Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Baqarah 183: Puasa Kendaraan Menuju Taqwa

puasa
Sumber: freepik.com

Puasa Rukun Islam

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Salah satu rukun Islam yang lima, yang merupakan salah satu pilar agama dan wajib untuk dilaksanakan adalah puasa ramadhan. Dalam versi fikihnya disebutkan bahwa ibadah puasa di dalam bulan ramadhan merupakan kewajiban yang sakral serta ibadah Islam yang bersifat syi’ar yang besar.

Tafsir Ayat Puasa

Ayat yang penulis cantumkan di atas tadi, merupakan salah satu dalil yang memerintahkan umat Islam untuk berpuasa. Bagi kita yang sering mengikuti berbagai pengajian, atau mendengarkan ceramah-ceramah pada bulan ramadhan tentu sudah tidak asing lagi mendengarkan ayat tersebut. Karena memang ayat tersebut sudah dijadikan sebagai ayat andalan oleh para penceramah pada bulan ramadhan.

Namun, apakah kita bisa memahami dan mengaktualisasikan kandungan ayat tersebut hanya bermodalkan hafalan ayat secara tekstual saja? Maka dari itu di sini penulis ingin mengajak para pembaca untuk memahami apa kandungan yang sebenarnya di dalam Q.S Al-Baqarah ayat 183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Ayat di atas mengandung berbagai pelajaran yang berharga yang berkaitan dengan ibadah puasa. Banyak untaian hikmah maupun ibrah yang dapat kita ambil dalam satu ayat yang mulia ini.

Firman Allah “Wahai Orang-Orang yang Beriman”                       

Dari lafadz ini kita dapat mengetahui bahwa adanya redaksi yaa ayyuhalladzii menandakan bahwa ayat ini Madaniyyahatau diturunkan di Madinah (setelah hijrah). Karena ayat yang diawali dengan lafadz yaa ayyuhannaas atau yaa bani adam merupakan ayat Makkiyah atau diturunkan di Makkah (sebelum hijrah). (As-Suyuthi, 2003, hlm 55)

Baca Juga  Tafsir Surat al-Fatihah Ayat 5

Dalam tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa maksud ayat ini ialah: ” Wahai orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, membenarkan keduanya dan mengikrarkan keimanan kepada keduanya”. (At-Thabary, jilid 3, hlm 409)

Hampir selaras, Ibnu Katsir yang menafsirkan ayat ini: “Firman Allah ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman dari umat manusia dan ini merupakan perintah untuk melaksanakan ibadah puasa”. (Katsir, Jilid 1, hlm 497)

Dari lafadz itu saja, sudah terlihat dengan jelas adanya kaitan antara puasa dengan keimanan seseorang. Allah memerintahkan puasa kepada orang-orang yang tentunya memiliki iman. Dalam artian lain berarti bahwa Allah hanya menerima puasa dari jiwa-jiwa yang terdapat iman didalam hatinya. Jadi dalam konteks di sini bahwa puasa sebagai amalan lahiriah yang merupakan konsekuensi dari iman.

Firman Allah “Telah Diwajibkan atas Kamu Berpuasa”

Al-Qurthubi menafsirkan ayat ini dengan: “Sebagaimana Allah menyebutkan wajibnya Qishah dan wasiat kepada orang-orang yang mukallaf pada ayat sebelumnya. Allah juga menyebutkan kewajiban untuk berpuasa” (Qurthuby, Jilid 2, hlm 272)

Namun ada yang menariknya di sini. Di sana diterangkan bahwa pada masa awal perkembangan Islam, puasa belum diwajibkan. Melainkan hanya dianjurkan sebagaimana yang termaktub didalam QS. Al-Baqarah: 184. Penyebab bertahapnya pensyari’atan kewajiban untuk ibadah puasa karena dilatar belakangi dengan menyesuaikan kondisi akidah umat Islam ketika itu.

Ali Hasan Al-Halabi menyatakan bahwa“Kewajiban puasa ditunda hingga tahun kedua Hijriah, yaitu ketika para sahabat sudah mantap dalam berakidah dan dalam menggaungkan syiar Islam. Perpindahan hukum ini dilakukan secara bertahap. Karena awalnya mereka diberi pilihan untuk berpuasa atau tidak, namun tetap dianjurkan”. (Halibi, Jilid 1, hlm 21)

Dari penjelasan tersebut, kita dapat menarik pengajaran yang sangat penting, bahwa ketaatan seorang hamba kepada Rabb-Nya itu sangat berbanding lurus dengan sejauh mana ia menerapkan ketauhidannya.

Baca Juga  Berpuasa dari Sekarang, Untuk Membuka Pintu Surga

Firman Allah “Sebagaimana Diwajibkan atas Orang-Orang Sebelum Kalian”

Banyak ikhtilaf di kalangan ulama dalam lafadz ini, ada yang menafsirkan maksud dari “orang-orang sebelum kalian” dengan para Nabi sejak dari masa Nabi Adam AS sampai sekarang. Ini pendapat dari al-Alusi. Kemudian menurut versi Ibnu Abbas dan Mujahid, yang dimaksud adalah Ahlu Kitab. Sedangkan menurut Al-Hasan yang dimaksud adalah kaum Nasrani.

Namun dari sini kita dapat memahami bahwa sebelum diwajibkannya puasa bagi umat Nabi Muhammad, Allah telah mewajibkan pula puasa bagi umat-umat sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah yang tidak bisa tergantikan karena memang banyak manfaat dari segi ruhani maupun jasmani.

Firman Allah “Agar Kalian Bertaqwa”

Dalam lafadz ini kita dapat menemukan korelasi antara puasa dan ketaqwaan. Pada nyatanya puasa merupakan salah satu jalan yang terbesar dalam menuju ketaqwaan. Saya mengutip tafsiran yang dilontarkan oleh Al-Baghawi daam kitabnya Ma’alim At Tanziil.

Di sana beliau lebih memperluas tafsirnya ketimbang mufassir lainnya tentang makna lafadz tersebut: Maksudnya, mudah-mudahan kalian bertaqwa karena sebab puasa. Karena puasa  adalah  wasilah  menuju  taqwa.  Sebab  puasa  dapat  menundukkan  nafsu  dan  mengalahkan  syahwat.  Sebagian  ahli  tafsir  juga  menyatakan,  maksudnya:  agar  kalian  waspada  terhadap  syahwat  yang  muncul  dari  makanan, minuman dan jima”.

Di sini makna puasa bukan hanya sekedar menahan dahaga dan lapar. Melainkan membatasi diri terhadap syahwat yang muncul dari berbagai bentuk. Kemudian puasa seharusnya dapat menundukkan nafsu dan sekaligus menghalangi untuk berbuat maksiat. Jadi orang yang berpuasa, namun maksiatnya tetap jalan, kemudian nafsunya tidak terkendali, maka ada yang bermasalah dalam puasanya.

Karena di samping menahan segala bentuk perbuatan dosa ataupun maksiat, puasa di sini sebagai kendaraan bagi kita untuk meraih pintu ketaqwaan yang hakiki. Seperti mana defenisi taqwa yang sangat indah pernah diungkapkan oleh Halq bin Habib Al’Anazi. Beliau mengatakan : “Taqwa  adalah  mengamalkan  ketaatan  kepada  Allah  dengan  cahaya  Allah  (dalil),  mengharap  ampunan  Allah,  meninggalkan  maksiat  dengan  cahaya Allah (dalil), dan takut terhadap adzab Allah.”

Baca Juga  Ustadz Fathur: Tafsir Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in

Selain sebagai protect dari perilaku maksiat, puasa juga dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan menimbulkan rasa kepedulian kepada orang fakir yang selalu mengalami kelaparan, dan ini merupakan tabiat sejati yang hanya dimiliki orang-orang bertaqwa.

Penyunting: M. Bukhari Muslim