Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 155: Cara Menyikapi Musibah

Sumber: istockphoto.com

Mendengar kota Cianjur dan sekitarnya diguncang musibah gempa bumi (M) 5,6 memberi luka bagi para korban dan rakyat Indonesia. Gempa yang terjadi pada hari Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB mengakibatkan kerusakan parah dan jatuhnya korban. Berdasarkan keterangan Gubernur Jawa Barat, yang dikutip dari call center BPBD Cianjur per jam 21.00 WIB total korban meninggal dunia berjumlah 162 jiwa, 326 mengalami luka, 2.345 rumah rusak berat dan 13.400 an orang terpaksa mengungsi. Para korban gempa hanya bisa meratapi bencana alam yang telah menimpanya. Seakan-akan alam ingin menunjukkan kekuatannya dihadapan manusia sebagai makhluk yang serba terbatas. Lantas bagaimana manusia menyikapi sebuah bencana alam?

Bencana Alam adalah Bukti Kekuasaan Allah

Bencana alam merupakan salah satu bukti kekuasan tuhan yang tidak dapat ditunda maupun ditolak kedatangannya. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Yunus [10]: 107,

وَاِنْ يَّمْسَسْكَ اللّٰهُ بِضُرٍّ فَلَا كَاشِفَ لَهٗ ٓاِلَّا هُوَ ۚوَاِنْ يُّرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلَا رَاۤدَّ لِفَضْلِهٖۗ يُصِيْبُ بِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ ۗوَهُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

          Dan jika Allah menimpakan suatu bencana kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tidak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Yunus [10]: 107).

Thobari dalam tafsirnya Jamiul bayan fi tafsiril qur’an menjelaskan bahwa ayat tersebut adalah pengingat bagi Nabi Muhammad. Jikalau setingkat beliau ditimpa musibah yang luar biasa maka tidak ada yang dalam menyingkapnya kecuali Allah SWT. Dan apabila Allah mengehendaki kebaikan bagi Nabi Muhammad baik berupa ketenangan, kenikmatan, kesehatan maupun kesenangan maka tidak ada satupun yang dapat menolaknya, menghalanginya maupun memindahkannya. Di tangan kekuasannya lah segala kebaikan maupun keburukan berada. Ialah yang memberi ketenangan maupun musibah kepada siapa yang dikehendakinya. Manusia hanya bisa berdoa dan berikhtiar semampunya, sedangkan tuhanlah yang menentukan.

Baca Juga  Makna Sabar dalam Hadis: Bersabar atas Musibah

Menyikapi Musibah yang Datang

Musibah merupakan sebuah keniscayaan yang telah disiapkan Allah untuk menguji hambanya. Sebagaimana penjelasan Thobari dalam tafsirnya, bahwa dunia adalah tempatnya musibah dan manusia akan ditimpa didalamnya. Allah dalam QS. Al-Baqarah [2]: 155 berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

            Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al-Baqarah [2]: 155).

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa ujian akan datang bertubi-tubi dalam kehidupan, dapat berupa ketakutan, kelaparan, maupun kekurangan harta dan kematian. Ar-Razi dalam tafsirnya Mafatihul Ghaib menjelaskan setelah Allah memberikan segala nikmatnya, Allah kemudian akan menguji hambanya dengan berbagai ujian. Hal ini bertujuan agar hambanya senantiasa bersabar dalam menghadapi ujian. Sehingga setelah ia mendapatkan derajat orang yang bersyukur, ia akan mendapatkan derajat orang yang bersabar secara bersamaan. Ar-Razi menambahkan berdasarkan hadis Nabi iman terdiri dari dua bagian, yaitu bersyukur dan bersabar. Sehingga jikalau seseorang bersyukur saat diberi kenikmatan dan bersabar saat diberi ujian maka sempurnalah imannya.

Quraisy Syihab menambahkan sebesar apapun ujian yang didapat tidak akan sebanding dengan balasan yang akan didapat. Karena tujuan ujian tidak lain untuk meningkatkan derajat seseorang. Jikalau seseorang mampu memaksimalkan potensi yang ada didirinya, maka akan mudah dalam melewati ujian. Sebaliknya jika seseorang hanya memandang sisi buruk dari ujian maka ia akan gugur. Karena sejatinya ujian itu baik, yang buruk adalah kegagalan dalam menghadapinya. Sebagai umat Islam sudah kewajiban kita ikut merasakan, saling membantu dan memikul bersama kesedihan juga cobaan yang dialami saudara kita. Sudah keharusan kita ikut memberikan empati sebagai bentuk persaudaraan antar manusia. Wallahu a’lam bishawab.

Penyunting: An-Najmi

Baca Juga  Hadis Tarbawi: Mendidik Anak di Masa Pandemi
Shulhan Habib
Mahasiswa Magister prodi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Pascasarjana UIN Walisongo Semarang