Tanwir.ID Kanal Tafsir Berkemajuan

Tafsir Nama Allah: Perbedaan dalam Islam dan Kristen

tuhan allah
sumber: unsplash.com

Kata “Allah” banyak ditemukan dalam ayat Al-Qur’an. Menurut Quraish Shihab, kata Allah banyak dijumpai sebanyak 2698. Dalam pendapat yang lain, Ali Awdah mengatakan nama Allah disebut dalam Al-Qur’an sebanyak 592 kali. Terlepas jumlah pastinya, banyaknya kata Allah yang tersebar dalam ayat Al-Qur’an mempunyai arti dengan bergbagai perspektif tafsiran namun substansinya tetap sama. Allah sendiri yang menamai diri-Nya dengan nama Allah sebagai Tuhan.

Oleh karena itu, umat Islam menyembah Tuhan dengan menggunakan kata Allah. Seperti halnya dalam agama Kristen yang juga sering menyebut Allah Bapa yang dianggap sebagai Tuhan. Lantas apakah Allah dalam agama Islam itu sama dengan Allah bapa dalam agama Kristen?

Makna kata Allah

Kata Allah merupakan serapan (musytaq) dari kata lainnya yaitu ilah. Sulaiman Al-Asyqar mengutip dari Ibnu Manzhur dalam Lisanul arab:  Al-Ilah adalah Allah Yang Maha Mulia. Setiap sesuatu yang disembah oleh yang rendah di hadapan-Nya maka dikatakan dengan Ilah. Bentuk plural dari Ilah adalah Alihah yang berati Tuhan-Tuhan.

Orang-orang kafir menamakannya dengan Alihah karena dalam keyakinan mereka berhala-berhala itu berhak untuk disembah. Penamaan demikian disesuaikan dengan keyakinan mereka, bukan karena alasan yang terkandung pada nama itu sendiri.

Pada dasarnya kata Ilah tidak boleh dirubah ke betuk jamak, karena tidak ada yang pantas disebah selain Allah. Akan tetapi karena orang arab meyakini bahwa ada banyak hal yang bisa disembah, maka mereka merubah kata Ilah ke dalam bentuk jamak, sehingga mereka berkata Alihah (tuhan-tuhan). Allah ta’ala befirman:

اَمْ لَهُمْ اٰلِهَةٌ تَمْنَعُهُمْ مِّنْ دُوْنِنَاۗ

Ataukah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami(Al-Anbiya’: 43).

Asal kata Allah adalah Ilah, yang kemudian dibuang hamzahnya dan dimasuki alif lam. Raghib Al-Ashfahani mengatakan bahwa kata tersebut hanya digunakan untuk yang Maha Menciptakan. Sedangkan menurut Az-Zujaji, kata Ilah merupakan kata yang ber-wazan fi’al yang mempunyai arti maf’ul (obyek penderita). Jadi Ilah merupakan sesuatu yang dituhakan dan disembah oleh makhluk.

Tafsir kata Allah dalam kitab tafsir

Ibnu Katsir dengan mengutip Imam Qurthubi, mengatakan bahwa Allah merupakan nama untuk Rabb. Kata tersebut mencakup segala macam sifat dari nama-nama Allah (Asmaul Husna), karena itu nama Allah disebut juga sebagai nama yang paling agung (al-Ismul-a’zham).

Imam Khomeni dalam tafsir perspektif irfannya mengatakan bahwa Allah adalah maqam keesaan (maqam al-wahidiyyah) dan kebersatuan nama-nama (jam’ al-asma’). Dengan kata lain, kata Allah adalah maqam nama teragung.

Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi menulis dalam tafsirnya An-Nafahat Al-Makkiyah; Lafaz Allah artinya yang dituhankan dan yang disembah yang berhak diesakan dalam penyembahan, karena Allah memiliki sifat uluhiyyah (ketuhanan) dan itu merupakan sifat yang sempurna.

Perbedaan Allah Agama Islam dan Allah Agama Kristen

Telah dijelaskan diatas bahwasanya kata Allah berasal dari kata Ilah. Dalam perkembangan bahasa melayu dan Indonesia, apabila yang disebut Tuhan oleh kaum Muslimin Indonesia dan melayu maka yang dimaksud ialah Allah.

Dalam memakai istilah Tuhan tersebut, Hamka mengingatkan bahwa berbeda maksud pemakaiannya antara orang Islam dan dengan orang kristen. Orang Islam menyebut Tuhan ialah Allah, yaitu zat yang berdiri sendiri-Nya, kepada-Nya memohon segala sesuatu, tidak diperanakan, dan tidak ada sesuatu yang bisa menandingi-Nya.

Berbeda dengan orang kristen dalam menyebut Tuhan. Orang kristen menyebut Tuhan yang dimaksud ialah Yesus Kristus, namun terkadang bercampur baur. Oleh karena itu ajaran yang mereka pegang bahwa Tuhan itu adalah “Trinitas” atau “Tri-tunggal”, yang tiga tetapi satu, yang satu tetapi tiga. Dia yang tiga tetapi satu itu ialah Tuhan Bapa, Tuhan Putera (Isa Almasih) dan Rohul-Kudus. Dan selalu mereka mengatakan “Tuhan Yesus”.

Lalu apa bedanya Allah yang esa dalam agama Islam dan Allah bapa dalam konsep tri-tunggal agama kristen?

Allah bapa dikatakan mempunyai hubungan yang kekal dengan anak tunggalnya, yaitu Yesus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah anak yang lahir dari Allah bapa. Sedangkan dalam Islam, frasa “Allah bapa” atau “Allah putera” tidak diterima dalam Islam. Karena Allah bukanlah nama jenis tetapi nama diri, sedangkan nama jenisnya adalah Ilah yaitu Tuhan Yang Esa atau satu.

Al-Qur’an menegaskan perbedaan Allah agama Islam dengan Allah agama lain: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya”. Katakanlah: “Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?” (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu adalah manusia (biasa) di antara orang-orang yang diciptakan-Nya” (Al-Ma’idah: 18).

Islam sangat tegas dalam konsep teologi monoteismenya. Allah yang dikenali sebagai nama Tuhan adalah yang tunggal dan esa. Dan tidak boleh dikaitkan dengan istilah seperti Allah bapa apalagi Allah putera. Padahal dengan tegas Islam membuat perbedaan bahwa Allah itu “lam yalid wa lam yulad” (tidak dilahirkan dan mempunyai keturunan).

Sedangkan Ruhul Kudus dalam agama Islam merupakan Malaikat Jibril yang merupakan ciptaan Allah, bukan Tuhan yang merujuk konsep tri-tunggal dalam agama Kristen. (Q.S Al-Baqarah: 87 dan 253)

Hamka menjelaskan adanya kalimat Al-Ilah (Tuhan) membuktikan bahwa kepercayaan-kepercayaan tentang adanya Tuhan telah tumbuh sejak manusia berakal, dan timbulnya kalimat Allah membuktikan bahwa fikiran manusiapun akirnya sampai kepada-Nya, dan bahwa Tuhan yang Maha Kuasa itu hanya satu. Maka kedatangan Agama Islam menuntun dan menjelaskan bahwasanya Allah (Tuhan) itu memang satu. Wallahu’alam bish-shawab.

Editor: Ananul