Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Surah Al-Alaq: Urgensi Membaca dan Menulis

menulis
gambar: djkn.kemenkeu.go.id

Writer block (kebuntuan menulis) kerapkali menghantui siapa saja. Entah itu mahasiswa yang sedang mencari bahan-bahan skripsi, ataupun seorang dosen yang sedang melakukan riset penelitian, dan terkhususnya, seorang content creator. Hal tersebut, acapkali mengganggu kinerja serta performa penulis itu sendiri.

Proses panjang menjadi seorang penulis handal layaknya HAMKA, berangkat dari karya pertamanya, yaitu Khatibul Ummah, yang berisi jahitan untaian tulisan hasil khutbah yang kemudian dihimpun menjadi sebuah buku. Hingga sebuah novel monumentalnya, yaitu Tenggelamnya Kapal Van Ser Wijck, hingga diangkatnya ke layar lebar. Dan belakangan ini, penulis mendapat informasi terbaru perihal ditemukanya bongkahan-bongkahan awak kapal tersebut, yang disiarkan disalah satu stasiun televisi, yaitu TvOne

Dalam kitab suci al-Qur’an sendiri, terdapat ayat suci Tuhan, perihal urgensi pentingnya belajar membaca, menulis, berikut keutamaan ilmu pengetahuan itu sendiri. Hal itu terlukis dalam surah al-Alaq ayat 3-5, berikut ulasanya:

Pentingnya Belajar Membaca Hingga Menulis

Allah SWT dalam kitab suci al-Qur’an memberikan petunjuk yang amat sangat mulia kepada seluruh manusia. Yaitu melalui firman-Nya dalam surah al-Alaq ayat 3-5. Yang memberikan petunjuk mengenai pentingnya belajar membaca, menulis, berikut keutamaan daripada ilmu pengetahuan. Berikut ulasannya:

اِقْرَاْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُ

‘’Bacalah, dan Tuhanmu itu paling pemurah (paling dapat menahan amarahnya)’’. QS. Al-Hijr [96]:3

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ

‘’Yang mengajarkan manusia mengajarkan qalam’’. QS. Al-Alaq [96]:4

            عَلَّمَ الاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ

‘’Dia mengajarkan kepada manusia tentang apa yang belum diketahuinya’’. QS. Al-Alaq [96]:5.

Penafsiran Surah Al-Alaq Ayat 3-5

Dalam ayat ini pungkas Teungku Muhammad Hasby Ash-Shidiqiey, Allah SWT mengulang perintah ‘’iqra’’. Merunut serta mengacu kepada kebiasaan, bahwasanya seseorang mampu membaca secara fluent (lancar), yaitu pasca pengulangan pembacaan. Oleh karenanya ayat ini, mengulang-ulangi perintah untuk membaca. Sebagai bentuk perintah pengulangan pembacaan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 49: Kekejaman Fir'aun

Wa rabbukal akram, yaitu Tuhanmu itu paling pemurah (paling dapat menahan amarahnya. Dalam ayat ini, tutur Hasby, mudah bagi Allah SWT untuk melimpahkan karunia nikmatnya bagi siapapun yang mengharapkan pemberianya. Oleh karenanya, lanjut Hasby, sangatlah amat mudah bagi Allah SWT. Yaitu untuk melimpahkan kenikmatan berupa nikmat membaca dan menghafal al-Qur’an kepadamu.

Alla-dzii ‘allama bil qalam, yaitu yang mengajarkan manusia mempergunakan qalam. Dalam ayat ini Hasby memetakan alat yang dijadikan sebagai pengekspresian buah pikiran. Pertama, melalui tulisan, kedua, melalui lisan. Berikut ulasannya: yaitu Allah SWT Tuhan yang aqram (termulia) yang telah menjadikan qalam (pena) itu sebagai alat untuk meng-output, berupa pengekspresian ataupun pengungkapan buah pikiran lewat sebuah untaian jahitan tulisan. Layaknya juga, tutur Hasby, lisan yang dijadikan sebuah alat untuk mengekspresikan buah pikiran secara oral(ucapan). (Ashiddieqy, 2000, h. 4646)

Allamal insaana maa lam ya’lam , Yaitu dia mengajarkan kepada manusia tentang apa yang belum diketahuinya. Dalam ayat ini, pungkas Hasby, Allah SWT memerintahkan kepada nabinya yaitu untuk membaca. Dan Allah SWT juga yang telah memberikan kemampuan membaca. Berikut Allah SWT lah yang telah mengajarkan manusia dengan segala bidang keilmuan. Hasby menuturkan, bahwa hanya dengan ilmulah letak perbedaan manusia daripada binatang, walaupun manuasia pada mulanya tidak mengetahui serta memahami apapun. Selanjutnya Allah SWT lah yang mengajarkan membaca berikut keilmuannya. Pungkas Hasby, ayat-ayat inilah yang menjadi dalil yang sangat amat tegas yang menunjukkan mengenai fadilah (keutamaan) belajar membaca, menulis, serta keutamaan ilmu pengetahuan. (Ashiddieqy, 2000, h. 4646)      

Empat Kepiawaian Yang Harus Dimilki Penulis

Dunia literasi digital akan memproduksi lembar-lembar peradaban yang serba maju dan indah. Terutama jikalau banyak terlahir penulis yang mengisi ruang-ruang kosong serba-serbi bingkai peradaban kepenulisan. Meminjam ungkapan sastrawan dan pujangga ulung, yaitu HAMKA, bahwa “seorang politikus merupakan arsitektur struktur negara, tetapi penulislah, yang mengisinya dengan keindahan, perasaan, serta gagasan.’’ (Guci, 2017, h. 40)

Baca Juga  Tafsir Ilmi: Reaksi Redoks dalam Pembangunan Benteng Zulkarnain

Berangkat sebagai seorang penulis, sastrawan, serta, wartawan. agaknya diramu serta diracik dengan kepiawaianya dalam kepenulisan itu sendiri. Berikut empat prasyarat-prasyarat menjadi seorang pengarang atau penulis handal menurut HAMKA:

Pertama, seorang penulis harus memilki daya khayal serta imajinasi, kedua,seorang penulis mesti memilki ingatan yang tajam, ketiga, seorang penulis harus juga memilki daya hafal yang kuat, keempat, dan seorang penulis harus mampu mengejawantahkan ketiga kemampuanya kedalam sebuah untaian jahitan tulisan. (Guci, 2017, h. 38). Wallahua’lam

Penyunting: Bukhari