Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 57 – 58: Tentang Manna dan Salwa

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Tafsir Ayat 57

Kemudian diperingatkan Tuhan pula nikmat lain yang telah diberikan kepada mereka:

“Dan telah Kami teduhi atas kamu dengan awan dan telah Kami turunkan kepada kamu manna dan salwa.” (pangkal ayat 57).

Empat puluh tahun lamanya mereka tertahan di padang Tih, sebagai hukuman karena mereka tidak berani masuk ke negeri yang dijanjikan itu, sebagaimana kelak akan ada lagi ayat lain menjelaskannya. Tetapi sungguhpun 40 tahun di padang belantara kering itu, mereka selalu ditudungi dengan awan. Kalau tidaklah ada tudungan awan niscaya habis matilah mereka karena teriknya panas di padang pasir.

lnilah suatu rahmat Tuhan lagi yang mereka terima, meskipun mereka di padang Tih itu sedang dihukum. Patutlah mereka mensyukurinya. Kemudian di masa itu juga mereka diberi makanan yang bernama manna dan salwa. Menilik arti saja, manna ialah kurnia, salwa boleh diartikan penawar hati. Tetapi yang dimaksud ialah dua macam makanan enak yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.

Menurut riwayat lbnul Mundzir dan lbnu Abi Hatim dari lbnu Abbas, beliau berkata bahwa manna adalah suatu makanan manis, berwarna putih yang mereka dapati tiap-tiap pagi telah melekat pada batu-batu dan daun-daun kayu. Rasanya manis dan enak; semanis madu, sehingga ada penafsir yang memberinya arti madu.

Apabila makanan itu mereka makan, mereka kenyang. Mereka boleh membawa keranjang setiap pagi untuk memungutinya. Adapun salwa ialah burung putih sebesar burung puyuh. Terbang berbondong-bondong dan mudah mereka tangkap. Dagingnya gurih dan empuk. Sewaktu-waktu burung itu datang berbondong, sehingga mereka tidak kekurangan daging.

Makanlah yang Baik

“Makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami anugerahkan kepada kamu.”

Artinya semuanya itu dianugerahkan Allah dengan penuh rasa rahmat, sebab itu memakannyapun haruslah dengan baik.

“Dan tidaklah mereka yang menganiaya Kami, akan tetapi adalah mereka menganiaya diri mereka sendiri” (ujung ayat 57).

Tegasnya, jika Allah Ta’ala mendatangkan suatu perintah dan menurunkan Agama, bukanlah Tuhan menyia-nyiakan jaminan hidup bagi manusia, bahkan diberiNya perlindungan dan makanan cukup. Maka sebagai tanda syukur kepada llahi, patutlah mereka beribadat kepadaNya. Kalau nikmat Tuhan tidak disyukuri, sengsaralah yang akan menimpa.

Baca Juga  Menghindari Kekerasan

Maka kalau sengsara menimpa, janganlah Tuhan disesali, tetapi sesalilah diri sendiri. Dan Tuhan tidaklah akan teraniaya oleh perbuatan manusia. Misalnya jikapun manusia durhaka kepada Allah, tidaklah Allah akan celaka lantaran kedurhakaan manusia itu, melainkan manusialah yang mencelakakan dirinya.

Tafsir Ayat 58

“Dan (ingatlah) seketika Kami berkata: Masuklah kamu ke dalam negeri ini, maka makanlah daripadanya sebagaimana yang kamu kehendaki dengan puas, dan masukilah pintu itu dengan merendah diri dan ucapkanlah kata permohonan ampun, niscaya akan Kami ampuni kesalahan-kesalahan kamu, dan akan Kami tambah (nikmat) kepada orang-orang yang berbuat baik.” (ayat 58).

Setelah mereka dikeluarkan dari tempat perhambaan di Mesir itu dan dijanjikan kepada mereka tanah-tanah pusaka nenek-moyang mereka, yaitu bumi Kanaan atau tanah-tanah Mesopotamia yang sekarang ini: Palestina, sekeliling Sungai Yordania.

Tetapi masuk ke sana itu tidaklah secara melenggang saja, melainkan dengan perjuangan. Kepada mereka diberikan perintah bagaimana cara menaklukkan sebuah negeri; hasil bumi negeri itu boleh dimakan, sebab sudah menjadi hak mereka. Sebab itu boleh kamu makan dia dengan puas dan gembira.

Dan ketika masuk ke dalam negeri itu hendaklah dengan budi yang baik, dengan sikap yang runduk, jangan menyombong, jangan membangkitkan sakit hati pada orang lain, dan bersyukurlah kepada Allah atas nikmat yang telah dikurniakanNya dan kemenangan yang telah diberikanNya, dan ucapkanlah perkataan yang mengandung semangat mohon ampun kepada llahi. Kalau perintah ini mereka turuti, niscaya jikapun ada kesalahan mereka dalam peperangan atau dalam hal yang lain akan diampuni oleh Tuhan, dan kepada orang-orang yang sudi berbuat baik akan dilipatgandakan Tuhan nikmatNya.

Untuk melihat contoh teladan tentang menaklukkan dan memasuki negeri musuh dengan jalan begini, ialah teladan Nabi Muhammad sendiri seketika beliau memerlukan Makkah, setelah 10 tahun beliau diusir dari negeri itu. Beliau masuk dengan muka tunduk, sampai tercecah kepala beliau kapada leher untanya yang bernama al-Qashwa’ itu, tidak ada sikap angkuh dan sombong.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 8-9: Sifat Orang Munafik

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.