Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Ilmi: Isyarat Neuroplastisitas dalam Al-Qur’an

Neuroplastisitas
Gambar: Zeniuseducation.com

Penelitian mengungkapkan bahwa manusia belum optimal menggunakan otaknya dalam berbagai hal, terutama memecahkan masalah maupun menemukan gagasan baru, kebaruan ide, kreativitas, dan inovasi. Sistem pendidikan yang berlaku saat ini yang hanya berfokus pada otak luar bagian kiri dan tidak menyeimbangkan dengan penggunaan otak kanan.

Penemuan mutakhir dalam neurosains semakin membuktikan bahwa bagian-bagian tertentu otak bertanggung jawab dalam menata jenis-jenis kecerdasan manusia. Kecerdasan matematika dan bahasa terpusat di otak kiri, meskipun untuk matematika tidak terpusat secara tegas di otak kiri. Kecerdasan musik dan spasial berpusat di otak kanan. Segala hal di atas dibahas dalam suatu tatanan ilmu yang disebut neurosains.

Neurosains adalah satu bidang kajian mengenai sistem saraf yang ada di dalam otak manusia. Neurosains mempunyai cabang keilmuan yang cukup luas, salah satunya adalah neuroplastisitas. Cabang ini mengacu pada kemampuan sistem saraf untuk merespon informasi atau rangsangan baru dengan mengatur ulang atau mengapdatasi strukturnya.

Salah satu aktivitas manusia yang dapat mengembangkan neuroplastisitas adalah konsistensi belajar. Mengenai tentang konsistensi belajar, tentunya terdapat banyak anjuran dalam Al-Qur’an dan hadis. Sehingga dengan banyaknya anjuran tersebut, para manusia akan lebih konsisten dalam belajar untuk mengembangkan kapasitas neuroplastisitas.

Apa Itu Neuroplastisitas?

Neuroplastisitas merupakan sebuah istilah yang menggambarkan kemampuan otak untuk berubah dan beradaptasi sepanjang kehidupan, yang telah menjadi kajian penelitian baru oleh neurologis modern. Neuroplastisitas merujuk pada kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru antara neuron dan merestrukturisasi pola aktivitas neural.

Hal ini mencakup adaptasi terhadap tantangan, pembentukan ingatan, dan pemulihan fungsi setelah cedera. Konsep ini mencabut sebuah mitos lama bahwa otak manusia mempunyai kemampuan terbatas untuk berubah setelah masa perkembangan awal.

Baca Juga  Mengenal Ahli Qiraat Masa Awal Menurut Imam adz-Dzahabi

Neuroplastisitas adalah konsep yang berlawanan dengan keyakinan lama bahwa otak manusia adalah organ yang statis dan tidak dapat berubah setelah mencapai usia dewasa. Akan tetapi, penelitian ilmiah terkini telah membuktikan sebaliknya. Otak manusia memiliki kemampuan untuk berubah dan beradaptasi dalam berbagai konteks, dari perkembangan awal kehidupan hingga usia dewasa dan bahkan pada tahap-tahap  lanjut kehidupan.

Dengan pemahaman yang lebih dalam tentang neuroplastisitas, kita dapat lebih baik memanfaatkan potensi otak kita untuk berubah dan beradaptasi. Penerapan konsep ini dalam pendidikan, rehabilitasi medis, perbaikan kualitas hidup, dan pengembangan diri dapat mempunyai dampak yang besar pada individu dan masyarakat. Neuroplastisitas adalah pengingat kuat bahwa otak manusia adalah organ yang luar biasa, mampu terus berkembang dan menghadapi tantangan kehidupan dengan kekuatan untuk berubah dan beradaptasi.

Konsistensi Belajar Menurut Al-Qur’an

Berbicara mengenai konsistensi belajar, erat kaitannya dengan pentingnya proses pembelajaran (pendidikan) bagi manusia itu sendiri. Hal tersebut dikarenakan manusia dapat menjadi manusia adalah karena proses pembelajaran juga. Sehingga, sangatlah wajar apabila dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan manusia untuk menempuh pendidikan, agar dapat berlanjut kehidupannya.

Sebagai umat Islam tentu kita paham betapa agama Islam mewajibkan umatnya untuk menempuh proses pendididikan, terlebih dengan konsistensi tinggi. Sebagaimana yang terdapat pada Surah al-Mujadalah ayat 11, yang berbunyi:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا قِيلَ لَكُمۡ تَفَسَّحُواْ فِي ٱلۡمَجَٰلِسِ فَٱفۡسَحُواْ يَفۡسَحِ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُواْ فَٱنشُزُواْ يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعۡمَلُونَ خَبِيرٞ 

Artinya: “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu; ‘Berlapang-lapanglah dalam majlis’, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu, dan apabila dikatakan; ‘Berdirilah kamu’, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Sudah jelas bahwa manusia dianjurkan untuk mencari ilmu. Mencari ilmu bisa di mana saja, kapan saja selagi manusia masih bisa bernapas. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Islam, konsistensi belajar sangat dianjurkan. Islam memandang konsistensi belajar sebagai proses belajar terus menerus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas hidup, baik secara hablumminallah maupun hablumminannas.

Relevansi Kandungan Surat Al Mujadalah Ayat 11 dengan Neuroplastisitas

Dalam penjelasan Tafsir Fi Zhilal Al-Qur’an, surat Al-Mujadalah ayat 11 memberikan penjelasan bahwa ayat ini mengajarkan kepada kaum muslimin tentang keimanan yang mendorong mereka berlapang dada dan menaati perintah. Ilmulah yang membina jiwa lalu dia bermurah hati dan taat.

Baca Juga  An-Nisa dalam Al-Quran: Sifat Kejantanan Juga Ada Pada Perempuan

Kemudian dalam Tafsir Jalalain, ayat di atas memaparkan bahwasanya Allah SWT memerintahkan hamba-Nya untuk memberikan kelapangan ilmu saat diperlukan dalam suatu majelis. Dari kedua penafsiran tersebut dapat diambil sebuah pesan kontekstual, yaitu mengenai anjuran mencari ilmu (belajar) secara konsisten.

Konsistensi belajar yang tidak memandang tempat dan waktu itulah yang dapat mengembangkan kapasitas neuroplastisitas. Pada hakikatnya, kecerdasan seseorang tergantung kepada kapasitas neuroplastisitas. Seseorang yang selalu membaca dan menulis, terlebih dia juga sering menggunakan otaknya untuk berpikir, maka otomatis syaraf-syaraf pada otak akan berkembang. Berkembangnya syaraf tersebut akan mempengaruhi kecerdasan seseorang, sehingga akan menciptakan otak yang kuat dan plastisis. Begitu pun sebaliknya, jika seseorang jarang memakai otaknya untuk berfikir dalam segala aktivitas, maka otomatis syaraf-syaraf pada otak akan stagnan atau cenderung berkurang. Sehingga akan mengakibatkan otak menjadi lemah dan kaku.

Penutup

Neuroplastisitas merupakan sebuah istilah yang menggambarkan kemampuan otak untuk membentuk koneksi baru antara neuron dan merestrukturisasi pola aktivitas neural, mencakup adaptasi terhadap tantangan, pembentukan ingatan, dan pemulihan fungsi setelah cedera. Setiap orang mempunyai kapasitas neuroplastisitas yang berbeda. Salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan tersebut adalah konsistensi belajar.

Seseorang yang konsisten dalam belajar cenderung mempunyai daya ingat otak yang cukup kuat dan plastis, begitu pun sebaliknya. Konsistensi belajar sendiri sudah dijelaskan oleh Allah SWT dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah surat al-Mujadalah ayat 11. Ayat tersebut mengandung makna kontekstual mengenai anjuran belajar secara konsisten. Sehingga dengan adanya anjuran Al-Qur’an tersebut, maka secara tidak langsung dapat mempengaruhi kapasitas neuroplastisitas setiap manusia.

Penyunting: Bukhari

Muhammad Rifqi Al-Hanif
Mahasiswa jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir di STIQSI Lamongan bisa disapa lewat ig @hanief_hans