Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir HAMKA: Mungkinkah Lailatul Qadr Terjadi di Luar Ramadhan?

Lailatul Qadr

Setiap sepuluh terakhir Ramadhan, kita selalu berdebat dan bertanya tentang satu hal, kapan sejatinya lailatul qadr terjadi?

Ada beberapa riwayat mengenai ini. Pandangan pertama menyebut pada malam-malam terakhir Ramadhan, dimulai dari malam ke-21. Kemudian pendapat lain menyatakan pada tanggal 17 Ramadhan, yakni ketika diturunkannya Al-Qur’an. Bahkan yang paling keras dan cukup ekstrem, ada yang berpendapat bahwa lailatul qadr sejatinya hanya terjadi satu kali. Yakni saat Nabi Muhammad menerima Al-Quran di Gua Hira.

Padahal, menurut penulis, alangkah lebih baik jika kita melihat lailatul qadr dengan kacamata yang lebih luas dan menjadikannya sebagai sesuatu yang dekat dengan kita. Jangan menempatkannya sebagai hal yang jauh dan terkesan utopis untuk digapai.

Untuk itu, penulis kira menarik untuk melihat pandangan HAMKA tentang lailatul qadr. Pandangannya soal lailatul qadr menurut penulis membuat masyarakat optimis dan merasa dekat dengan malam kemuliaan tersebut. Hal itu misalnya dapat dilihat pada respon HAMKA terhadap cerita gurunya Engku Lebay.

Gurunya bercerita bahwa lailatul qadr adalah malam yang khusus dan hanya diperuntukkan kepada orang-orang khusus. Bahkan menurut gurunya tersebut, jika ada sepuluh orang yang berkumpul di surau pada suatu malam, maka boleh jadi yang mendapat hanya satu orang.

HAMKA menilai bahwa penggambaran Engku Lebay soal lailatul qadr tersebut tidak menarik. Bagaimana tidak, menurutnya, dari sepuluh yang berdiri untuk menanti malam lailatul qadr, hanya satu orang yang mendapat.

***

Pandangan umum yang kita anut ialah bahwa lailatul qadr hanya terjadi pada bulan Ramadhan. Ini pandangan yang sah. Sebab riwayatnya memang demikian. Namun adakah kita berpikir bahwa malam kemuliaan tersebut juga bisa terjadi di bulan-bulan lain di luar Ramadhan? Itulah yang ingin disampaikan HAMKA.

Baca Juga  Kiat Meneguhkan Hati dalam Al-Qur'an

Dalam buku Renungan Tasawuf, HAMKA mengemukakan bahwa lailatul qadr, selama ia dimaknai lebih luas, juga dapat terjadi di luar bulan Ramadhan. Pendapat HAMKA itu ia dasarkan pada penggambarannya tentang lailatul qadr. Ketua Umum MUI pertama tersebut menguraikan bahwa secara hakikat, yang dimaksud dengan lailatul qadr adalah malam yang dalam sekejab dapat mengubah seseorang secara dratis menjadi hamba yang taat dan dekat dengan Allah.

Penggambaran ini tentunya lazim kita dengarkan. Yakni, di antara tanda-tanda orang mendapatkan berkah lailatul qadr ialah menjadi semakin taat dan giat dalam beribadah.

Berangkat dari penggambaran itulah HAMKA beranggapan bahwa lailatul qadr bisa saja terjadi di luar bulan Ramadhan. Selama ia dimaknai sebagai malam yang dapat mengubah seseorang menjadi lebih saleh dan lebih dalam tingkat spriritualitasnya.

Agar pendapatnya tersebut lebih terang dan lebih jelas, HAMKA kemudian menambahkan dua kisah yang sangat masyhur dalam sejarah Islam. Yakni kisah Umar bin Khattab, khalifah kedua umat Islam, dan Fudhail bin Iyadh, ulama besar yang mantan perampok.

***

Sebagaimana jamak kita ketahui, Umar bin Khattab dulunya adalah seorang yang bengis, garang dan kuat perlawanannya terhadap agama Islam yang dibawa dan disebarkan oleh Nabi Muhammad.

Dalam riwayat diceritakan, bahwa suatu hari dengan nafas yang terengah, mata yang tajam, dan emosi yang meledak-ledak, Umar bin Khattab hendak datang ke Darul Arqam yang merupakan “laboratarium perkaderan” Nabi Muhammad bersama sahabat-sahabatnya.

Akan tetapi ketika akan menuju Darul Arqam, tidak disengaja, Umar bertemu dengan Nu’aim bin Abdullah. Nu’aim bertanya, “Hendak ke manakah engkau ya Umar?”.

Umar menjawab, “Hendak membunuh si murtad itu.”

“Si murtad yang mana?”, tanya Nu’aim kembali.

Baca Juga  Tadabbur Al-Quran: Mengapa Kita Perlu Bersyukur?

“Siapa lagi kalau bukan si murtad yang telah memecah belah kita, menghina berhala-berhala kita, dan menjelek-jelekkan nenek moyang serta keturunan kita.”, tegas Umar.

Melihat gaya Umar yang makin tak terkendali, Nu’aim kemudian mengatakan kepadanya, “Tidakkah engkau malu? Engkau ingin pergi membunuh Nabi Muhammad, sementara adikmu sendiri, Fatimah, sudah termasuk dari pengikut Nabi Muhammad.”

Mendengar hal ini emosi Umar makin menjadi. Bagaimana tidak, ia hendak membunuh seseorang, sementara adiknya sendiri menjadi pengikut atas orang tersebut. Akhirnya Umar membatalkan langkahnya ke Darul Arqam dan berbalik menuju rumah adiknya.

Di rumah tersebut berkumpul Fatimah, adik Umar, suaminya Sa’id bin Zaid dan seorang sahabat, Habab bin Arots. Mereka tengah mendaras Al-Quran. Umar kemudian mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalamnya. Dengan kondisi kaget, Fatimah langsung menyembunyikan suhuf-nya. Namun ternyata, suhuf tersebut menyembul sehingga terlihat oleh Umar.

“Apa itu di belakangmu?”, tanya Umar. “Suhuf”, jawab Fatimah.

“Apa itu suhuf?” “Lembaran Al-Quran.” Kemudian dibacakanlah isi lembaran tersebut, yakni surah Thaha ayat 1, 2, 14 dan 15. Seketika hati Umar terguncang dan bergetar cepat. Ia segera menyadari akan kebenaran isi Al-Quran dan bahkan berkata, “Tidak patut orang yang memiliki ajaran seperti ini dimusuhi.”  

***

Peristiwa tersebut menjadi titik balik Umar. Dari yang sebelumnya kuat perlawanannya terhadap Islam menjadi yang kuat pembelaan dan kecintaannya terhadap Islam. Bahkan ia menjadi sahabat terdekat Nabi dan menjadi salah satu di antara sahabat yang Allah menjamin surga atasnya.    

Begitupun dengan Fudhail bin Iyadh. Ia sebelumnya merupakan penjahat dan perampok di padang pasir. Hampir setiap orang yang lewat di area kekuasaannya diberhentikan dan dimintai harta. Siapa yang menolak akan bersiap menanggung akibatnya. Sampai pada suatu hari tiba satu rombongan yang hendak melewati kawasan tersebut.

Baca Juga  Etika Konsumsi Al-Qur’an: Tafsir Surah Al-A’raf ayat 31

Mereka sebenarnya sudah tahu bahwa di daerah itu ada banyak perampok, khususnya kroni-kroni Fudhail bin Iyadh. Hanya saja mereka tidak ada pilihan kecuali melewati jalan tersebut. Sebagai upaya melawan, mereka menyiapkan satu strategi, yakni memanah ke arah perampok-perampok tersebut bersembunyi.

Namun ada yang menambahkan, “Kalau boleh kita tidak hanya memanah. Melainkan bersama panahan tersebut kita bacakan ayat-ayat Al-Quran”. Al-Quran yang dibaca saat itu adalah surah Al-Hadid ayat 16.

Mendengar ayat tersebut, tubuh Fudhail bin Iyadh gemetar hebat. Ia merintih, berteriak dan hingga akhirnya jatuh pingsan. Ia menyebut dirinya telah terkena panah Allah. Peristiwa ini kemudian mengubah dirinya dan menjadi titik balik kehidupannya hingga kemudian menjadi ulama yang masyhur dan disegani keilmuannya.

***

Kisah kedua tokoh Islam tersebut, menurut HAMKA, merupakan bagian dari terjadinya lailatul qadr di luar bulan Ramadhan. Sebab malam itu telah mampu mengubah keduanya secara drastis. Dari yang dulunya terjerumus pada kemaksiatan, hingga menjadi tokoh Islam yang disegani dan diakui oleh seluruh dunia Islam.

Karena itu, dari penjelasan HAMKA tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa berburu lailatul qadr merupakan tugas sepanjang hidup. Carilah malam lailatul qadr versimu. Jika engkau menemukannya, maka engkau menjadi orang yang selamat, bertabur berkah dan makin dalam rasa kemanusiaannya.

Muhamad Bukhari Muslim
Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kabid RPK PC IMM Ciputat. Banyak menulis tentang tafsir, isu keislaman aktual dan pemikiran-pemikiran intelektual muslim kontemporer.