Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 31-33: Tentang Khalifah (1)

Mansukh
Sumber: unsplash.com

Arti yang tepat dalam bahasa kita terhadap kalimat Khalifah ini, hanya dapat kita ungkapkan setelah kita kaji apa tugas Khalifah.

  1. Seketika Rasulullah s.a.w. telah wafat, sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. sependapat mesti ada yang menggantikan beliau mengatur masyarakat, mengepalai mereka, yang akan menjalankan hukum, membela yang lemah, menentukan perang atau damai dan memimpin mereka semuanya. Sebab dengan wafatnya Rasulullah, kosonglah jabatan pemimpin itu. Maka sepakatlah mereka mengangkat Saiyidina Abu Bakar as-Shiddiq r.a. menjadi pemimpin mereka. Dan mereka gelari dia “Khalifah Rasulullah”. Tetapi meskipun yang dia gantikan memerintah itu ialah Utusan Allah, namun dia tidaklah langsung menjadi Nabi atau Rasul pula. Sebab Risalat itu tidaklah dapat digantikan. Jadi di sini dapat kita artikan Khalifah itu pengganti Rasulullah dalam urusan pemerintahan.
  2. Kepada Nabi Daud Tuhan Allah pernah bersabda:
    “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau telah Kami jadikan Khalifah di bumi.” (Shad 26).
    Ini bisa diartikan sebagai Khalifah Allah sendiri; pengganti atau alat dari Allah buat melaksanakan Hukum Tuhan dalam pemerintahannya. Dan boleh juga diartikan bahwa dia telah ditakdirkan Tuhan menjadipengganti dari rajaraja dan pemimpin-pemimpin dan Nabi-nabi Bani Israil yang terdahulu daripadanya.
  3. Tetapi ada pula ayat-ayat bahwa anak-cucu atau keturunan yang di belakang adalah sebagai Khalafah atau Khalifah dari nenek-moyang yang dahulu (sebagai tersebut dalam Surat Yunus. Surat 10, ayat 14). Demikian juga dalam Surat-surat yang lain-lain.
  4. Tetapi di dalam Surat an-Naml (Surat 27, ayat 62), ditegaskan bahwa seluruh manusia ini adalah Khalifah di muka bumi ini:
    “Atau siapakah yang memperkenankan permohonan orang-orang yang ditimpa susah apabila menyeru kepadaNya? Dan yang menghilangkan kesusahan? Dan yang menjadikan kamu Khalifah-khalilah di bumi? Adakah Tuhan lain beserta Allqh? Sedikit kamu yang ingat.” (an-Naml: 62)
    Setelah meninjau sekalian ayat ini dan gelar Khalifah bagi Saiyidina Abu Bakar, barangkali tidaklah demikian jauh kalau Khalifah kita artikan pengganti.

***

Sekarang timbul pertanyaan: Pengganti dari siapa?

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 67-74: Menyembelih Lembu Betina (3)

Ada penafsir mengatakan pengganti dari jenis makhluk yang telah musnah, sebangsa manusia juga, sebelum Adam. ltulah yang akan digantikan. Ada setengah penafsiran mengatakan Khalifah dari Allah sendiri. Pengganti Allah sendiri. Sampai di sini niscaya dapat difahamkan bahwa mentang-mentang manusia dijadikan KhalifahNya oleh Allah, bukanlah berarti bahwa dia telah berkuasa pula sebagai Allah dan sama kedudukan dengan Allah; bukan!

Sebagaimana juga Abu Bakar diberi gelar sebagai Khalifah Rasulullah, bukan berarti bahwa langsung sama kedudukan Abu Bakar dengan Rasulullah. Maka jika manusia menjadi Khalifah Allah, bukan berarti manusia menjadi sama kedudukan dengan Allah! Maka pengertian pengganti di sini harus diberi arti manusia diangkat oleh Allah menjadi KhalifahNya. Dengan perintah-perintah tertentu. Dan untuk menghilangkan kemusykilan dalam hati, kalau hendak dituruti tafsir yang kedua, bahwa manusia adalah Khalifah Allah dimuka bumi, janganlah dia dibahasa-indonesiakan; tetap sajalah dalam bahasa aslinya: Khalifah Allah!

***

Sekarang kita lanjutkan tentang kedua penafsiran itu.

Pendapat pertama ialah Khalifah dari makhluk dulu-dulu yang telah musnah. Di kala mereka masih ada di dunia, mereka hanya berkelahi, merusak, bunuh-membunuh karena berebut hidup. Itu sebabnya maka Malaikat terkenang akan itu kembali lalu menyampaikan permohonan dan pertanyaan kepada Tuhan, kalau-kalau terjadi demikian pula.

Maka tersebarlah semacam dongeng pusaka bangsa Iran (Persia), yang kadang-kadang setengah ahli tafsir tidak pula keberatan menukilnya: katanya, sebelum Nabi Adam, ada makhluk namanya Hinn dan Binn, ada juga yang mengatakan namanya ialah Thimm dan Rimm. Setelah makhluk yang dua itu habis, datanglah makhluk yang bernama Jin. Semua makhluk itu musnah, sebab mereka rusak-merusak, bunuh-membunuh.

Akhirnya – kata dongeng – dikirimlah oleh Tuhan bala tentaranya, terdiri dari Malaikat-malaikat, dan dikepalai oleh lblis, lalu makhluk Jin itu diperangi sehingga musnah. Adapun sisa-sisanya lari ke pulau-pulau dan ke lautan. Kemudian barulah Allah menciptakan Adam.

***

Dalam setengah kitab tafsir ada juga bertemu keterangan ini, meskipun riwayat ini tidak berasaldari riwayat Islam sendiri.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 6: Apa Sebab Orang Menjadi Kafir?

Tetapi meskipun dia hanya dongeng belaka, sudahlah dapat kita mengambil kesimpulan bahwa pendapat tentang adanya makhluk purbakala yang dikhalifahi oleh Adam itu, bukanlah pendapat kemarin dalam kalangan manusia, melainkan telah tua, beratus tahun sebelum keluar teori Darwin. Bukankah ahli-ahli pengetahuan menggali ilmu juga dari dongeng?

Ada lagi pendapat yang sejalan dengan itu, yaitu dari beberapa golongan kaum Shufi dan kaum Syi’ah lmamiyah.

Al-Alusi, pengarang Tafsir Ruhul Ma’ani mengatakan bahwa di dalam kitab Jami’ul Akhbar dari orang Syi’ah Imamiyah, fasal 15, ada tersebut bahwa sebelum Allah menjadikan Adam nenek kita, telah ada 30 Adam.

Jarak di antara satu Adam dengan Adam yang lain 1,000 tahun, setelah Adam yang 30 itu, 50,000 tahun lamanya dunia rusak binasa, kemudian ramai lagi 50,000 tahun, barulah dijadikan Allah nenek kita Adam.

lbnu Buwaihi meriwayatkan di dalam Kitab at-Tauhid, riwayat dari Imam Ja’far as-Shadiq dalam satu Hadis yang panjang, dia berkata: “Barangkali kamu sangka bahwa Allah tidak menjadikan manusia (basyar)selain kamu. Bahkan, demi Allah! Dia telah menjadikan 1,000.00 Adam (Alfu Alfi Adama), dan kamulah yang terakhir dari Adam-adam itu!”

Berkata al-Haitsam pada syarahnya yang besar atas Kitab Nahjul-Balaghah: “Dan dinukilkan dari Muhammad al-Baqir bahwa dia berkata: Telah habis sebelum Adam yang Bapa kita 1,000 Adam atau lebih.” Ini semua adalah pendapat dari kalangan Imam-imam Syi’ah sendiri: Ja’far as-Shadiq dan Muhammad al-Baqir, dua di antara 12 Imam Syi’ah Imamiyah.

***

Kalangan kaum Shufi pun mempunyai pendapat demikian. As-Syaikh al Akbar lbnu Arabi berkata dalam kitabnya yang terkenal al-Futuhat al-Makkiyah, bahwa 40,000 tahun sebelum Adam sudah ada Adam yang lain.

Malahan untuk jadi catatan, lmam Syi’ah yang besar itu, Ja’far as-Shadiq menyatakan bahwa di samping alam kita ini, Tuhan Allah telah menjadikan pula 12,000 alam, dan tiap-tiap alam itu lebih besar dari pada tujuh langit dan tujuh bumi kita ini.

Baca Juga  Islam Sebagai Pemandu Toleransi

Di dalam beberapa ranting yang mengenai kepercayaan terdapat perbedaan sedikit-sedikit, sebagai kita yang dinamai Ahlus-Sunnah, dengan kaum Syi’ah. Tetapi di dalam hal yang mengenai ilmu pengetahuan alam ini, amat sempitlah faham kita kalau sekiranya kita tidak mau memperdulikan, mentang-mentang dia timbul dari Syi’ah.

Karena hal-ihwal yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan itu adalah universal sifatnya, yaitu menjadi kepunyaan manusia bersama. Apatah lagi sampai kepada saat sekarang ini dan seterusnya, penyelidikan ilmiah tentang alam, tentang hidupnya manusia didunia ini, tidaklah akan berhenti.

Cobalah cocokkan keterangan lmam Ja’far as-Shadiq ini dengan hasil penyelidikan alam yang terakhir, yang mengatakan bahwa alam cakrawala itu terdiri daripada berjuta-juta kekeluargaan bintang-bintang, masing-masing dengan mataharinya sendiri yang dinamai Galaxi.

***

Berdasarkan kepada semuanya ini, maka ditafsirkan oleh setengah ahli tafsir, bahwa yang dimaksud dengan Adam sebagai Khalifah, ialah Khalifah dari Adam-adam yang telah berlalu itu, yang sampai mengatakan seribu-ribu (sejuta Adam). Dan dongeng lran yang diambil dan dimasukkan ke dalam beberapa tafsir itupun menunjukkan bahwa dalam kalangan Islam sudah lama ada yang berpendapat bahwa sebelum manusia kita ini sudah ada makhluk dengan Adamnya sendiri terlebih dahulu.

Sekarang tidaklah berhenti orang menyelidiki hal itu, sehingga akhirnya datanglah pendapat secara ilmiah, diantaranya teori Darwin, dilanjutkan lagi oleh berpuluh penyelidikan tentang ilmu manusia, pada fosil-fosil yang telah membantu menunjukkan bahwa 400,000 tahun yang lalu telah ada manusia Peking atau manusia Mojokerto.

Adapun al-Quran, karena dia bukanlah kitab catatan penyelidikan fosil atau teori Darwin, tidaklah dia membicarakan hal itu. Tidak dia menentang teori itu, malahan menganjurkan orang meluas-dalamkan ilmu pengetahuan tentang apa saja, sehingga bertambah yakin akan kebesaran Allah.

Penafsiran yang kedua ialah Khalifah dari Allah sendiri.

Bersambung….

Sumber: Tafsir Al-Azhar Prof. HAMKA. Pustaka Nasional PTE LTD Singapura

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.