kewajiban yang harus ditunaikan. Tetapi seorang pemimpin juga harus bertanggung jawab atas segala yang dipimpinnya. Rasulullah SAW pernah bersabda “ Dari Umar RA sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Setiap orang adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari)

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 104: Sopan Santun Dengan Rasulullah S.A.W.

Ini menjadi sebuah penegasan dan sekaligus peringatan, bahwa setiap orang adalah pemimpin. Baik itu pemimpin untuk dirinya sendiri, keluarga, maupun dalam lingkup masyarakat dan negara.  Di dalam Islam, kita mengenal ada yang namanya Hablum Minallah (hubungan kita dengan Allah) dan Hablum Minannas (Hubungan kita dengan manusia). Kedua hubungan tersebut memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai keridhaan Allah SWT.

Terkadang kita lupa dari kedua hubungan tersebut ada yang belum kita laksanakan. Secara Hablum Minallah itu adalah hubungan manusia per individu dengan Allah, namun dalam hubungan Hablum Minannas itu adalah hubungan manusia dengan manusia bahkan alam sekitarnya. Terkadang ada yang taat melaksanakan kewajiban kepada Allah, namun mereka lupa dengan hubungan sesama manusia dan alam. Inilah yang terlihat saat ini, yang ada pada sebagian umat islam.

Hari ini Indonesia berduka dengan banyaknya bencana yang datang secara bertubi-tubi bahkan tiada henti. Habis satu timbul satu, seolah-olah tidak menyadarkan manusia yang ada di dalamnya. Ini menjadi pesan sekaligus nasehat bagi kita semua, bahwa manusia adalah pemimpin yang mampu bagus dalam hubungannya dengan Sang Khaliq dan sesama manusia. Mari kita rawat segala yang ada di muka bumi dengan sebaik-baiknya.

Editor: An-Najmi Fikri R

Muhammad Saleh
Mahasantri Pondok Hajjah Nuriyah Shabran sekaligus Mahasiswa Ilmu Alquran & Tafsir UMS