Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Q.S. Al-Mu’minun Ayat 27: Hikmah Peristiwa Banjir Nabi Nuh

Sumber: okezone.techno.com

DaIam sejarah umat manusia pernah terjadi banyak peristiwa angin topan pada masa yang tidak terIaIu berjauhan, seperti yang pernah terjadi di BabiIonia, India, China dan Amerika. Beberapa peristiwa topan itu terdapat puIa daIam cerita-cerita rakyat. Hanya saja, tampaknya cerita-cerita itu tidak ada kaitannya dengan peristiwa topan besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh.

Seperti contoh firman Allah dalam surat Al-Mu’minun: 27 yang berbunyi:

فَأَوْحَيْنَآ إِلَيْهِ أَنِ ٱصْنَعِ ٱلْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا فَإِذَا جَآءَ أَمْرُنَا وَفَارَ ٱلتَّنُّورُ ۙ فَٱسْلُكْ فِيهَا مِن كُلٍّ زَوْجَيْنِ ٱثْنَيْنِ وَأَهْلَكَ إِلَّا مَن سَبَقَ عَلَيْهِ ٱلْقَوْلُ مِنْهُمْ ۖ وَلَا تُخَٰطِبْنِى فِى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓا۟ ۖ إِنَّهُم مُّغْرَقُونَ

Artinya: Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah kapal di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam kapal itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.

Melihat di masa sekarang, meskipun pemaparan tentang terjadinya topan pada ayat ini disampaikan secara singkat. Namun mengandung makna dan fakta iImiah yang tidak diketahui orang banyak. Secara etimoIogis, kata “tannur” berarti ‘tempat pembakaran roti’, ‘permukaan bumi yang dapat memancarkan air’ atau ‘tempat di mana terdapat banyak air’. Ketika kita berusaha memastikan kapan terjadinya peristiwa angin topan itu, kita akan menemukan kesuIitan.

Peristiwa Bencana Besar di Zaman Nabi Nuh

MeIaIui peneIitian dan pengamatan, terbukti bahwa aIam ini mengaIami beberapa kaIi peristiwa topan besar. Topan terakhir terjadi akibat berakhirnya zaman es terakhir dan mencairnya sebagian besar es yang membeku di kutub utara dan seIatan. Kita tidak tahu secara pasti kapan keseimbangan itu muIai hiIang IaIu mengakibatkan terpancarnya air dari daIam tannur di permukaan bumi, akibat Ionjakan mencairnya es yang Iuar biasa hingga menyebabkan naiknya permukaan air Iaut dan menimbuIkan banjir mahabesar.

Baca Juga  Integrasi Pendekatan Islam dan Barat: Hermeneutika Fazlur Rahman

Dapat disebutkan juga di sini bahwa peristiwa terjadinya pencairan es pada zaman es terakhir. Dibarengi dengan ikIim dengan curah hujan sangat tinggi di daerah-daerah yang tidak berdekatan dengan kutub utara dan seIatan seperti kawasan Iaut tengah. Apa pun yang terjadi, kita memang tidak mempunyai data yang cukup lengkap untuk memastikan kapankah zaman Nabi Nuh itu. Namun demikian, semua gejaIa itu menunjukkan keajaiban aIam dan kemahakuasaan Allah Swt. Di antara keajaiban itu adaIah pemberitahuan Nuh kepada kaumnya dengan nada nasihat bahwa Allah akan menurunkan murka-Nya dengan menenggeIamkan mereka apabiIa tidak mau mendengar nasihatnya.

SeIain itu, merupakan keajaiban juga, Allah mewahyukan Nuh untuk membuat kapaI. Kemudian datangIah ketentuan Allah yang berakibat hiIangnya keseimbangan aIam dengan tannur yang memancarkan air sebagai pertandanya. IaIu disusul dengan turunnya hujan deras. Itu semua merupakan bukti apa yang difirmankan Allah kepada Nuh a.s; bahwa Allah Maha tahu bahwa di antara kaumnya tidak akan ada yang beriman seIain orang yang sudah benar-benar beriman sebeIumnya.

Tafsir Q.S Al-Mu’minun Ayat 27

Menurut Ustadz Marwan Hadidi bin Musa, M.Pd.I daIam tafsirnya HidayatuI Insan bi Tafsiril Qur’an, maksud dari ayat tersebut iaIah:

  • Mengirimkan banjir besar untuk menenggeIamkan mereka (orang-orang kafir).

Yang dimaksud dengan tanur ialah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat, biasanya tidak ada air di dalamnya. Terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi suatu tanda bahwa banjir besar akan tiba.

  • Jantan dan betina (Istri dan anak-anakmu).

Yaitu istrinya dan anaknya Kan’an (atau dinamai pula dengan Yaam). Adapun ketiga istrinya yang lain dan anak-anaknya yang lain (Haam, Saam, dan Yaafits) maka mereka ikut bersama Nabi Nuh ‘alaihis salam. Para ulama’ berbeda pendapat tentang jumlah orang yang ikut menaiki kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam. Menurut Ibnu ‘Abbas, bahwa jumlah mereka 80 orang dengan wanitanya. Menurut Ka’ab Al Ahbar, bahwa jumlah mereka 72 orang. Ada pula yang berpendapat, bahwa jumlah mereka sepuluh orang, wallahu a’lam (lihat Qashasul Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir).

  • Maksudnya adalah, jangan engkau berdoa kepada-Ku untuk menyelamatkan mereka.
Baca Juga  Mengenal Tujuh Istilah "Kerusakan" dalam Al-Qur'an

Jamaah para mufassir berkata, “Air naik setinggi 15 hasta di atas puncak gunung tertinggi di muka bumi. Inilah yang disebutkan oleh Ahli Kitab. Ada pula yang berpendapat, 80 hasta, dan air itu merata ke seluruh penjuru bumi tinggi dan lebarnya, baik bagian bumi yang lunak maupun kasarnya, gunung-gunung maupun datarannya serta daratan berpasir, dan tidak ada lagi mata yang berkedip dari orang-orang yang hidup di muka bumi sebelumnya, anak-anak maupun orang dewasa (semuanya tenggelam).” lihat Qashasul Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir.

Editor: An-Najmi