Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Al-Baqarah Ayat 221: Larangan Menikahi Perempuan Musyrik

Tafsir At-Tanwir
Sumber: Suara Muhammadiyah.com

221. Janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak  yang  mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.

Ayat ini merupakan bagian dari kelompok ayat yang memberikan tuntunan kepada manusia tentang pembinaan kehidupan keluarga dalam Islam. Pada ayat lalu, yaitu ayat 220, dijelaskan bagaimana memperlakukan anak-anak yatim  dengan  baik  yang  hidup dalam satu keluarga bersama pengasuhnya. Anak  yatim  tersebut  diperlakukan  sebagaimana anggota keluarga sendiri. Dalam  pandangan  umum  keluarga  merupakan unit terkecil dari masyarakat yang minimal terdiri dari suami dan istri. Pada ayat ini Allah memberikan tuntunan  bagaimana memilih pasangan, suami atau isteri yang menjadi cikal bakal dari sebuah keluarga.

Sebab Turun Ayat

Pemilihan  pasangan, suami atau isteri, merupakan suatu hal yang penting untuk menjadi bahan pertimbangan dalam membentuk rumah tangga, karena  kekuatan  bangunan  rumah  tangga  itu  sangat tergantung pada suami dan  istri  sebagai pilar utamanya. Pilar ini harus kuat agar bangunan rumah tangga tetap berdiri dengan kokoh dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Kekuatan itu, tidak terletak pada kecantikan dan ketampanan, karena keduanya akan pudar dimakan waktu dan juga bersifat relatif, bukan pula pada harta kekayaan, karena harta kekayaaan itu sangat mudah datang dan pergi, dan bukan pula karena kedudukan dan status sosial, karena ini juga akan berubah sejalan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat. Kekuatan pilar utama itu akan ditemukan pada kekuatan iman dan ketaatan dalam menjalankan tuntunan Allah. Oleh karena itu, tuntunan pertama dan  utama  yang  diberikan  oleh Allah kepada manusia untuk mendirikan rumah tangga adalah keimanan.

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 107: Milik Allah-lah Langit dan Bumi

Adapun  sebab  turun ayat 221 ini, menurut riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Mundzir, Ibnu Abi Hatim dan al-Wahidi yang bersumber dari al-Muqatil adalah  berkenaan dengan Ibnu Abi Mirtsad al-Ghanawi yang meminta izin kepada Rasulullah  saw  untuk  menikahi ‘Anāq, seorang  wanita Quraisy yang miskin tapi cantik, namun masih musyrik, sedangkan Ibnu Abi Mirtsad seorang Muslim. Lalu Allah  menurunkan ayat ini. (Ali Ibnu Ahmad al-Wāhidī al-Naysābūrī, Asbāb al-Nuzūl, (Kairo: Maktabah al-Manār, th.1388H/ 1968M), hlm. 39)

Kata al-musyrikāt (الْمُشْرِكَاتُ) yang berarti perempuan-perempuan musyrik dan kata al-musyrikīn (الْمُشْرِكِيْنَ) yang berarti laki-laki musyrik, merupakan bentuk jamak dari al-musyrik (الْمُشْرِكُ) yang berarti orang yang menyekutukan Allah dengan selain-Nya atau orang yang melakukan suatu kegiatan dengan tujuan utama ganda, kepada Allah dan kepada selain-Nya, misalnya  ahlul kitab. Dalam  Q.S. al-Taubah (9): 29-30 dijelaskan bahwa di antara  kelompok  ahlul kitab adalah  penganut  Yahudi  dan Nasrani. Orang-orang Yahudi  mempercayai bahwa Uzair adalah anak Allah, demikian juga orang-orang Nasrani yang mempercayai Isa al-Masih adalah anak Allah juga. Inilah yang menjadi  dasar  bagi  segolongan ulama untuk mengatakan bahwa yang dimaksud dengan  الْمُشْرِكَاتُ dan الْمُشْرِكِيْنَ dalam  ayat  ini mencakup Ahlul Kitab.

Perempuan Musyrik

Di  antara  alasan  para ulama yang mengelompokkan Yahudi dan Nasrani  sebagai  ahlul kitab yang melakukan perbuatan syirik adalah firman Allah dalam Q.S.al-Taubah (9):31, yang berbunyi سُبْحَانَهُ عَمَّا ُيُشْرِكُوْنَyang berarti  “Maha Suci Dia (Allah) dari apa yang mereka persekutukan”dan Q.S.al-Nisa’ (4):48, yang berbunyiإِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَآءُ yang berarti “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki”. Menurut  pendapat ini, kalau mereka bukan termasuk  orang  musyrik  tentulah Allah akan mengampuni mereka.  (Muhammad Rasyīd Ridhā, Tafsīr al-Manār, (Beirut; Dār al-Ma’rifah, th 1414H/1993M) jilid II, hlm. 348-349).  

Baca Juga  Tafsir Surah Al-Baqarah Ayat 28: Mati Lalu Hidup

Namun  demikian, sebagian  besar mufassir mempunyai  pandangan lain. Menurut  mereka  yang  dimaksud  dengan  musyrikat  dan musyrikin  adalah musyrikat  Arab  yang tidak mempunyai kitab, dan mereka adalah para penyembah  berhala, karena  inilah makna yang biasa dipakai oleh al-Qur’an untuk  pengertian  musyrik.  Dengan  demikian, orang  Yahudi  yang  mengatakan Uzair  anak  Allah  atau  orang  Nasrani  yang mengatakan  Isa  al-Masih  anak Allah dan mempercayai trinitas, yang  oleh  Islam  dinilai  telah  mempersekutukan Allah, namun   al-Qur’an  tidak  menyebut mereka sebagai orang musyrik, tetapi menyebut mereka sebagai ahlul kitab sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah Q.S.al-Baqarah (2):105,

مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلاَ الْمُشْرِكِيْنَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Orang-orang kafir dari ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya suatu kebaikan dari Tuhanmu.

dan firman Allah dalam Q.S. al-Bayyinah (98):1,

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ.

Orang-orang kafir dari golongan ahlul kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata. Bersambung

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah SM Edisi 19 Tahun 2017

Tanwir.id
Sebuah media Islam yang mempromosikan tafsir yang progresif dan kontekstual. Hadir sebagai respon atas maraknya tafsir-tafsir keagamaan yang kaku dan konservatif.