Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Psikologis: Kebahagiaan Sejati Itu di Akhirat

Kebahagiaan dan akhirat
Gambar: waru.desa.id

Al-Qur’an yang berisikan mengenai firman Tuhan merupakan wahyu yang begitu sangat inspiratif. Al-Qur’an yang merupakan referensi utama bagi umat Islam yang di dalamnya terdapat berbagai tuntunan kehidupan beragama dan bermasyarakat. Selain itu juga, salah satu tujuan diturunkannya al-Qur’an ialah menunjukkan jalan mengenai kebahagiaan kepada manusia dalam menjalani hidup baik di dunia maupun diakhirat nanti.

Jika dianalogikan al-Qur’an ibarat seperti buku yang berisikan mengenai tips dan trik dalam menggapai kebahagiaan dalam mimbar akademik, yaitu ilmu yang bermanfaat dan nilai yang memuaskan. Begitupun dengan al-Qur’an yang berisikan mengenai berbagai petunjuk untuk mencapai suatu kebahagiaan, yaitu kebahagiaan dunia dan akhirat.

Maka untuk menggapai tujuan tersebut, sudah seharusnya kita harus memahami isi kandungan al-Qur’an secara menyeluruh. Dan hal tersebut sudah menjadi suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar. Maka upaya dalam memahami isi al-Qur’an dengan segala selak-beluknya ini biasa disebut dengan istilah tafsir.

Maka agar sejalan antara tafsir dengan kebahagiaan yang penulis tulis di atas, maka pada tulisan ini, kita akan memfokuskan mengenai penafsiran yang bercorak psikologis. Jika kita menelusuri al-Qur’an, akan ditemukan banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang berbicara mengenai sikap dan perilaku manusia plus dengan segala konsekuensinya.

Dan salah satu tema yang penting dalam al-Qur’an yang berkaitan erat dengan kehidupan pribadi maupun perasaan seseorang ialah bagaimana setiap orang dapat meraih kebahagiaan. Penulis akan mengambil dua ayat yang berkaitan dengan tema tersebut, dan menafsirkan melalui para mufassir dan mengambil kesimpulan setelahnya.

Tafsir Q.S. Hud Ayat 105 dan 108

Di dalam al-Qur’an, konsep kebahagiaan secara eksplisit diungkapkan dengan berbagai kata, salah satunya menggunakan kata sa’ida. Dan kata tersebut terdapat pada surah Hud: 105 dan 108. Kata sa’ida pada surah Hud ayat 105 disebut dalam bentuk isim fa’il, sa’idun :

يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا بِإِذْنِهِۦ ۚ فَمِنْهُمْ شَقِىٌّ وَسَعِيدٌ

“Ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izinnya. Maka, diantara mereka ada yang sengsara dan ada yang berbahagia”.

Dan kata sa’ida dalam surah Hud ayat 108 disebut dengan  fi’il madi dalam bentuk majhul, yaitu su’idu.

وَأَمَّا ٱلَّذِينَ سُعِدُوا۟ فَفِى ٱلْجَنَّةِ خَٰلِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلْأَرْضُ إِلَّا مَا شَآءَ رَبُّكَ ۖ عَطَآءً غَيْرَ مَجْذُوذٍ

“Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai
karunia yang tiada putus-putusnya”.

Dalam menafsirkan kata su’idu tersebut, Imam Thabari memaknai kata su’idu dengan ruziqu al-sa’adah, yakni diberi rezeki berupa kebahagiaan. Dan takwil dari kata su’idu tersebut ialah orang-orang yang dikeluarkan dari neraka kemudian di masukkan kedalam surga. Senada dengan al-Thabari, al-Baghawi dalam tafsirnya, Ma‘alim al-Tanzil fi Tafsir al-Qur’an, juga memaknai kata su‘idu, dengan orang-orang yang diberi rezeki berupa kebahagiaan. Karena dikeluarkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga. Namun berbeda dengan kedua mufassir sebelumnya, Ibnu Katsir menafsirkan kata su‘idu dengan “mereka yang mengikuti para rasul”. Tempat mereka di surga, dan mereka kekal di dalamnya.

Baca Juga  Tiga Model Umat Islam dalam Kembali Pada Al-Quran dan Sunnah

Kebahagiaan Sejati Itu di Akhirat

Maka berdasarkan dari pendapat para mufassir terhadap dua ayat di atas, dapat dipahami bersama bahwa kebahagiaan yang dimaksud al-Qur’an melalui term saida ialah kebahagiaan yang bersifat eskatologis. Yakni kebahagiaan ketika berada di alam akhirat atau di surga kelak.

Maka pada dimensi eskatologis (akhirat), konsep kebahagiaan dalam dua ayat di atas dapat dilihat dari cara al-Qur’an yang menyebutkan “ketika hari itu datang”. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa maksud dari kata “yauuma” pada surah Hud ayat 105 itu dengan “hari kiamat”.

Di samping itu juga dalam surah Hud ayat 108, kita kembali disuguhi makna kebahagiaan yang berdimensi eskatologis. Disebut dengan bentuk majhul dari redaksi “alladziina su’idu“, itu menunjukkan bahwa kebahagiaan yang diraih oleh manusia bukan hanya dari hasil kerja keras maupun jerih payah yang telah mereka lakukan ketika hidup di dunia semata. Melainkan ada juga pemberian atau rezeki yang Allah titipkan.

Maka dengan kata lain, konsepsi mengenai kebahagiaan di dunia tidak bisa dijadikan sebagai standar dalam menentukan kebahagiaan yang hakiki. Betapapun seseorang meraih kesuksesan dengan mobil yang mewah, rumah bersertifikat, hingga memiliki isteri empat. Jika di akhirat ia justru menemui kebalikannya, maka ia tetap layak disebut dengan orang yang celaka. Artinya apa? Bahwa tolak ukur kebahagiaan yang sejati itu tidak berasal dari persepsi duniawi, melainkan sebaliknya berdasarkan standarisasi ukhrawi.

Maka tolak ukur inilah yang dapat dipakai sebagai pijakan dalam meraih kebahagiaan di dunia. Orang yang sudah memasang standarisasi kebahagiaan berdasarkan ukhrawi maka ia akan menjalani hidup dan berusaha dengan berpedoman pada tuntunan Tuhan. Betapapun beratnya masalah hidup di dunia, tidak akan pernah menghalanginya dalam meraih kebahagiaan.

Baca Juga  Kiai Sholeh Darat, Sang Penggagas Kitab Tafsir Tulisan Pegon

Kemiskinan tidak akan membuatnya menjadi orang yang kufur. Karena ia sudah cakap dalam berucap syukur. Dan ketika ia sudah menjadi orang yang sukses di dunia, maka dunia tidak akan bisa membelai hingga ia lalai. Karena tujuan dan tolak ukur kebahagiaannya, ialah meraih keberhasilan di akhirat.

Penyunting: Bukhari