Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Kisah: Kesabaran Bani Israil dalam Al-Quran

Kesabaran Israil
Gambar: republika.co.id

Kata shabr merupakan bentuk masdar dari kata shabara. Dalam al-Maany diterangkan bahwa shabr adalah menahan diri, tabah menghadapi sesuatu yang sulit, dan bertahan. Dalam Al-Qur’an sendiri telah menyinggung lafaz shabr dibanyak surat dan ayat. Kata shabr ini tidak kurang dari 70 kali digunakan dalam berbagai konteks, dan kata shabr juga disebutkan dalam berbagai bentuk. Adakalanya isim masdar, fi’il madhi, fi’il mudhori, fi’il amr, maupun isim masdar.

Penulis ingin mengkaji lafaz shabr dalam Bani Israil karena untuk membandingkan kesabaran dalam masyarakat Bani Israil. Dan penulis akan memaparkan QS. Al-Baqarah [2]: 61 yang mengandung makna ketidaksabaran Bani Israil dalam memperoleh sesuatu. Juga terdapat dalam QS.Al-A’raf [7]: 137. Pada ayat tersebut menjelaskan makna bahwa Bani Israil shabr dalam mengikuti ajaran Nabi Musa dan agama Allah yang sebenarnya. Perbedaan makna tersebut akan dipaparkan dalam pembahasan berikut:

Makna Shabr dalam QS. Al-Baqarah [2]: 61

وَاِذْ قُلْتُمْ يٰمُوْسٰى لَنْ نَّصْبِرَ عَلٰى طَعَامٍ وَّاحِدٍ فَادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُخْرِجْ لَنَا مِمَّا تُنْۢبِتُ الْاَرْضُ مِنْۢ بَقْلِهَا وَقِثَّاۤىِٕهَا وَفُوْمِهَا وَعَدَسِهَا وَبَصَلِهَا ۗ قَالَ اَتَسْتَبْدِلُوْنَ الَّذِيْ هُوَ اَدْنٰى بِالَّذِيْ هُوَ خَيْرٌ ۗ اِهْبِطُوْا مِصْرًا فَاِنَّ لَكُمْ مَّا سَاَلْتُمْ ۗ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ وَالْمَسْكَنَةُ وَبَاۤءُوْ بِغَضَبٍ مِّنَ اللّٰهِ ۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ كَانُوْا يَكْفُرُوْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ ذٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَّكَانُوْا يَعْتَدُوْنَ ࣖ ٦١

“Berkata: “Hai Musa, Kami tidak bisa  sabar (tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk Kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi Kami dari apa yang ditumbuhkan bumi. Yaitu sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya, kacang adasnya, dan bawang merahnya”. Musa berkata: “Maukah kamu mengambil yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta”. Lalu ditimpahkanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas.”

Konteks Kesabaran Bani Israil

Dari ayat di atas kata shabr memiliki makna “bertahan” akan tetapi makna tersebut mempunyai makna yang berkesinambungan. Jika dalam kamus Lisan al-‘Arab makna shabr adalah menahan diri dari permusuhan dan tidak membalas. Akan tetapi dalam QS. Al-Baqarah [2]: 61 menjelaskan bahwa makna shabr ditunjukkan kepada Bani Israil yang tidak tahan akan satu jenis makanan saja yakni manna dan salwa. Dan pada saat itu juga Bani Israil turun ke Mesir untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akan tetapi pada saat mereka kembali mereka akan menerima resiko yang akan dialamimya yang berupa penindasan dan diperbudak.

Baca Juga  Menguak Alasan Tidak Sakralnya Kabah Bagi Mun’im Sirry

Padahal, Nabi Musa sangat shabr menghadapi kaumnya Bani Israil. Mereka yang suka ngeyel, membantah, dan ingkar janji. Dan Allah juga telah melimpahkan kepada mereka (Bani Israil) nikmat yang begitu banyak. Misalnya diselamatkan dari kekejaman dan penindasan Fir’aun serta diberikan makanan berupa  manna dan salwa.

Kesabaran Bani Israil dalam QS. Al-A’raf [7]: 137

وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ ١٣٧

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka, dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.”

Dari ayat diatas kata shabr mempunyai makna kesabaran Bani Israil dalam mengikuti dalam ajaran Nabi Musa dan agama Allah yang sebenarnya. Dari kesabaran mereka Allah memberikan nikmat yang terbesar berupa warisan kawasan Barat dan Timur yang subur dan diberkaahi. Allah memberikan nikmat tersebut setelah Bani Israil di tindas dan diperbudak oleh Fir’aun dan kaumnya.

Sebaliknya, Allah memberikan ganjaran yang setimpal kepada Fir’aun dan kaumnya berupa kebinasaan mereka dan semua apa yang pernah dibangun oleh Fir’aun. Nikmat yang dilimpahkan kepada Bani Israil itu sesuai dengan keputusan dan ketetapan Allah. Karena, ketabahan dan kesabaran Bani Israil dalam menghadapi kekejaman dan penindasan Fir’aun dan kaumnya.

Di antara penderitaan yang dilakukan oleh Fir’aun dan kaumnya terhadap Bani Israil adalah dengan membunuh setiap anak laki-laki yang lahir dan membiarkan anak-anak perempuannya. Selain itu, Bani Israil diwajibkan mengabdi kepada kepentingan Fir’aun dan kaumnya yang menindas dan memperbudaknya. Dengan memungut pajak-pajak yang sangat tinggi dan menjadikan Bani Israil sebagai pekerja berat dan paksa, dan masih banyak lagi bentuk penderitaan yang dilakukan oleh Fir’aun dan kaumnya terhadap Bani Israil.

Baca Juga  Beberapa Karakteristik Paradigma Tafsir Kontemporer (1)

Kesimpulan

Dari penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan dimana dalam ayat pertama dijelaskan bahwa makna shabr adalah bertahan, akan tetapi dalaam makna tersebut memiliki makna yang berkesinambungan yang mana  ditunjukkan kepada Bani Israil yang tidak tahan akan satu jenis makanan saja. Sedangkan dalam ayat yang kedua menjelaskan makna kesabaran Bani Israil dalam mengikuti ajaran Nabi Musa dan agama Allah yang sebenarnya.

Penyunting: Bukhari