Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Feminis: Langkah Mencari Kesetaraan Gender

feminis
Sumber: www.hipwee.com

Berbicara tentang al-Qur’an, pasti perlu berbagai macam ilmu untuk mengkajinya. Ilmu tafsir adalah salah satunya. Kajian tentang isi Al-Qur’an sangat menarik jika dikaji lebih dalam. Seperti tentang masalah-masalah perempuan. Hal ini bisa sangat menarik karena al-Qur’an memiliki pembahasan tersendiri tentang perempuan.

Jika dilihat dari segi historisitas, dakwah Rasulullah SAW juga mengubah tatanan posisi perempuan pada masa jahiliyyah. Bisa diketahui bahwa perempuan pada masa jahiliyyah berada pada posisi rendah dan terabaikan, tetapi setelah diturunkannya al-Qur’an keadaan itu bisa berubah.

Tafsir Feminis

Seiring berkembangnya zaman, banyak pemikiran-pemikiran tafsir feminis. Mulai banyak tokoh-tokoh yang memikirkan lebih luas lagi tentang masalah-masalah kefeminismean. Jika dilihat lebih jauh, memang kebanyakan para mufassir adalah kaum laki-laki sehingga porsi dari segi perempuan kurang terperhatikan. Sehingga banyak pemikiran yang mengesampingkan peran perempuan.

Secara etimologi, feminism berasal dari kata latin yaitu femina yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi feminism, yang berarti memiki sifat sebagai perempuan. Kemudian ada tambahan ”isme” menjadi feminism, yang berarti hal ihwal perempuan, atau dapat pula berarti paham tentang perempuan. Jadi secara singkat tafsir feminis adalah sebuah tafsir yang memiliki tujuan untuk menempatkan posisi perempuan agar setara dengan kaum laki-laki baik dari sisi normative-idealis hingga dari sisi historis-empiris.

Ada sebuah pernyataan dari ‘Abduh yang mengkritik model penafsiran al-Qur’an para mufassir yang dianggapnya seringkali hanya berputar-putar pada sisi kebahasaannya saja. Bagi ‘Abduh hal ini adalah sesuatu yang jauh dari upaya menjadikan al-Qur’an sebagai kitab petunjuk yang menjadi tujuan utama dari adanya al-Qur’an. Dari sini ‘Abduh mengatakan bahwwa tujuan dari penafsiran al-Qur’an adalah untuk mendapatkan petunjuk darinya.

Baca Juga  Poligami Dalam Al-Quran dan Historis Nabi Muhammad

Menangkap Esensi Petunjuk Al-Qur’an

Menurut para feminis muslim, penafsiran perlu dilakukan agar dapat menangkap esensi dasar dari adanya penafsiran, seperti yang telah disampaikan oleh ‘Abduh yaitu sebagai petunjuk dari al-Qur’an tersebut. Dalam pandangan para feminis muslim, meski al-Qur’an mengajarkan tentang keadilan gender, namun hal ini rupanya tidak terlalu diperhatikan pada penafsiran klasik.  Kebanyakan penafsiran lebih membahas relasi antara laki-laki dan perempuan, tetapi lebih menguntungkan laki-laki atas perempuan.

Sebagai kitab suci dan petunjuk bagi manusia, tentunya al-Qur’an tidak hanya berlaku pada laki-laki saja atau perempuan saja. Walaupun tidak ditujukan untuk jenis kelamin tertentu, tetapi tidak bisa dipungkuri di sebagian ayat, al-Qur’an menggunakan diksi ataupun bahasa untuk laki-laki maupun perempuan. Amina Wadud mengatakan, Allah SWT terkadang berfirman dengan “suara laki-laki” dan terkadangan dengan “suara perempuan”. Namun walaupun menggunakan diksi yang seperti itu, Allah SWT tentunya adalah “mukholafau lilhawaditsi” yang berbeda dengan makhluknya dan jelas bukan laki-laki ataupun perempuan.

Untuk itu, petunjuk yang ada dalam al-Qur’an perlu terus ditafsirkan. Petunjuk itu didapatkan dengan tidak hanya mengandalkan pada sisi tekstual saja, melainkan juga harus mempertimbangkan sisi kontekstualnya, baik konteks ayat ataupun konteks disekeliling mufassir. Asbabun Nuzul dalam hal ini bukanlah menjadi sebuah latar belakang pewahyuan al-Qur’an, melainkan peristiwa yang memilki sifak ekstrahistoris sehingga bisa dikontekstualisasikan untuk tempat dan perioede yang berbeda.

Trend tafsir gender mulai dengan mengkaji problematika perempuan secara sosio kultural dan dikaitkan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan Hadits yang dalam pandangan mereka selalu mengesampingkan perempuan. Hal ini yang menyebabkan tokoh-tokoh feminis ingin merekonstruksi pandangan tersebut.

Penafsiran yang merendahkan posisi perempuan mendominasi opini dan keyakinan umat Islam di berbagai belahan bumi. Kemudian munculah gerakan feminism di barat yang ternyata membawa angin segar bagi para penafsir feminis untuk melakukan reinterpretasi makna perempuan.

Baca Juga  Spirit Kesetaraan dalam Islam: Al-Quran Menyapa Laki-Laki dan Perempuan

Para pejuang feminis di Indonesia muncul dari masa kolonialisme, di mana pada masa itu sudah terlihat jelas perlawanan kaum perempuan terhadap para penjajah. Sederet nama seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutia dan R.A Kartini yang mengerahkan seluruh tenaganya menghadapi para penjajah. Dan hingga saat ini mulai banyak para perempuna yang ikut ambil bagian dalam perpolitikan dan kepemimpiman.

Mufassir Feminis

Adapun tokoh-tokoh tafsir feminis di antaranya: pertama, Amina Wadud. Pemikiran feminism Wadud ini pada akhirnya memunculkan sebuah pernyataan bahwa perempuan adalah manusia yang utuh. Maka dari itu Wadud menolak wacana patriarki yang bertindak agresif terhadap wacana perempuan. Menurutnya, ketidakstabilan gender dalam masyarakat Islam lahir dari penafsiran yang didominasi oleh budaya patriarki, yaitu budaya yang mentolerir adanya penindasan terhadap perempuan. Dari situlah Wadud memunculkan gagasan Islam tanpa patriarki. Pemikirannya berfokus pada masalah eksistensi, hak-hak dan peran perempuan menurut al-Qur’an.

Kedua, Fatima Mernissi. Ia terkenal sangat hegemonis terhadap akar pemikirannya yang kritis,  banyak mengkritik hadits yang berkenaan dengan perempuan. Mernissi mencoba mengkaji ulang tentang kolaborasi ayat suci dan hadits, bahwasanya adanya kebebasan dan perbaikan pada posisi perempuan. Namun sejarah dan stigma yang telah berkembang menumbangkan potensi ini. Baginya, bukanlah teks agama yang menjadi sumber masalah, melainkan penafsirannya.

Singkat kata, para tokoh feminis dan pemikirannya lahir dari telaah yang dianggap kurang sesuai dari model masyarakat yang memilki hak yang sama. Al-Qur’an tentu adalah sumber petunjuk yang selalu relasional dengan segala zaman. Seperti yang dikatakan ‘Abduh bahwa banyak mufassir yang hanya berputar pada sisi kebahasaan saja, sehingga petunjuk yang diingankan belum terlalu dimunculkan dipermukaan.

Baca Juga  Kesetaraan Gender dalam Islam

Adanya pemikiran tafsir feminis di sini ingin memunculkan nilai-nilai bahwa al-Qur’an memberi hak yang sama terhadap perempuan. Munculnya kesalahan tentu bukan dari teks al-Qur’an, karena memang adalah kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya. Keresahan itu muncul karena adanya penafsiran yang berat sebelah dan tidak sesuai dengan esensi yang dimaksudkan.

Editor: An-Najmi Fikri R