Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Fatir Ayat 11: Bisakah Memperpanjang Umur Manusia?

Umur Manusia
Gambar: Dok. Penulis

Sebagai manusia, tentu tidak asing dengan kata-kata “bersedekah dan berbuat baiklah, maka akan semakin memperpanjang umur kita”. Sebagai umat muslim yang cerdas, kita tidak boleh langsung percaya hal itu. Sebab Al-Qur’an pun sudah mengatakan dengan jelas bahwa tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi. Ia sudah ditetapkan di Lauh al-Mahfudz.

Tidak dapat dipungkiri bahwa sering kali pendapat yang tidak jelas sering dijadikan patokan. Lalu bagaimana pendapat ulama atau mufasir atas permasalahan tersebut? Maka dari itu, agar pendapat tersebut tidak semakin melekat pada umat muslim, kita akan menganalisisnya dengan cara menggali pandangan para mufasir terkhusus dalam kitab Mafatih al-Gayb karya Fakhruddin ar-Razi.

Allah berfirman:

“Dan tidak dipanjangkan umur seseorang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh al-Mahfuzh). Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah.” (Fatir [35]: 11)

Surah Fatir ayat 11 bagian paling akhir menyebutkan bahwasanya umur manusia tidak bertambah dan juga tidak pula berkurang sesuai dengan apa yang tertulis dalam kitab. Potongan ayat di atas mengandung kontradiksi bila disandingkan dengan hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Bukhari. Hadis tersebut menjelaskan bahwa dengan menjaga silaturahmi rezeki kita akan ditambah dan umur kita akan diperpanjang.

Hadis kedua yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim juga menjadi rujukan dalam rangka memahami konsep kenisbian umur manusia. Sebagaimana telah diketahui bersama, rezeki dan usia seseorang telah ditentukan oleh Allah. Adanya hadis-hadis tentang “penambahan usia” atau “penundaan kematian” sangatlah bertentangan dengan apa yang ada dalam Al-Qur’an.

Sebenarnya antara ayat tersebut dan hadis-hadis di atas tidak ada perbedaan yang signifikan. Sebab, makna dari semua dalil tersebut masih bisa dipadukan. Merujuk pada dua hal tersebut, dapat kita ketahui bahwa pertentangan antara ayat dan kedua hadis diatas menimbulkan banyak pemaknaan tentang kenisbian umur manusia. Dengan demikian, kenisbian umur manusia dapat dipahami secara hakikat dan secara kiasan.

Baca Juga  Makna Qur'an yang Plural dan Kontradiktif

Pendapat Tafsir al-Razi soal Umur Manusia

Menurut al-Razi ayat ini menyatakan bahwa umur setiap individu telah ditentukan di dalam Lauh al-Mahfudz sebelum kelahirannya. Para ulama berpendapat beragam dalam menafsirkannya. Namun intinya adalah bahwa umur seseorang telah ditetapkan sejak awal dan tidak dapat ditambah atau dikurangi. Mereka mengatakan bahwa hidup seseorang akan mencapai umur yang telah ditetapkan baginya, dan semua itu ada di dalam kitab (Lauh al-Mahfudz) yang telah ditetapkan oleh Tuhan sebelumnya.

Imam al-Razi mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muhammad bin Saad, dari Ibnu Abbas, menjelaskan bahwa setiap orang memiliki umur yang telah ditentukan sejak awal. Tak ada yang diberi umur panjang atau pendek kecuali sesuai dengan ketetapan yang telah Tuhan atur sejak awal.

Hidup manusia akan mencapai umur yang telah ditentukan. Semuanya tertulis dalam kitab yang telah ditakdirkan sebelumnya oleh Tuhan. Oleh karena itu, tidak ada yang dapat menambah atau mengurangi dari apa yang telah ditetapkan.

Juga ada hadis lagi mengenai penafsiran ayat tersebut. Diriwayatkan dari al-Hussein, beliau berkata: Saya mendengar Abu Muadz berkata: Barang siapa yang dititipkan kepadanya umur yang panjang sampai tua menimpanya, atau hidup lebih pendek dari itu, maka setiap orang akan menunaikan waktu yang telah ditentukan baginya.

Lantas bagaimana pengertian hadis tentang sedekah dapat menambah umur?

Memahami Hadis tentang Diperpanjangnya Umar

Dalam kitab Sahih Muslim hadis No. 2557 terdapat hadis yang berbunyi:

“Dari Anas bin Malik berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang senang apabila dilapangkan rezekinya, atau dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali kekerabatan.”

Menurut Imam an-Nawawi dalam kitabnya yang berjudul Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa “penambahan umur” yang ada dalam hadis tersebut adalah sebuah kinayah atau bisa disebut kiasan. Arti sesungguhnya yaitu berkahnya usia seseorang.

Baca Juga  Tafsir Al-Hasyr 18: Anjuran Self Improvement

Ini artinya, melalui menjalin hubungan baik dengan orang lain, seseorang akan mendapatkan kemampuan untuk melakukan perbuatan baik dan diberikan kelancaran untuk menghadapi hidupnya dengan aktivitas yang bermanfaat di akhirat.

Sebagai hasilnya, dia dijaga dari menggunakan waktunya untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat. Silaturahmi menjadi pemicu bagi seseorang untuk mampu melakukan perbuatan baik dan untuk terhindar dari dosa. Dengan demikian, meskipun seseorang telah tiada, namanya tetap diingat dengan baik.

Beberapa hal yang diperoleh melalui bantuan dari Allah ini melalui kemampuan melakukan kebaikan adalah pengetahuan yang memberi manfaat setelah dia meninggal, amal jariyah, dan keturunan yang berbakti.

Jadi dapat disimpulkan, umur adalah sebuah keniscayaan yang tidak bisa ditunda ataupun dipercepat. Sebagai makhluk hidup sudah jauh-jauh hari sebelum kita lahir di dunia ini telah ditetapkan umur atau ajal kita masing-masing. Tidak akan bertambah ataupun berkurang dari takdir yang telah ditetapkan kepada kita.

Penyunting: Bukhari