Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Al-Maidah Ayat 2: Hukum Membuka Restoran di Siang Ramadhan

Restoran
Gambaran: https://prfmnews.pikiran-rakyat.com/

Menjadi perdebatan oleh para tokoh agama dan sosialis perihal hukum membuka restoran atau warung makanan di siang bulan Ramadhan. Transaksi jual beli makanan memang dibolehkan oleh agama. Mengacu pada Q.S Al-Baqarah ayat 275 bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Namun yang berpotensi salah adalah membuka restoran di siang bolong pada bulan Ramadhan. Diindikasikan kegiatan transaksi jual beli tersebut menganggu kekhusyu’an umat Muslim dalam ibadah puasa. Malah membantu bermaksiat dengan memberi akses umat Islam tidak berpuasa. Setidaknya orang yang niat berpuasa lantas goyah imannya melihat makanan terpampang di pinggir jalan.

Disisi lain para sosialis menyangkal hal tersebut. Mengapa hanya berpihak pada orang yang berpuasa sedang mengabaikan si penjual yang harus memberi nafkah keluarganya. Dengan menutup warung pada siang hari sama dengan mengurangi pendapatan semestinya atau malah tidak ada penghasilan. Soal goyah imannya itu urusan yang bersangkutan. Si penjual hanya mencari nafkah dan itu wajib hukumnya.

Seakan-akan terjadi kontardiksi hukum. Membantu kemaksiatan berupa membuka restoran adalah haram, sedangkan mencari nafkah untuk keluarga adalah suatu kewajiban. Lantas bagaimana hukum sebenarnya membuka restoran di siang Ramadhan? Bagaimana pandangan Al-Quran dan Hadis, dan pandangan para ulama.  

Tafsir Q.S Al-Maidah Ayat 2

Ayat yang relevan dalam mengangkat topik ini adalah potongan terahkir Q.S Al-Maidah ayat 2.

وَتَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوٰى‌ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوۡا عَلَى الۡاِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيۡدُ الۡعِقَابِ

“Dan tolong-menologlah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksanya.”

Ayat ini diturunkan pada masa Fathu Makkah sekitar tahun 8 hijriyah. Menurut Imam At-Thabari, sebenarnya ayat ini turun sebab para sahabat Nabi Saw. cemas akan perilaku orang-orang musyrik yang menghalangi umat Muslim ketika hendak melaksanakan umrah di Makkah. Sehingga memunculkan Perjanjian Hudaibiyah antara kaum muslimin dan musyrikin.

Baca Juga  Tafsir Al-Baqarah 261-263 dan Ali Imran 92: Mengenal Wakaf Produktif

Imam Jalalluddin Al-Mahalli menafsirkan ayat di atas bahwa seluruh umat Islam diperintah Allah untuk selalu saling tolong-menolong dalam kebaikan (sesuatu yang menjadi perintah Allah) dengan melakukan segala hal yang menjadi titah Allah kepada hambanya. Juga ketakwaan (sesuatu yang dilarang Allah), dengan meninggalkan semua perkara yang menjadi larangannya. Kemudian disusul dengan perintah agar tidak saling tolong-menolong dalam melakukan itsm (kemaksiatan) dan ‘udwan (permusuhan). (Jalalluddin Al-Mahalli, Tafsir Jalalain, hal. 135).

Sedangkan Imam Baidhawi dalam tafsirnya mengatakan maksud dari tolong-menolong dalam kebaikan adalah memaafkan, menundukkan pandangan dan hati, serta mengikuti perintah dan menjauhkan diri dari mengikuti hawa nafsu. Adapun maksud dari jangan tolong-menolong dalam kemaksiatan dan permusuhan adalah agar umat Islam mampu menjadi rekonsiliasi permasalahan dan kemaksiatan dengan meredam amarah dan kemungkaran. (Al-Baidhawi, Tafsir Baidhawi, juz 2 hal. 114).

Hampir seluruh ulama tafsir, menafsirkan ayat ini agar umat Islam mempertahankan kebaikan dengan mengerjakan amal saleh dan saling tolong-menolong berbuat kebajikan. Serta berusaha semaksimal mungkin agar memberantas kemungkaran dengan mengawali dari diri pribadi untuk menjauhi dari sesuatu yang dilarang Allah.

***

Korelasi ayat tersebut dengan permasalahan membuka restoran di siang hari pada bulan Ramadhan adalah membuka ruang bagi umat Muslim yang berpuasa supaya buka di siang bolong. Atau memberi kesempatan umat Islam yang tidak ada udzur syar’I untuk tidak berpuasa sejak awal.

Segala sesuatu yang melanggar perintah Allah adalah suatu kemaksiatan. Taat atas perintah kemaksiatan adalah haram, begitu juga membantu kemaksiatan. Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf juz 2 hal. 383 no. 3788 mengutip hadis Nabi Muhammad Saw:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada khalik (Allah). (H.R Ibnu Abi Syaibah)

Baca Juga  Ismail atau Ishak yang Disembelih? Begini Penjelasan Dosen Tafsir UIN Jakarta

Hukum Membuka Restoran di Siang Bulan Ramadhan

Melihat dari pendapat ulama fikih, Syekh Abi Bakr Syatho dalam kitabnya I’anah At-Thalibin mengatakan, “Penjelasan dari setiap tindakan yang berdampak pada maksiat, begitu juga haram menjual makanan bila diyakini atau menduga kuat ia akan memakanya di siang hari Ramadhan. (I’anah At-Thalibin, Juz 3 hal. 30).

Dalam hal ini perlu digarisbawahi. Bahwa pernyataan Abi Bakar Syatho menitik beratkan keharaman tersebut sebab terdapat unsur membantu kemaksiatan. Sehingga ketika aktivitas menjual makanan pada siang hari Ramadhan tidak mengarah pada hal demikian maka diperbolehkan.

Seperti niat ingin menjualnya kepada orang yang belum wajib puasa, sedang berhalangan (udzur) atau orang yang diberi keringanan tidak berpuasa semisal anak kecil, musafir, orang sakit atau niat menjualnya untuk orang yang hendak berbuka atau sahur, maka hal tersebut diperbolehkan oleh syariat.

Penegasan juga diberikan oleh Sekhh Ahmad Asy-Syaibani. Ia memberi arahan yang termaktub dalam kitabnya, “Hendaklah bagi orang tersebut untuk menahan diri agar tidak membuka restoran di siang Ramadhan apabila pembelinya akan tidak berpuasa sebab beli di tempat tersebut. Akan tetapi apabila warung tersebut menjual makanan yang membantu pembelinya untuk menyiapkan hidangan berbuka saat maghrib atau hidangan saat sahur maka tidak ada larangan syariat untuk membuka restoran tersebut. (Yas’alunaka fi Ad-Din wa al-Hayat, Juz 4 hal. 49).

Menjadi prinsip, sebagaimana penegasan dalam Q.S Al-Maidah ayat 2, selagi tidak ada unsur membantu kemungkaran dengan tidak puasanya seseorang, maka membuka restoran atau warung makanan di siang bulan Ramadhan diperbolehkan. Namun jika ragu memilah antara orang yang berpuasa atau tidak, juga berada pada mayoritas umat Muslim maka penjual bisa membukanya dengan jam tertentu.

Baca Juga  Ketidaksetaraan Gender dalam Shalat, Bagaimana Pandangan Islam?

Misalnya khusus pada bulan Ramadhan jam buka restoran 15.00 sampai waktu sahur. Dengan demikian jelas sudah hukum membuka restoran di siang Ramadhan. Jelasnya adalah kondisional melihat situasi dan kondisi. Pijakan utama adalah Q.S Al-maidah ayat 2, prinsipnya adalah keharaman memberi akses terhadap pelaku kemaksiatan. Wallahu A’lam

Penyunting: Bukhari