Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Qur’an Al-Huda: Tafsir Bahasa Jawa Karya Bakri Syahid (2)

jawa
Sumber: https://www.nusantarainstitute.com/

Pada tulisan bagian pertama, penulis hanya menyajikan cover-cover dari tafsir al-Huda bermulai dari biografinya, kemudian karakteristiknya, cakupan pembahasannya dan lain sebagainya. Namun, kali ini penulis lebih cenderung untuk memperkenalkan artikulasi ajaran Islam yang kita dapatkan dari penggunaan simbol bahasa dalam Khazanah Jawa yang terdapat di Tafsir al-Huda ini.

Penggunaan kata sapaan Khas Jawa dalam Tafsir al-Huda

Kalau kita menelisik di dalam tafsir al-Huda ini, akan ditemukan pembahasan yang menjelaskan bahwa Allah Swt. adalah Zat yang Maha Suci, yang berhak untuk disembah, diagungkan dan dipuja (Arafah, 1979 hlm 17). Redaksi yang didalam tafsir nya kurang lebih seperti ini :

“Allah inggih punika Dzat ingkang Maha Suci,ingkang saestu kagungan Hak dipun sembah-sembah lan kapundhi-pundhi”.

Kemudian dalam redaksi yang lain “Gusti  Allah  paring  pitedah  dhumateng  sadaya  makhluki-pun  lumantar  ‘akal,  instinct  (naluri)  sarta  kodrat  ‘alam  lingkunganipun,  supados  saged  nglestantunaken  kawiluje-ngani  pun  ing  bebrayan  sami,  sarta  mbangun  kabudayan-kabudayan  insani.  Pramila  manungsa  kedah  makarya  lan  manembah sarta dhedhepe ing Allah, amrihtata tentrem kerta-raharja awit ing Donya dumugining Akhirat, sowan ngadhep ing ngarsanipun Gusti Pepundheningpara manungsa, Allah swt.!”

Dari penjelasan yang telah dikemukakan oleh Tafsir al-Huda, dapat disimpulkan bahwa Allah Swt yang diberi sapaan bagi khazanah jawa dengan panggilan “Gusti Allah” merupakan asal sekaligus tujuan segala amal dan perbuatan manusia yang sebenarnya.

Lebih lanjut, Koentjaraningrat mengungkapkan bahwa konsep Tuhan pada dasarnya telah menjadi kesadaran yang sudah lumrah bagi masyarakat jawa yang tercermin dalam penyebutan nama Allah dengan lafadz Bismillah, baik itu sebagai ritual tersendiri sebelum melakukan sesuatu atau setiap kali mengawali hal yang penting (Koentjaraningrat, hlm. 322)

Di dalam kitab al-Suyuthi yang berjudul Jami’ al-Shaghir fi Ahadits al-Basyir al-Nadzir di sana terdapat hadis yang berbunyi “Setiap perkara yang baik yang tidak diawali dengan melafadzkan basmalah maka ia akan terputus”. Nah ternyata hadis tersebut dapat diduga bahwa orang jawa pada dasarnya telah menginternalisasikan hadis nabi tersebut didalam kebudayaan mereka.

Baca Juga  Hamid Algar tentang Wahhabisme (1): Kritik Terhadap Abdul Wahhab

Kemudian kembali kepada penambahan sapaan gusti yang menjadi ciri khas panggilan masyarakat jawa kepada Allah Swt. Perlu untuk kita ketahui bahwa pada dasarnya penambahan tersebut bukanlah merupakan ajaran yang bertentangan dengan prinsip ketauhidan, karna sebagaimana mestinya kata “Gusti” merupakan sebutan dan sapaan yang bermakna sangat dijunjung tinggi dan dipuji.

Kemudian, suatu kepahaman yang sebenarnya bahwa Allah Swt merupakan tujuan sejati untuk beramal sebagaimana ditunjukkan dalam kutipan tafsir al-Huda diatas, terbentuk dalam sebutan Allah sebagau Pepundhen yang berarti “Sesuatu yang diletakka diatas kepala” atau “sesuatu yang sangat dipuja”.

Di samping itu juga, selain dalam penggunaan kata sapaan, baik secara persona awal maupun selanjutnya. Tafsir al-Huda juga sangat memperhatikan nilai-nilai alkulturasi jawa, yang mana hal tersebut tercermin dalam pemakaian bahasa Jawa yang selalu memperhatikan kedudukan penutur dibandingkan lawan tuturannya.

Seperti penggunaan kata Ingsun. Kata ini merupakan persona pertama yang mengacu kepada Allah Swt sebagai penutur. Kata ini bisa dibilang bentuk persona yang bersifat netral namun menunjukkan status yang paling tinggi. Dengan adanya persona tersebut, kita dapat memahami bahwa kata ingsun itu menunjukkan kepada eksistensi Allah sebagai pemilik keagungan dan kemuliaan yang hakiki.

Tafsir dan Kebudayaan Tidak Dapat Dipisahkan

Dari berbagai bentuk ungkapan sapaan dan sikap moral yang tergambar dalam penjelasan Tafsir al-Huda sebagaimana yang telah penulis rangkum diatas. Sekiranya sedikit banyaknya kita dapat memahami bahwa nilai-nilai ajaran Islam yang telah mengalami proses pembudayaan sedemikian uniknya sehingga alat untuk memahami al-Qur’an tidak hanya sebatas bagi kaum terpelajar yang menguasai bahasa dan kultur Arab, melainkan juga dapat memahami dengan suatu penafsiran yang dipenuhi dengan warna lokal berkultur Jawa.

Baca Juga  Kitab Firasat: Keilmuan Islam yang Bersumber dari Penalaran Murni

Sehingga dapat diharapkan bahwa Tafsir al-Qur’an merupakan suatu alat untuk menghadapi berbagai perubahan dan berbagai masalah yang muncul begitu saja dalam era modern ini. Dari semua bentuk pembahasan tersebut dapat dipahami bahwa enkulturasi Islam dalam bahasa lokal di dalam suatu perspektif Tafsir Al-Huda merupakan hasil yang logis dari berbagai Interaksi yang terjadi antara nilai-nilai ajaran Islam dengan nilai-nilai kebudayaan lokal yang terartikulasi dengan menggunakan simbol-simbol bahasa.

Hal ini juga sangat relevan dengan keberadaan tafsir al-Qur’an sebagai wacana bahasa sekaligus fenomena kebudayaan. Kedua eksistensi antara tafsir dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan karna keduanya saling terkait dan berjalan seiringan.

Editor: An-Najmi Fikri R