Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir QS. Al-Muddatstsir Ayat 6: Kado Hadiah dari Hutang-Piutang

Close-up hand of Muslim Arab man holding gift box and white rope on the hands in office

Siapa yang tidak senang jika mendapatkan hadiah, malah kadang seseorang berharap mendapatkan hadiah disaat momen-momen bahagia, seperti wisuda, ulang tahun, pernikahan ataupun pencapaian prestasi. Oleh karena itu pemberian hadiah besar nilai pahalanya karena menyenangkan hati seseorang (idkhol al-Surur). Selain itu, pemberian hadiah merupakan bentuk kepedulian dan kecintaan terhadap seseorang.

Memberikan hadiah akan mempererat hubungan persaudaraan dan menghilangkan kebencian di antara kedua belah pihak. Oleh karenanya, dalam hadisnya Nabi saw. menganjurkan untuk saling mencintai dengan memberikan hadiah terhadap sesama

.قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : تَهَادَوْاتَحَابُّوا

Rasulullah saw. Bersabda ”Salinglah kalian memberikan hadiah, maka kalian akan saling mencintai” (Musnad Ahmad, Jilid.15, h.141) Memberikan hadiah pernah dilakukan oleh Nabi sendiri. Dengan memberikan kain hijau lurik kepada Ka’ab bin Zubair sebagai hadiah; karena telah melantunkan syair-syair indah yang berisi pujian kepada Nabi.

Tradisi Memberi Hadiah

Melihat di masa sekarang, pemberian sesuatu sudah menjadi budaya termasuk di Indonesia. Sehingga kadang dianggap tabu jika seseorang tidak memberi hadiah di momen bahagia sahabatnya. Ironisnya, sekarang pemberian tersebuf sering dimasuki dengan motif atau niat tertentu dan terkesan seperti dikomersilkan. Sang pemberi hadiah terkesan menuntut balik pemberian yang telah diberikan, berharap agar ia mendapatkan balasan hadiah dari sang penerima.

Penulis pernah menemui status WhatsApp berupa scrensoot percakapan yang secara terang-terangan mengatakan “Besok kalau aku wisuda kado barang ini itu ya”. Fenomena tersebut sering kita jumpai dalam setiap momen seperti ulang-tahun, wisuda, pernikahan atau lainnya. Padahal al-Qur’an dengan jelas melarang pemberian yang mengharap balasan, sebagaimana dalam QS. Al-Muddatstsir [74]: 6, وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ“Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak” (QS. Al-Muddatstsir [74]: 6) Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa ayat tersebut merupakan nasehat kepada Nabi Muhammad agar jangan mengharap sesuatu dari orang lain karena telah menyampaikan wahyu.

Baca Juga  Kontekstualisasi Makna Ayat-Ayat Al-Qur'an Tentang Kekhalifahan

Ia menambahkan dalam memberi seseorang hendaknya dilandasi ikhlas; karena Allah semata dan jangan mengharap balasan dari seseorang atas pemberian hadiah tersebut. Dalam tafsirnya Ma’alim Tanzil, Baghowi meambahkan bahwa mayoritas ulama menafsirkan ayat tersebut sebagai bentuk larangan memberikan sesuatu dengan niat agar memperoleh balasan yang lebih besar dari seseorang. Islam mengajarkan agar ikhlas dalam memberikan sesuatu dan jangan mengungkit-ungkit kembali pemberian, sebagaimana dalam QS. al-Baqarah [2]: 264,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰىۙ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima)” (QS. al-Baqarah [2]: 264) Quraisy Syihab dalam tafsirnya menjelaskan, orang yang tidak ikhlas dan mengungkit-ungkit pemberiannya tidak hanya kehilangan pahalanya, sedekah yang menjadi modal pun hilang tak berbekas. Tentu alangkah meruginya orang yang dalam memberi tidak ikhlas, dimana selain tidak untung ia malah rugi tidak balik modal.

Larangan Memberi Hadiah dengan Tidak Ikhlas

Orang yang memberi tidak ikhlas dan selalu mengungkit-ungkit pemberiannya, diibaratkan seperti batu licin yang diatasnya ada tanah; kemudian batu tersebut ditimpa hujan lebat sehingga tanah diatasnya hilang tak tersisa. Rasulullah sangat tidak senang terhadap orang yang gemar mengungkit pemberiannya. Beliau bahkan mengkategorikan orang yang gemar mengungkit pemberian sebagai golongan orang yang tidak akan masuk surga. Sebagaimana sabda beliau;

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنَّانٌ وَلَا عَاقٌّ وَلَا مُدْمِنُ خَمْرٍ

”Tidak akan masuk surga orang yang gemar mengungkit pemberiannya, orang yang durhaka terhadap orang tuanya, dan orang yang gemar bermabuk-mabukan” (Sunan Nasai, Juz.8, h 318)

Melalui al-Qur’an dan hadis Nabi, Islam dengan tegas melarang seseorang memberikan sesuatu dengan niat agar mendapat balasan yang lebih besar dari sang penerima hadiah. Oleh karena itu fenomena yang sering tampak di masyarakat merupakan suatu budaya yang salah. Jikalau seseorang hendak memberikan sesuatu baik kado ulang tahun; pernikahan maupun wisuda, hendaklah dibarengi dengan niat yang ikhlas dan jangan sampai sang pemberi mengharapkan; agar kelak diberi hadiah saat melakukan akad nikah, ulang tahun maupun wisuda. Karena setan sangat senang terhadap seseorang mukmin yang berharap kepada manusia yang mana mengharap kepada manusia hanya akan menimbulkan kekecewaan. Wallahu a’lam bi Shawab.

Baca Juga  Mengkaji Hate Speech Melalui Perspektif Al-Quran

Penyunting: An-Najmi