Tanwir.ID Kanal Tafsir Mencerahkan

Tafsir Al-Azhar, Mengenal Allah Dengan Memperhatikan Alam

alam
Sumber: freepik.com

Di dunia ini, kita sebagai manusia dan makhluk yang memiliki akal dan pemikiran yang begitu luas. Seperti halnya kita memikirkan bahwa alam semesta ini tidak akan bisa seperti yang kita rasakan pada saat ini jika tidak ada yang memimpin dan menciptakannya. Seperti halnya kita mengenal pohon yang selalu menggugurkan daunnya pada saat yang sudah ditentukan, seperti malam dan siang yang selalu berputar mengikuti waktu yang sudah ditetapkan. Meskipun kadang-kadang kita sebagai manusia tidak menyadari hal tersebut.

Untuk mengenal dan mempercayai bahwa Allah itu ada maka kita bisa melihat dan belajar dari alam semesta yang saat ini kita rasakan. Kita belajar dari langit yang begitu kokoh berdiri di atas kita tanpa adanya tiang-tiang yang menopangnya. Seperti langit yang selalu bertiup tanpa hentinya di setiap arah, dan juga air yang jatuh dari langit yang begitu banyak yang bisa menghidupkan kembali tanaman-tanaman yang mulanya sudah layu dan mati, sehingga menjadi segar dan indak sebagai sumber oksigen untuk makhluknya.

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati (kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti”.(QS. Al-Baqarah[2]: 164)

Maka ayat ini selain menanamkan rasa Tauhid, adalah pula menanamkan rasa cinta. Rasa cinta adalah lebih mendalam jika kita selalu suka menikmati keindahan alam sekeliling kita. Tuhan Allah bukanlah diakui oleh akal saja adanya, bahkan juga dirasakan dan diresapkan dalam batin, dalam kehalusan dan keindahan.

Baca Juga  Kemajuan Umat Islam Artificial Intelligence, Nyata Atau Wacana?

Alam Semesta Dalam Al-Quran

Jurnal yang ditulis oleh Ushuluddin yang berjudul “ Konsep Alam Semesta Menurut Al-Quran” telah memberikan kita semangat dan motivasi untuk mengenal allah lebih jauh. Sehingga sampai pada keridhaan yang di inginkan,.khusus para pemuda yang ingin mendekatkan diri dan istiqomah mencari dan menginginkan keridhaan allah SWT.

Penciptaan alam merupakan bukti kekuasaan dan kebesaran Allah Swt. Kenyataan tersebut membuktikan kemaha luasan ilmu Allah dibandingkan pengetahuan yang kita miliki. Tidak ada kesulitan bagi Allah untuk mencipta juga menghancurkan alam semesta ini. Ungkapan kesyukuran atas segala nikmat alam semesta ini dibuktikan dengan sikap bersahabat dengan alam yang lebih baik. Ayat-ayat kosmologis dalam al- Qur’an merupakan petanda lain dari fakta alam semesta. Keduanya saling menjelaskan satu sama lain. Makro-kosmos dan mikrokosmos merupakan bukti nyata akan belas kasih-Nya terhadap manusia di muka bumi.

Dia menciptakan langit dan bumi dengan(tujuan) yang benar; Dia menutupkan malamatas siang dan menutupkan siang atas malamdan menundukkan matahari dan bulan,masing-masing berjalan menurut waktu yangditentukan. ingatlah Dialah yang MahaPerkasa lagi Maha Pengampun”.(QS. Az-Zumar[39]: 5)

Menurut ayat di atas sudah tidak ada lagi keraguan yang harus kita miliki dengan Allah menciptakan alam semesta ini. Setiap yang diciptakan oleh allah itu semuanya memiliki tujuan dan fungsi masing-masing. Dan juga alam semesta ini diciptakan oleh allah agar kita bisa mengenal dan mengambil pelajaran dari setiap yang kita lihat atas semua kekuasaan Allah swt.

Alam semesta secara hakiki tidak lain adalah wujud “keesaan Allah” yang menunjuk pada ciptaan-ciptaanNya dan hukum-hukum Allah yang terpikirkan oleh manusia (sunnatullah) serta hukum-hukum Allah yang mutlak atau absolut sifatnya (takdir). Dengan kata lain, hakikat alam semesta ini ada yang tampak dalam pandangan mata, dan ada pula yang tidak tampak atau hanya terdapat dalam kerangka pikiran logis semata, atau bahkan tak terpikirkan sama sekali.

Baca Juga  Filsafat Bahasa: Memahami Fenomena Sakralitas dalam Kehidupan

Kepercayaan Kepada Allah

Buku yang ditulis oleh H. Bey Arifin yang berjudul “ Mengenal Tuhan” sangat memberikan dorongan kepada kita untuk mempercayai bahwa allah itu dekat dengan hambanya. Khususnya kita sebagai orang muslim dan juga sebagai hamba allah yang mana kala disaat ini kita masih banyak sekali yang menduakan allah dengan tandingan-tandingan yang tidak ada setaranya dengan-Nya.

Manusia berakal dan mempunyai kesanggupan mempergunakan akal atau pikirannya, akan takjub memperhatikan alangkah luasnya alam semesta. Bumi dengan segala isinya merupakan satu bola besar yang mempunyai keliling 40.000 km. Matahari yang besarnya 1.250.000 kali bumi, dikitari oleh berpuluh-puluh planet dan berjuta-juta bintang, berjalan dengan teratur di angkasa raya sehingga menyebabkan hidup dan kehidupan yang teratur pula pada segala makhluk yang hidup.

Itu adalah semua hal-hal besar yang tak dapat melintas begitu saja di hadapan akal dan pikiran manusia, sebagaimana melintasnya seekor nyamuk kecil di hadapan mata. Semua itu adalah masalah mahabesar yang menggerakkan alam pikiran manusia yang sanggup mempergunakan akal. Bila pemikiran demikian diteruskan, tidak dihentikan, tidak terhalang oleh berbagai rupa benda atau penghalang, pasti pemikiran demikian mendesak timbulnya pertanyaan: siapakah yang menciptakan itu semua? Siapakah yang mengatur itu semua? Tidaklah mungkin bila semua itu terjadi dengan sendirinya saja. Bumi, matahari akan teratur dengan sendirinya saja. Jangankan bumi dan matahari serta berjuta-juta bintang yang besar dan luas, sebiji pasir dan sehelai bulu hidung yang amat halus saja, tidak mungkin akan terjadi dengan sendirinya.

Editor: An-Najmi Fikri R

Fajar
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam Universitas Muhammadiyah Bengkulu