Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 67-74: Menyembelih Lembu Betina (2)

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Sekarang barulah dijelaskan sebab-sebab perintah menyembelih lembu betina itu.

“Dan (ingatlah) seketika kamu membunuh satu diri, maka bersitolak-tolakkan kamu padanya, dan Allah mengeluarkan apa yang kamu sembunyikan.” (ayat 72)

Kedapatan orang mati terbunuh, tetapi tidak terang siapa pembunuhnya. Maka timbul tolak menolak, tuduh menuduh. Maka disembelihlah lembu betina itu, yang akan digunakan pencari siapa pembunuhnya:

“Dan Kami katakan: Pukullah olehmu dengan sebagian daripadanya.” (pangkal ayat 73).

Apakah bangkai orang yang telah mati itu dipukul dari sebagian tubuh lembu betina yang telah dipotong itu? AtaU apakah kuburnya? Atau dengan bagian dalam sapi yang mana dipukul? Kata setengah ahli tafsir dengan ekor lembu betina itu. Kata yang lain dengan tunjang kakinya, dan kata yang setengah dengan lidahnya. Yang mana yang benar, tidaklah penting. Sebab kalau al-quran sudah menyatakan sebagian daripada tubuhnya, sampailah dia kepada puncak kecukupan. Yang penting diperhatikan ialah lanjutan sabda Tuhan:

“Demikianlah Allah menghidupkan yang telah mati, dan memperlihatkan ayat-ayatNya supaya kamu berfikir.” (ujung ayat 73).

Patut juga kita ketahui serba sedikit penafsiran tentang ini.

Menurut yang diriwayatkan oleh Abd bin Humaid, Ibnu Jarir, lbnul Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Baihaqi dalam Sunnahnya yang riwayatnya diterima dari Ubaidah as-Salmani, dipukulkan bagian badan lembu betina itu ke kubur orang yang mati terbunuh itu,lalu dia bangkit dari dalam kuburnya, terus bercakap: “Yang membunuh aku ialah anak saudaraku, karena mengharapkan warisanku, sebab aku tidak beranak, maka dialah yang berhak menerima waris. sebab itulah aku dibunuhnya.”

Sehabis bercakap itu dia jatuh kembali dalam keadaan semula, yaitu bangkai dan langsung dikuburkan kembali. Karena mendengar keterangan sejelas itu, maka anak saudaranya itu ditangkap dan dijalankanlah hukum qishah atas dirinya.

Dengan jalan penafsiran seperti inilah difahamkan ujung ayat tadi, bahwa Tuhan Allah telah memperlihatkan kekuasaannya, ayat-ayatNya; orang yang telah mati dapat dihidupkan kembali.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah Ayat 219-220 (1): Dosa Meminum Khamar

Dan Ibnu Abid-Dunya menyalinkan pula riwayat ini dalam kitabnya yang bernama Man’aasya ba’dal mauti (orang yang hidup sesudah mati), dari lbnu Abbas. Tetapi kedua ayat ini dan riwayat yang lain, walaupun disalin oleh Imam as-syaukani dalam tafsir beliau, beliau katakan tidak banyak faedahnya. Sebagai tadi kita salinkan.

Sekarang kita nuqilkan lagi penafsiran Syaikh Muhammad Abduh untuk kita perbandingkan penafsiran yang lebih disandarkan kepada pengumpulan riwayat, dengan penafsiran yang lebih mempergunakan dirayat yaitu analisa.

Syaikh Muhammad Abduh menurut yang diriwayatkan oleh muridnya Sayid Rasyid Ridha di dalam Talsir al-Manar berkata: “Telah aku katakan kepada tuan-tuan bukan sekali dua, bahwa wajiblah kita awas benar dengan kisah-kisah Bani Israil ini dan kisah-kisah Nabi-nabi yang lain dan jangan lekas percaya dari apa yang ditambah-tambahkan atas al-Quran dari kata-kata ahli ahli tarikh dan ahli-ahli tafsir. Orang-orang yang berminat besar kepada penyelidikan sejarah dan ilmu pengetahuan di zaman kini sependapat dengan kita, bahwa tidak boleh dipercaya saja barang sesuatu dari tarikh zaman-zaman lampau itu yang mereka namai Zaman Gelap, melainkan sesudah penyelidikan yang mendalam dan membongkar bekas-bekas kuno yang terpendam. Tetapi kita dapat memberi maaf ahli-ahli tafsir yang membumbui kitab-kitab tafsir dengan kisah-kisah yang tidak dapat dipercayai itu, karena maksud mereka pun baik juga. Tetapi kita tidak boleh berpegang saja kepadanya, bahkan kita larang keras. Cukup jika kita berpegang saja dengan nash-nash yang seterang itu dalam al-Quran dan tidak pula kita lampaui lebih dari itu.

Kita hanya suka mengambil untuk penjelasan, jika penjelasan itu sesuai dengan bunyi al-Quran, apabila shahih riwayatnya.

Demikian keterangan Syaikh Muhammad Abduh.

Dengan jalan fikiran yang seperti ini niscaya kita hendak tahu bagaimana cara mereka menafsirkan ayat ini. Yaitu bahwa orang yang mati dihidupkan kembali dan Allah memperlihatkan ayat-ayatNya, artinya tanda kekuasaanNya.

Baca Juga  Warisan Para Nabi Dalam Al-Quran (1): Kisah Adam dan Setan

Saiyid Rasyid Ridha dalam tafsirnya menilik kembali hubungan kisah lembu betina ini dari Kitab Taurat yang ada sekarang, karena Islampun mengakui bahwa tidak seluruhnya Kitab Taurat yang ada sekarang ini sudah bikinan tangan manusia semua. Masih banyak terselip yang harus jadi perhatian kitapun, cari sekedar untuk menjadi dasar belaka daripada kisah lembu betina itu.

Maka bertemulah dalam Kitab Ulangan Fasal 21 tentang Peraturan Bani Israil kalau terjadi pembunuhan gelap dengan menyembelih lembu betina.

Kitab Ulangan Fasal 21:

  1. Sebermula, maka apabila didapati akan seorang yang kena tikam dalam negeri, yang akan dikurniakan Tuhan Allahmu kepadamu akan milikmu pusaka, maka orang mati itu terhantar di padang tiada ketahuan siapa yang membunuh dia.
  2. Maka hendaklah segala tua-tua dan hakim kamu keluar pergi mengukur jarak negeri-negeri, yang keliling tempat orang yang dibunuh itu.
  3. Maka jikalau telah tentu mana negeri yang terdekat dengan tempat orang dibunuh itu, maka hendaklah diambil oleh segala tua-tua negeri itu akan seekor lembu betina daripada kawan lembu, yang belum tahu dipikai kepada pekerjaan dan yang belum tahu dikenakan kok. Pasangan yang dikenakan pada leher sapi atau kerbau untuk menarik gerobak atau membajak.
  4. Dan hendaklah segala tua-tua negeri itu menghantar akan lembu muda itu kepada anak-sungai yang selain mengalir airnya dan yang tanahnya belum tahu ditanami atau ditaburi, maka di sana hendaklah mereka itu menyembelihkan anak lembu itu dalam anak sungai.
  5. Lalu hendaklah datang hampir segala imam, yaitu anak-anak Levi, karena dipilih Tuhan Allahmu akan mereka ikut, supaya mereka itu berbuat bakti kepadaNya dan memberi berkat dengan nama Tuhan, dan atas hukum mereka itupun putuslah segala perkara perbantahan dan perdakwaan.
  6. Maka segala tua-tua negeri yang terdekat dengan tempat orang yang dibunuh itu hendaklah membasuhkan tangannya di atas rembu mudi yan! disembelih dalam anak sungai itu.
  7. Sambil kata mereka itu demikian: “Bukannya tangan kami menumpahkan darah ini dan mata kami pun tiada melihatnya.”
  8. Adakan apakah ghafirat atas ummatmu Israil, yang telah kau tebus, ya Tuhan! Jangan apalah kau tanggungkan darah orang yang tiada bersalah di tengah-tengah ummatmu Israil. Maka demikianlah diadakan ghafirat atas mereka itu daripada darah itu.
  9. Dan kamupun akan menghapuskan darah orang yang tiada bersalah itu dari tanganmu, jikalau kamu telah berbuat barang yang benar kepada pemandangan Tuhan.
Baca Juga  Surat Hud Ayat 7: Fenomena Proses Penciptaan Alam Semesta

Dengan salinan Taurat bahasa Indonesia ini sudah terang duduk perkara. Jika terdapat orang mati terbunuh, tidak terang siapa pembunuhnya, maka menurut peraturan hendaklah ukur jarak tempat bangkai orang itu dengan kampung terdekat. Sembelih lembu betina di sungai. orang tua-tua negeri yang terdekat hendaklah membasuh tangannya di atas lembu itu sambil membaca bacaan semacam sumpah.

Mana yang berani membasuh tangan di sana, selamatlah dan mana yang tidak mau, tandanya dia bersalah. Hukum pun dilakukan, hutang nyawa bayar nyawa. Dengan berjalannya aturan kisah ini, artinya telah dihidupkan orang yang mati. Itulah ayat-ayat Allah;artinya supaya kamu pergunakan fikiranmu menyelidik rahasia hukum llahi dan menerimanya dengan segala kepatuhan.

Dengan penafsiran secara ini dijelaskan bahwa menghidupkan orang yang mati bukanlah artinya bahwa orang itu bangun dari kubur memberi keterangan bahwa dia dibunuh anak saudaranya, tetapi dengan berlakunya hukum qishash, artinya orang yang telah matidihidupkan kembali, menurut ayat 179 dari Surat ini yang akan ditafsirkan kelak, Insya Allah.

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.