Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Qur’an Al-Huda: Tafsir Bahasa Jawa Karya Bakri Syahid (1)

jawa
Sumber: https://www.nusantarainstitute.com/

Tafsir merupakan produk pemikiran yang berciri khas insani, maka tidak heran jika tafsir sulit dipisahkan dari karakter mufasirnya. Bahkan corak sebuah tafsir akan berpengaruh dari faktor-faktor individu mufasir baik secara sosiologi maupun secara antropologi. Bahkan pengaruh sehalus apapun bisa masuk dan mempengaruhi pemikiran tafsir seorang ulama.

Berangkat dari fakta tersebut, penafsiran dengan berbagai coraknya tentu diharapkan dapat mengembangkan suatu pandangan yang global terhadap dunia, sejarah, makna dan lain sebagainya. Dalam hal ini, semua bentuk dari norma hukum, moral, etika, bahkan ilmu pengetahuan pun dipetik dari teks yang berada dalam kitab suci al-Qur’an melalui sebuah penafsiran.

Di samping itu, tafsir sebagai pengantar agar tercapainya suatu pemahaman manusia dalam mentadabburi al-Qur’an, baik itu pengembangan intelektual, kebudayaan dan lain sebagainya. Semakin mempertegas bahwa pentingnya tafsir al-Qur’an itu sendiri.

Dalam konteks dari “Al-Qur’an  shâlihun  likulli  zamân  wa  makân“, sebagai bentuk upaya para mufassir yang menafsirkan al-Qur’an dalam keadaan perubahan kebudayaan yang kongkret dan selalu dinamis baik sosial, politik dan lain sebagainya. Dari upaya menjaga agar al-Qur’an sesuai dengan tuntutan keadaan zaman, tafsir al-Qur’an dibutuhkan.

Ini menunjukkan bahwa aktifitas  penafsiran al-Qur’an selalu identik dengan dialektika dalam berbagai hal (Hidayat, 1996, h. 137.).  Salah satu tafsir al-Qur’an yang lahir dari proses dialetiktika itu adalah al-Huda Tafsir Qur’an Basa Jawi, yang dikenal sebagai tafsir al-Huda.

Di sini penulis lebih ingin untuk memperkenal kan bagaimana karakteristik tafsir al-Huda karya Bakri Syahid, baik juga bentuk, metode, dan corak penafsirannya serta kelebihan beserta kekurangannya. Sehingga para pembaca dapat mengantarkan penilaian dan pandangannya terhadap tafsirnya, selanjutnya diharapkan kita semua bisa memilah dan mimilih dalam memahami serta memanfaatkan ilmunya.

Baca Juga  Menggali Aspek-Aspek Moderasi Islam, Resensi buku Wasathiyyah Quraish Shihab

Biografi H. Bakri Syahid

Tafsir ini merupakan karya dari Kolonel (purn.) Drs. H. Bakri Syahid. Uniknya tafsir ini merupakan karya yang lahir ditengah-tengah masyarakat Jawa. Keberadaan Tafsir al-Huda tidak dapat dilepaskan dari pengaruh latar belakang budaya pengarangnya sebagai orang Jawa.

Ia lahir dikampung suronatan, kecamatan Ngampilan, Kotamadya Yogyakarta pada hari senini Wage tanggal 16 Desember 1918 M. Beliau termasuk salah seorang anggota militer yang memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap dunia akademik dan sisi intelektualnya.  Adapun kitab tafsir al-Huda nya, beliau tulis sejak ia menjabat sebagai asisten Sekretaris Negara R.I.

Karakterisitik Tafsir al-Huda

Tafsir ini merupakan karya yang sangat monumental, terlebih bagi masyarakat jawa, karna memang tafsir al-Huda dalam menafsirkan menggunakan bahasa daerah (Jawa) sebagai bentuk media pengantar pesan-pesan suci al-Qur’an. Tafsir ini mulai disusun pada tahun 1970, rebcana penafsiran ini bermula dari acara sarasehan yang dilaksanakan di Mekkah dan Madinah. Kebetulan banyak pihak yang terlibat dalam acara tersebut termasuk masyarakkat Jawa dari berbagai negara perantauan.

Dari sarasehan itu lahir kesadaran dan keprihatinan bersama terhadap kurangnya keberadaan tafsir yang dikonversi menjadi bahasa jawa dengan huruf latin beserta tuntunan membaca al-Qur’an dalam huruf latin beserta keterangan penting secukuonya. Hal inilah menjadi motivasi yang sangat kuat bagi Bakri Syahid untuk menuliskan tafsir al-Qur’an dengan cirikhas bahasa Jawa. Yang kemudian diberi nama al-Huda Tafsir Qur’an Basa Jawi (Muhsin, hlm 97)

Tafsir al-Huda memuat seluruh ayat al-Qur’an dari 114 surat dalam 30 Juz. Penyajiannya dilakukan secara beraturan sesuai dengan sistematika Mushaf Utsmani, yaitu dimulai dengan surah al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Nas. Pembahasan setiap surat dalam tafsir al-Huda selalu diawali dengan nama surat, makkiyah dan madaniyyah, dan urutan asabunuzul nya.

Baca Juga  Menemukan Tjokro di Era Kiwari

Selanjutnya dalam tafsir ini dilanjutkan dengan penyajian materi utama yang terdiri dari Pertama, teks ayat-ayat al-Qur’an dalam bahasa aslinya (Arab) ditulis disisi kanannya. Kedua, transliterasi bacaan al-Qur’an dalam huruf latin ditulis di bawah teks yang aslinya. Ketiga, terjemahan ayat-ayatnya dalam bahasa Jawa ditulis pada sisi kirinya. Dan Keempat, keterangan dalam bahasa Jawa ditulis pada bagian bawah sebagai catatan kaki.

Tafsir al-Huda dalam menerjemahkan ayat-ayat al-Qur’an kedalam bahasa Jawa menggunakan sumber rujukan utamanya yaitu kitab al-Qur’an dan terjemahnya yang dikeluarkan oleh Departemen Agama RI. Namun hal ini bukan berarti bahwa tafsri ini materi tafsrinya sama dengan kitab al-Qur’an dan terjemahannya.

Karna jika dikaji lebih dalam lagi terdapat perbedaan yang signifikan antara isi terjemahan keduanya. Yaitu dicantumkannya transliterasi bacaan al-Qur’an dalam bahasa aksara Latin dalam Tafsir al-Huda, dan itu tidak dapat ditemukan pada kitab Al-Qur’an dan Terjemahannya, Hal ini dapat dikategorikan sebagai cirikhas Tafsir al-Huda

Cakupan Lampiran Tafsir al-Huda

Pada bagian akhir Tafsir ini terdapat beberapa lampiran dengan judul “Katarangan Sawatawisingkang Wigatos Murakabi”maksudnya (keterangan singkat  yang  penting  mencukupi). Lampiran ini terdiri dari enam bab.

Pada bab pertama, membahas kitab suci al-Qur’an, berisi tentang; tata krama Maos Qur’an. , Kemudian defenisi al-Qur’an, teknis asbabunuzulnya Al-Qur’an  dan hal-hal yang berkaitan dengan dasar-dasar dari al-Qur’an.

Bab kedua mulai membahas rukun Islam, seperti syahadat kakalih, ibadah shalat, puasa, dan ibadah haji.Dan di bab ketiga, membahas rukun Iman yang memuat tentang enak rukun Iman. Kemudian pada bab keempat secara khusus membahas tentang Syafa’at. Sedangkan pada bab kelima membahas tentang kebecikan atau kebaikan. Dan terakhir pada bab keenam membahas tentang Hayuning Bawana.

Editor: An-Najmi Fikri R

Baca Juga  Tuhan Itu Nyata (3): Beberapa Kekeliruan Dawkins