Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 62 (1): Tentang Empat Golongan

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Tafsir Ayat 62

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman.” (pangkal ayat 62)

Yang dimaksud dengan orang beriman, di sini ialah orang yang memeluk Agama Islam, yang telah menyatakan percaya kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan akan tetaplah menjadi pengikutnya sampai Hari Kiamat :

“Dan orang-orong yang jadi Yahudi dan Nasrani dan Shabi’in“;

yaitu tiga golongan beragama yang percaya juga pada Tuhan tetapi telah dikenal dengan nama-nama yang demikian;

“barang siapa yang beriman kepada Allah”.

Yaitu yang mengaku adanya Allah Yang Maha Esa, dengan sebenar-benar pengakuan, mengikut suruhanNya dan menghentikan laranganNya

“dan Hari Kemudian dan beramal yang shalih,”

 Yaitu Hari Akhirat, kepercayaan yang telah tertanam kepada Tuhan dan Hari kemudian itu, mereka buktikan pula dengan mempertinggi mutu diri mereka.

“Maka untuk mereka adalah ganjaran di sisi Tuhan mereka”.

lnilah janjian yang adil dari Tuhan kepada seluruh manusia, tidak pandang dalam agama yang mana mereka hidup, atau merk apa yang diletakkan kepada diri mereka, namun mereka masing-masing akan mendapat ganjaran atau pahala di sisi Tuhan, sepadan dengan iman dan amal shalih yang telah mereka kerjakan itu.

“Dan tidak ada ketakutan atas mereka dan tidaklah mereka akan berduka cita.” (ujung ayat 62).

Terdapat Empat Golongan

Di dalam ayat ini terdapatlah nama dari empat golongan:

  1. Orang-orang yang beriman.
  2. Orang-orang yang jadi Yahudi.
  3. Orang-orang Nasrani.
  4. Orang-orang Shabi’in.

Golongan pertama, yang disebut orang-orang yang telah beriman, ialah orang-orang yang telah terlebih dahulu menyatakan percaya kepada segala ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w. yaitu mereka-mereka yang telah berjuang karena imannya, berdiri rapat di sekeliling Rasul s.a.w. sama-sama menegakkan ajaran agama seketika beliau hidup. Di dalam ayat ini mereka dimasukkan dalam kedudukan yang pertama dan utama.

Yang kedua ialah orang-orang yang jadi Yahudi, atau pemeluk agama Yahudi. Sebagaimana kita ketahui, nama Yahudi itu dibangsakan atau diambil dari nama Yahuda, yaitu anak tertua atau anak kedua dari Nabi Ya’kub. Oleh sebab itu merekapun disebut juga Bani Israil. Dengan jalan demikian, maka nama agama Yahudi lebih merupakan agama “keluarga” dari pada agama untuk manusia pada umumnya.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 44-45: Sabar dan Sembahyang

Yang ketiga, yaitu Nashara, dan lebih banyak ragi disebut Nasrani. Dibangsakan kepada desa tempat Nabi Isa Almasih dilahirkan, yaitu desa Nazaret (dalam bahasa lbrani) atau Nashirah (dalam bahasa Arab). Menurut riwayat lbnu Jarir, Qatadah berpendapat bahwa Nasrani itu memang diambil dari nama desa Nashirah. Ibnu Abbas pun mentafsirkan demikian.

Yang keempat Shabi’in; kalau menurut asal arti kata maknanya, ialah orang yang keluar dari agamanya yang asal, dan masuk ke dalam agama lain, sama juga dengan arti asalnya ialah murtad. Sebab itu ketika Nabi Muhammad mencela-cela agama nenek-moyangnya yang menyembah berhala, lalu menegakkan faham Tauhid, oleh orang Quraisy, Nabi Muhammad s.a.w. itu dituduh telah shabi’ dari agama nenek-moyangnya.

Empat Golongan Jadi Satu

Menurut riwayat ahli-ahli tafsir, golongan Shabi’in itu memanglah satu golongan dari orang-orang yang pada mulanya memeluk agama Nasrani, lalu mendirikun agama sendiri. Menurut penyelidikan, mereka masih berpegang teguh pada cinta kasih ajaran Almasih, tetapi di samping itu merekapun mulai menyembah Malaikat. Kata setengah orang pula, mereka percaya akan pengaruh bintang-bintang.

Ini menunjukkan pula bahwa agama menyembah bintang-bintang pusaka Yunani mempengaruhi pula perkembangan Shabi’in ini. Di zaman sekarang penganut Shabi’in itu masih terdapat sisa-sisanya di negeri lrak. Mereka menjadi warga negara yang baik dalam Republik lrak.

Di dalam ayat ini dikumpulkanlah keempat golongan ini menjadi satu. Bahwa mereka semuanya tidak merasai ketakutan dan duka cita asal saja mereka sudi beriman kepada Allah dan Hari Akhirat. Lalu iman kepada Allah dan Hari Akhirat itu diikuti oleh amal yang shalih. Dan keempat-empat golongan itu akan mendapat ganjaran di sisi Tuhan mereka.

Syarat Beriman

Ayat ini adalah suatu tuntunan bagi menegakkan jiwa, untuk seluruh orang yang percaya kepada Allah. Baik dia bernama mu’min, atau muslim pemeluk Agama Islam, yang telah mengakui kerasulan Muhammad s.a.w. atau orang Yahudi, Nasrani dan Shabi’in. Di sini kita bertemu syarat yang mutlak.

Baca Juga  Karakteristik Mutawalli Al-Sha’rāwī dalam Menafsirkan Al-Quran

Syarat pertama iman kepada Allah dan Hari pembalasan, sebagai inti ajaran dari sekalian agama. syarat pertama itu belum cukup, kalau belum dipenuhi dengan syarat yang kedua, yaitu beramal yang shalih, atau berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik, yang berfaedah dan bermanfaat baik untuk diri sendiri ataupun untuk masyarakat.

Mafhrun atau sebaliknya dari yang tertulis adalah demikian: “Meskipun dia telah mengakui beriman kepada Allah (golongan pertama), mengaku beriman mulutnya kepada Nabi Muhammad, maka kalau iman itu tidak dibuktikannya dengan amalnya yang shalih, tidak ada pekerjaannya yang utama, tidaklah akin diberi ganjaran oleh Tuhan.”

Demikian juga orang Yahudi, walaupun mulutnya telah mengakui dirinya Yahudi, penganut ajaran Taurat, padahal tidak diikutinya dengan syarat pertama iman sungguh-sungguh kepada Allah dan Hari Akhirat, dan tidak dibuktikannya dengan amal yang shalih, perbuatan yang baik, berfaedah dan bermanfaat bagi peri-kemanusiaan, tidaklah dia akan mendapat ganjaran dari Tuhan.

Begitu juga orang Nasrani dan Shabi’in. Hendaklah pengakuan bahwa diri orang Nasrani atau Shabi’in itu dijadikan kenyataan dalam perbuatan yang baik.

Iman kepada Allah dan Hari Akhirat! Inilah pokok pertama, sehingga pengakuan beriman yang pertama bagi orang lslam, pengakuan Yahudi bagi orang Yahudi, pengakuan Nasrani bagi orang Nasrani, pengakuan Shabi’in bagi pemeluk Shabi’in, belumlah sama sekali berarti apa-apa sebelum dijadikan kesadaran dan keyakinan dan diikuti dengan amal yang shalih.

Beriman kepada Allah niscaya menyebabkan iman pula kepada segala wahyu yang diturunkan Allah kepada para RasulNya; tidak membeda-bedakan di antara situ Rasul dengan Rasul yang lain, percaya kepada keempat Kitab yang diturunkan.

Dalam Sejarah Rasul

Di dalam sejarah Rasul s.a.w. berjumpalah hal ini. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dan sahabat-sahabat yang utama, telah lebih dahulu menyatakan iman. Kemudian baik seketika masih di Makkah atau setelah berpindah ke Madinah, menyatakan iman pula beberapa orang Yahudi, sebagai Abdullah bin Salam, Ubai bin Ka’ab dan lain-lain.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah Ayat 124-129: Pelajaran dari Nabi Ibrahim

Orang-orang Nasranipun menyatakan pula iman kepada Allah dan Hari Akhirat yang diikuti dengan amal yang shalih, seumpama Tamim ad-Dari. Adi bin Hatim atau Kaisar Habsyi (Negus) sendiri dan beberapa lagi yang lain. Cuma yang tidak terdengar riwayatnya ialah orang Shabi’in. Salman al-Farisi pun berpindah dari agama Majusi, lalu memeluk Nasrani dan kemudian menyatakan iman kepada Allah dan Hari Akhirat dan mengikutinya dengan amal yang shalih. Maka semua orang-orang yang telah menyatakan iman dan mengikuti dengan bukti ini, hilanglah dari mereka rasa takut, cemas dan dukacita.

Apa Sebab?

Apabila orang telah berkumpul dalam suasana iman, dengan sendirinya sengketa akan hilang dan kebenaran akan dapat dicapai. Yang menimbulkan cemas dan takut di dalam dunia ini ialah apabila pengakuan hanya dalam mulut, aku mu’min, aku Yahudi, aku Nasrani, aku Shabi’in, tetapi tidak pernah diamalkan.

Maka terjadilah perkelahian karena agama telah menjadi golongan, bukan lagi da’wah kebenaran. Yang betul hanya aku saja, orang lain salah belaka. Orang tadinya mengharap agama akan membawa ketenteraman bagi jiwa, namun kenyataannya hanyalah membawa onar dan peperangan, karena masing-masing pemeluk agama itu tidak ada yang beramal dengan amalan yang baik, hanya amal mau menang sendiri.

Selanjutnya…

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.