Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Q.S An-Nisa Ayat 29: Kehalalan Aplikasi Penghasil Uang

Penghasil Uang
Gambar: Gramedia

Kecanggihan teknologi di zaman ini membuat segala aktivitas menjadi cepat dan mudah. Banyak aplikasi yang memanjakan manusia dengan tawaran-tawaran praktis menambah pendapatan. Sekarang mencari uang tidak harus keluar rumah, bekerja keras di bawah terik matahari demi mendapat fee. Namun dengan rebahan di rumah menjalankan tugas dari aplikasi seseorang bisa mendapat keuntungan.

Salah satu sistemnya, pihak aplikasi akan memberi poin atau bonus dengan menyelesaikan syarat tertentu. Misalnya, seseorang membaca berita, bermain game, membagikan iklan atau semacamnya sesuai basis aplikasinya, kemudian pencapaian tersebut bisa ditukar dengan uang atau pulsa.

Berbeda dengan judi online atau slot. Hukumnya jelas haram karena mengandung pertaruhan yang akan merugikan salah satu pihak. Pembaca jelas bisa membedakan antara aplikasi pengahsil uang dengan perjudian online sebab aturan mainya saja jelas beda dan riil.

Mengenal Cara Kerja Aplikasi Pengasil Uang

Judi online praktiknya dengan top up, kemudian dimainkanlah uang itu dengan dipertaruhkan, adu nasib yang endingnya akan rungkad. Aplikasi penghasil uang sistemnya memberi imbalan atas tugas yang diberikan dan keuntungan ada dari kedua belah pihak. Karena pihak aplikasi merasa dibantu dengan sistem tersebut.

Bagaimanapun aplikasi penghasil uang adalah hal yang baru dan perlu dibahas dalam tataran fikih. Hal tersebut juga tidak bisa dipungkiri mengingat kebutuhan masyarakat yang tidak bisa lepas dari digital.

Al-Quran sebagai landasan dalam beragama yang mengatur segala bentuk dinamika kehidupan telah menjelaskan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Perihal aplikasi penghasil uang di atas ulama menetapkan suatu hukum berlandasakan dari Q.S An-Nisa ayat 29 sebagai berikut:

 يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوۡۤا اَنۡـفُسَكُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيۡمًا

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar). Kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah maha penyeyang kepadamu.

Tafsir Q.S An-Nisa Ayat 29

Ayat tersebut menjelaskan bahwa larangan memakan harta orang lain dengan tidak adil. Dengan melalui jalan haram seperti riba, judi pemerasan, mencuri, penipuan dan lain sebagainya. Dalam ayat tersebut juga terdapat kata illa yang dalam kaedah nahwu disebut istisna’ atau pengecualian. Imam Baghawi mengatakan bahwa istisna’ dalam ayat tersebut adalah pemutus redaksi harta batil. Sehingga adanya perdagangan saling suka membuat kehalalan suatu harta.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 34: Sujud kepada Adam

Imam Baghawi juga menegaskan bahwa an taradhin dalam ayat tersebut adalah sifat dari perdagangan. Prinsipnya antara kedua belah pihak (pedagang dan pembeli) saling rela dan puas atas akad yang telah ditetapkan. (Tafsir Baghawi, Juz 2, hal. 199).  

Berbicara masalah akad, dalam tataran ilmu fikih terdapat banyak macam akad salah satunya adalah akad ju’ala atau sayembara. Adapun definisi dari akad jua’la menurut Syekh Zakaria Al-Anshari dalam kitab Fathul Wahab sebagai berikut:

“Ju’ala adalah kesanggupan untuk memberikan upah yang sudah diketahui atas imbalan melakukan pekerjaan” (Fathul Wahab, h. 320).

Kehalalan Aplikasi Penghasil Uang

Kehalalan aplikasi penghasil uang dalam prespektif fikih, karena aplikasi tersebut menerapkan akad ju’ala diatas. Namun perlu digarisbawahi, antara kedua belah pihak tidak boleh ada unsur penipuan atau gharar. Kemudian tidak ada unsur kemaksiatan kepada Allah dan penerapannya harus jelas terbuka dan nyata.

Dalam praktiknya, pihak aplikasi penghasil uang (ja’il) menyanggupi untuk memberikan poin atau bonus (ju’lu) apabila pihak pengguna (maj’ul lah) yang mampu melakukan pekerjaan (amal) tertentu. Pekerjaan seperti membaca novel, like video, main game, membagi iklan atau semacamnya masuk dalam kategori akad ju’ala dengan syarat bonus yang dijanjikan sudah diketahui nominalnya.

Contohnya pihak aplikasi memberi tawaran membaca novel sekian menit akan mendapat 10 poin, membagi sekian video mendapat 8 poin, memenagkan pangkat dari game ini mendapat sekian poin dan semacamnya. Kemudian poin tersebut bisa ditukar dengan uang atau pulsa.

Penegasan agar tidak ada unsur gharar, dari pihak aplikasi (jail) harus menyebutkan nominal atau poin yang telah ditentukan. Syekh Taqiyyuddin Al-Hisni dalam kitabnya mengatakan, disyaratkan dalam ju’lu (poin atau bonus) ialah diketahui nominalnya, karena tergolong upah, sehingga harus diketahui sebagaimana ongkos dalam akad sewa. (Taqiyyuddin Al-Hisni, Kifayah Al-Akhyar, hlm. 298).

Baca Juga  Integrasi Tafsir dan Ekologi: Keseimbangan Ekosistem

Kesimpulannya aplikasi penghasil uang halal hukumnya apabila memenuhi syarat-syarat dari akad ju’ala di atas. Aplikasi penghasil uang juga menerapkan Q.S An-Nisa’ ayat 29 di atas bahwa antara kedua belah pihak saling suka dan saling menguntungkan. Pihak aplikasi senang aplikasinya banyak pengguna sehingga rating-nya naik, pihak lain juga diuntungkan mendapat upah dari apa yang telah dikerjakan.  Namun status kehalalanya bisa batal (menjadi haram) apabila terdapat unsur gharar (penipuan), ghubn (curang), riba atau perjudian. Wallahu a’lam. 

Penyunting: Bukhari