Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Q.S An-Najm Ayat 39: Nganggur Menuai Ganjaran

close-up of holy book Quran at mosque , sunlight is reflected to Quran

Seorang manusia tidak akan memperoleh suatu ganjaran kebaikan ataupun keburukan dari orang lain. Dalam artian kebaikan dan keburukan seorang manusia diperoleh dari hasil usaha yang dilakukan dirinya sendiri. Namun, dalam hal ini juga terdapat perbedaan pada beberapa kitab tafsir yang memaknai lafadz pada ayat Q,S An-Najm Ayat 39.

Adapun firman Allah dalam surah al-Najm ayat 39 yang berbunyi:

وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ

Artinya: dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.

Tafsir Q.S An-Najm ayat 39

Ibnu Taymiyyah memaknai ayat di atas secara lafadz memang betul seperti itu sesuai dengan makna sebenarnya. Sebagaimana jika kita bekerja akan mendapat hasil gaji dari pekerjaan tersebut, bukan hasil kerja orang lain. Itulah qiyas yang yang digunakan oleh Ibnu Taymiyyah. Bersamaan dengan hal itu tidak juga dilarang, jika ada orang lain yang memberikan uangnya kepada kita dan uang tersebut tentunya bermanfaat bagi kita.

Sama halnya dengan orang lain yang bersedekah atau beramal ibadah lainnya yang diniatkan pahalanya untuk mayit. Tentu akan bermanfaat bagi mayit tersebut. sehingga yang berpendapat bahwa sedekah atau amal apapun jika diniatkan pahalanya untuk si mayit tidaklah bermanfaat bagi si mayit dengan dalil ayat di atas, maka pendapat tersebut akan disalahkan oleh Ibnu Taymiyyah. (al-Kharani, 2006)

Sedangkan menurut Ibnu Katsir, surah al-Najm ayat 39 tersebut mengindikasikan bahwa tidak dibebankan kepada seseorang dosa orang lain, dengan demikian pula seseorang tidak memperoleh pahala kecuali dari apa yang diupayakan oleh dirinya sendiri. (al-Sheikh, 1994) Sorotan tersebut hampir mirip dengan sorotan yang ada dalam kitab jalalain. Yang mana menurut Imam Jalaluddin al-mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam kitab tafsir al-Jalalain. Beliau-beliau berpendapat bahwasanya perkara yang sesungguhnya dalam surah al-najm ayat 39 ialah seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Artinya seseorang tersebut akan memperoleh kebaikan dari usaha yang baik dilakukan oleh dirinya sendiri dan tidak akan memperoleh kebaikan sedikit pun dari apa yang diusahakan oleh orang lain. 

Baca Juga  Refleksi Pengetahuan: Argumen Al-Qur'an Tentang Paradoks Socratik

***

Begitupun dengan sorotan buya Hamka mengenai surah al-Najm ayat 39, menurut beliau bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh balasan selain apa yang telah diusahakannya. Kita akan mendapatkan hasil dari suatu pekerjaan sesuai dengan apa yang sudah kita kerjakan. Apabila kita malas, maka kita akan mendapatkan sedikit hasilnya atau tidak mendapatkan sama sekali. Dengan adanya hsil seperti itu kita tidak boleh menyalahkan orang lain. (Amrullah, 1988)

Pada sorotan M. Quraish Shihab dalam kitabnya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa dan mudharat yang dilakukan orang lain dan juga tidak akan meraih ganjaran manfaat daari amalan baik orang lain. Huruf lam (ﻝ) pada firman (لِلْاِنْسَانِ) li al insan berarti memiliki. Kepemilikan tersebut adalah kemilikan hakiki, yang mana kepemilikan tersebut senantiasa akan menyertai manusia sepanjang eksistensinya. Kepemilikan yang dimaksud adalah amal-amalnya yang baik dan juga yang buruk. Hal tersebut berbeda dengan kepemilikan relatif, seperti kepemilikan harta, anak, kedudukan, dan lainnya yang sifatnya sementara dan pasti akan lenyap dengan kematiannya. Kata (سَعٰى) sa’a pada mulanya memiliki arti berjalan cepat, tetapi belum sampai pada tingkat berlari. Namun kata ini digunakan dalam arti berupaya secara sungguh-sungguh.

Namun dalam kitab tafsir ath-Thabari, Ibnu Zahid menafsirkan firman Allah dalam surah al-Najm ayat 39 dan memaknai lafadz as-sa’yu (سَعٰى) dengan arti perbuatan. 

Tafsir Q.S An-Najm 53:19 Prespektif Mutawalli Al-Sha’rawi

Pada surah an-Najm ayat 39 yang menjelaskan tentang “Dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”. Tidak ada baginya kecuali amalnya, baik itu kebaikan atau kejahatan. Hal ini menghilangkan harapan untuk mendapatkan ganjaran manfaat dari amal orang lain, sebagaimana Allah berfirman, “Setiap jiwa akan menjadi tebusan atas apa yang telah diusahakannya.” (Al-Muddatsir:38) Jadi, kamu hanya mendapatkan manfaat dari amalmu dan usahamu, jadi berusahalah dengan sungguh- sungguh.

Baca Juga  Menebarkan Sikap Mawaddah dalam Keberagaman

Para ulama berbeda pendapat mengenai surah an-Najm:39.  Beberapa di antaranya mengatakan maknanya bahwa manusia hanya mendapatkan apa yang telah dikerjakannya, dan tidak ada yang mendapatkan manfaat dari amal orang lain. Ada juga yang mengatakan sebaliknya, manusia bisa mendapatkan ganjaran manfaat dari amal orang lain. Dalam sejarah dan sunnah Rasulullah, ada dukungan untuk pandangan kedua ini. Kami lebih condong pada pandangan kedua. Karena usaha adalah gerakan untuk menuju tujuan, dan gerakan ini bisa baik seperti orang yang berusaha untuk memperbaiki dunia atau buruk seperti orang yang berusaha menyebabkan keburukan. Usaha itu berbeda-beda sesuai dengan kekuatan dan keyakinan seseorang dan sejauh mana keyakinannya terhadap isu-isu agamanya dan tanah airnya. Ada yang hanya berusaha untuk dirinya sendiri. Sementara yang lain berusaha untuk keluarganya, kota halamannya, atau bahkan untuk kebahagiaan seluruh dunia. Sesuai dengan tekad dan kepemimpinan seseorang, begitu pula tujuannya. 

***

Namun, ada beberapa hadits dan ayat al-Qur’an yang secara implisit menyiratkan bahwa amal perbuatan orang lain juga dapat memberikan manfaat kepada kita. Seperti halnya, bukankah syariat menyuruh kita untuk mendoakan orang mati? Jika doa untuk orang mati tidak memberikan manfaat, itu akan sia-sia. Tetapi kita berdoa untuk kebaikan mereka dalam doa, yang menunjukkan bahwa kita dapat mendapatkan manfaat dari amal perbuatan orang lain. Bagi mereka yang menentang pandangan ini, mereka mungkin bertanya, “Apakah kita harus mendoakan setiap mayat?” Jawabannya adalah kita berdoa untuk orang mati yang beriman, dan manfaatnya datang dari keimanannya. Kami juga menunjukkan argumen tambahan dari firman Allah surah at-Tur:21 yang berbunyi:

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُم بِإِيمَٰنٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَآ أَلَتْنَٰهُم مِّنْ عَمَلِهِم مِّن شَىْءٍ ۚ كُلُّ ٱمْرِئٍۭ بِمَا كَسَبَ رَهِينٌ

Baca Juga  Humanisme Islam Perspektif Ali Syariati

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, dan turut pula keturunan mereka dalam keimanan, Kami hubungkan keturunan mereka dengan amal mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka.

Bukankah anak-anak mendapatkan manfaat dari kebaikan orang tua mereka? Mereka berkata bahwa anak-anak mendapatkan ganjaran manfaat dari kebaikan orang tua mereka. Karena orang tua mereka mengerjakan amal yang baik di dunia ini, dan Allah memberikan imbalan kepada mereka di akhirat. Oleh karena itu, iman orang tua yang baik memberikan manfaat bagi keturunannya. Dan anak-anak ini mendapatkan bagian yang baik dari apa yang telah dihasilkan oleh orang tua mereka dalam amal perbuatan yang baik.

Editor: An-Najmi